Vaksin Buatan India, Covaxin, Dinilai Sangat Berkhasiat
13 November 2021
Vaksin yang dikembangkan di India ini punya tingkat kemanjuran 78% setelah pemberian dua dosis selama sebulan, kata WHO. Namun ada sejumlah keterbatasan dalam risetnya.
Dalam uji coba tahap tiga, Covaxin menunjukkan keefektifan terhadap varian Delta dan pada kasus COVID-19 dengan gejala parahFoto: Debarchan Chatterjee/NurPhoto/picture alliance
Iklan
Vaksin Covid-19 yang dikembangkan di India, Covaxin, dinilai punya tingkat efikasi tinggi atau "sangat manjur" dan tidak menimbulkan masalah keamanan, menurut sebuah penelitian yang diterbitkan di jurnal ilmiah Lancet, Kamis (12/11).
Covaxin, yang dikembangkan oleh Bharat Biotech, memperoleh persetujuan darurat dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada minggu lalu dan telah diizinkan untuk digunakan di 17 negara.
WHO menyebut Covaxin sebagai vaksin COVID-19 yang "sangat cocok untuk negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah karena persyaratan penyimpanan yang mudah".
Beberapa vaksin lain yang telah disetujui PBB harus disimpan pada suhu yang sangat rendah dan menimbulkan masalah logistik dan biaya.
Covaxin "sangat manjur terhadap penyakit COVID-19 bergejala yang dikonfirmasi laboratorium pada orang dewasa," tulis laporan di Lancet. Vaksin ini juga "ditoleransi dengan baik tanpa menimbulkan keprihatinan akan masalah keamanan dalam analisis sementara ini," tambahnya.
Vaksin yang dikembangkan di India ini memiliki tingkat kemanjuran 78% setelah dua dosis selama sebulan, menurut WHO.
Ada keterbatasan dalam riset
Bersama dengan vaksin anti-Covid lainnya yang diproduksi oleh Pfizer/BioNTech, Moderna, AstraZeneca, Johnson&Johnson, Sinopharm, dan Sinovac, Covaxin telah masuk dalam daftar yang disetujui WHO.
Peluncuran Covaxin dapat "meningkatkan kapasitas produksi global yang terbatas, dan meningkatkan pasokan vaksin yang tidak mencukupi yang secara tidak proporsional mempengaruhi negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah", kata peneliti China Li Jingxin Li dan Zhu Fengcai, yang tidak ambil bagian dalam pembelajaran.
Vaksinasi COVID-19 Hingga ke Daerah Terpencil di Dunia
Tim medis menempuh perjalanan panjang dan sulit untuk memvaksinasi orang-orang di seluruh dunia. Pekerjaan itu membawa mereka melintasi pegunungan dan sungai, menaiki pesawat, perahu, bahkan juga berjalan kaki.
Foto: Tarso Sarraf/AFP
Mendaki gunung
Dibutuhkan fisik yang bugar bagi tenaga medis untuk memvaksinasi penduduk di daerah pegunungan di tenggara Turki. "Orang sering tinggal berdekatan dan infeksi bisa menyebar dengan cepat," kata Dr. Zeynep Eralp. Orang-orang di pegunungan tidak suka pergi ke rumah sakit, jadi "kita harus pergi ke mereka," tambahnya.
Foto: Bulent Kilic/AFP
Melintasi daerah bersalju
Banyak orang lanjut usia tidak dapat melakukan perjalanan ke pusat vaksinasi. Di Lembah Maira di Alpen Italia barat, dekat perbatasan dengan Prancis, dokter mendatangi rumah ke rumah untuk memberi suntikan COVID-19 kepada penduduk yang berusia lebih dari 80 tahun.
Foto: Marco Bertorello/AFP
Penerbangan ke daerah terpencil
Dengan membawa botol berisi beberapa dosis vaksin, perawat ini sedang dalam perjalanan ke Eagle, sebuah kota di Sungai Yukon di negara bagian Alaska, AS, daerah dengan penduduk kurang dari 100 orang. Masyarakat adat diprioritaskan dalam banyak program imunisasi.
Foto: Nathan Howard/REUTERS
Beberapa warga perlu diyakinkan
Setiap hari, Anselmo Tunubala keluar masuk pemukiman di pegunungan Kolombia barat daya untuk meyakinkan warga tentang pentingnya vaksinasi. Banyak warga meragukan vaksin dan cenderung mengandalkan pengobatan tradisional, serta bimbingan para pemuka agama.
Foto: Luis Robayo/AFP
Jalan kaki selama berjam-jam
Pria dan wanita dalam foto di atas berjalan hingga empat jam untuk mendapatkan suntikan vaksin COVID-19 di desa terpencil Nueva Colonia di Meksiko tengah. Mereka adalah penduduk asli Wixarika, atau lebih dikenal dengan nama Huichol.
Foto: Ulises Ruiz/AFP/Getty Images
Vaksinasi di sungai
Komunitas Nossa Senhora do Livramento di Rio Negro di Brasil hanya dapat dijangkau melalui sungai. "Cantik! Hampir tidak sakit," kata Olga Pimentel setelah disuntik vaksin. Dia tertawa dan berteriak "Viva o SUS!" - "panjang umur pelayanan kesehatan masyarakat Brasil!"
Foto: Michael Dantas/AFP
Hanya diterangi cahaya lilin
Presiden Brasil Jair Bolsonaro menentang vaksinasi COVID-19. Namun, di sisi lain kampanye itu telah berjalan. Penduduk asli keturunan budak Afrika, termasuk di antara yang kelompok pertama yang divaksinasi. Raimunda Nonata yang tinggal di daerah tanpa listrik, disuntik vaksin dibantu penerangan cahaya lilin.
Foto: Tarso Sarraf/AFP
Rela mendayung jauh
Setelah vaksinasi, seorang wanita tua dan putrinya mendayung menjauhi Bwama, pulau terbesar di Danau Bunyonyi di Uganda. Pemerintah negara Afrika tengah sedang mencoba untuk memasok daerah terpencil dengan vaksin COVID-19.
Foto: Patrick Onen/AP Photo/picture alliance
Medan yang berat
Perjalanan lain melintasi perairan tanpa perahu. Dalam perjalanan menuju desa Jari di Zimbabwe, tim medis harus melewati jalan yang tergenang air. Menurut badan kesehatan Uni Afrika, CDC Afrika, kurang dari 1% populasi di Zimbabwe telah divaksinasi penuh.
Foto: Tafadzwa Ufumeli/Getty Images
Dari rumah ke rumah
Banyak orang di Jepang tinggal di desa terpencil, seperti di Kitaaiki. Warga yang tidak bisa ke kota, dengan senang hati menyambut dokter dan tim medis di rumah mereka untuk mendapatkan suntikan vaksin COVID-19.
Foto: Kazuhiro Nogi/AFP
Barang yang sangat berharga
Indonesia meluncurkan kampanye vaksinasi pada Januari 2021. Di Banda Aceh, tim medis melakukan perjalanan menggunakan perahu ke pulau-pulau terpencil. Vaksin di dalam kotak pendingin merupakan barang yang sangat berharga sehingga perjalanan tim medis didampingi petugas keamanan.
Foto: Chaideer Mahyuddin/AFP
Tanpa masker dan tidak menjaga jarak
India menjadi negara terdampak parah pandemi COVID-19. Pada pertengahan Maret 2021, petugas medis mendatangi desa Bahakajari di Sungai Brahmaputra. Sekelompok wanita mendaftar untuk mendapatkan vaksin. Tidak ada yang memakai masker atau menjaga jarak aman. (ha/hp)
Foto: Anupam Nath/AP Photo/picture alliance
12 foto1 | 12
Meski dinilai efektif, mereka menyebutkan adanya keterbatasan dalam penelitian ini. Karena uji coba hanya dilakukan di India, kelompok studi yang diuji jadi kurang beragam secara etnis. Penelitian ini juga dilakukan antara November 2020 dan Januari 2021, sebelum varian Delta menyebar luas.
Terlepas dari tanggal uji coba, para peneliti yang terlibat dapat mengidentifikasi pasien mana yang terinfeksi varian Delta. Untuk sub-kelompok ini penelitian menemukan bahwa Covaxin masih memberikan perlindungan terhadap COVID-19, tetapi agak kurang efektif.
Iklan
Ajukan izin untuk vaksinasi anak-anak
Penggunaan Covaxin sejauh ini telah disetujui oleh 17 negara. Vietnam memperkirakan akan memiliki cukup dosis vaksin untuk seluruh populasinya pada akhir bulan ini setelah menyetujui Covaxin untuk penggunaan darurat, kata pejabat setempat. Selain Vietnam, Inggris juga akan menambahkan Covaxin dan Sinovac buatan Cina ke daftar vaksin yang disetujui.
Bharat Biotech mengatakan bahwa mereka tengah mempertimbangkan untuk meningkatkan produksi menjadi 23 juta dosis per bulan. Perusahaan ini, yang memproduksi Covaxin bersama perusahaan asal Amerika Serikat (AS) yakni Ocugen, juga berencana untuk mengajukan permintaan persetujuan untuk vaksinnya di AS.
Ocugen juga telah mengajukan permintaan agar vaksinnya dapat disuntikkan ke anak-anak berusia 2-18 tahun. Imunisasinya menggunakan teknologi virus yang tidak aktif, yang umum ditemukan pada vaksin anak-anak lainnya termasuk pada vaksinasi polio.
Permintaan persetujuan ini didasarkan pada hasil dari penelitian terhadap 526 anak-anak antara usia 2 dan 18 tahun yang menerima dua dosis Covaxin dengan selang waktu 28 hari. Hasil ini kemudian dibandingkan dengan kelompok 25.800 orang dewasa di India, dan menyatakan adanya "perlindungan serupa pada anak-anak usia 2-18 dengan yang ditunjukkan pada orang dewasa di atas 18 tahun," demikian pernyataan Ocugen.
Dalam uji klinis terhadap 526 anak, tidak ditemukan efek samping serius dan mesti menjalani rawat inap. Meski demikian ukuran sampel penelitian dianggap tidak cukup besar untuk mendeteksi kemungkinan munculnya efek samping yang jarang terjadi.