1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
PolitikUkraina

Kiev: Bagian Timur Tidak Terkontrol Lagi

1 Mei 2014

Dalam adu syaraf menyangkut pengamat OSCE yang disandera di Ukraina timur tidak ada kemajuan apapun. Pemerintah sementara di Kiev mengusir atase militer Rusia, karena dituduh melancarkan spionase.

ukraine separatisten Swjatogorsk barrikade
Foto: dpa

Kepala pemerintahan transisi terpaksa mengakui kemampuan militernya yang terbatas. Sementara itu, di bagian timur Ukraina lebih dari sepuluh kota berada di bawah kekuasaan milisi pro Rusia. Di Kiev militer sudah disiagakan. Presiden sementara Oleksandr Turchynov menyatakan secara terbuka, bahwa aparat keamanannya tidak mampu menghadapi kelompok separatis pro Rusia. Kiev sudah kehilangan sebagian wilayah negara yang dilanda krisis itu, terutama daerah Donetsk dan Luhansk.

"Atase militer Rusia diusir"

Menurut laporan kantor berita AFP, pemerintah Ukraina memerintahkan penangkapan atase militer Rusia. Ia dinyatakan sebagai 'persona non grata' dan dituduh melakukan spionase di Ukraina. Hal itu dinyatakan departemen luar negeri di Kiev dalam sebuah pernyataan pers, yang disebarluaskan media Ukraina. Atase militer, yang namanya tidak disebutkan, dinyatakan "tertangkap basah" melakukan kegiatan, yang "tidak sesuai dengan status diplomatnya." Demikian ditegaskan dalam pernyataan departemen luar negeri. Ia harus meninggalkan Ukraina secepat mungkin.

Foto: Reuters

Tuduhan spionase juga berkaitan dengan penyanderaan pengamat militer OSCE (Organisasi Keamanan dan Kerjasama Eropa) yang sudah ditahan sejak sepekan lalu oleh separatis pro Rusia di daerah Sloviansk. Rabu (30/04) pernyataan Presiden Rusia Vladimir Putin menimbulkan harapan bahwa mereka akan segera dibebaskan. Pemimpin milisi, Vyacheslav Ponomarev juga menyatakan, pengamat akan segera bebas. Tetapi pembicaraan terhambat, perinciannya tidak dijelaskan Ponomarev. Empat tentara Jerman dan seorang penerjemah dari Jerman termasuk pengamat OSCE yang disandera.

Lavrov juga tuntut pembicaraan

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengusulkan, pemerintah sementara Ukraina dan wakil kaum separatis harus mengadakan pembicaraan di bawah pengawasan OSCE. Terutama pembicaraan menyangkut masa depan daerah tenggara Ukraina yang menggunakan bahasa Rusia. Sebelumnya, Moskow lama tidak mengakui pemerintahan baru Ukraina, yang berkuasa setelah melakukan penggulingan kekuasaan. Namun demikian Lavrov juga mengatakan, "Orang-orang yang pro Rusia terus mendapat ancaman dari Kiev, bahwa militer Ukraina dan kendaraan lapis panser akan segera dikirim untuk menindak mereka." Itu dikatakan Lavrov dalam kunjungan di Chili. Ia menambahkan, "Kami menuntut pembebasan para pengamat OSCE, tetapi kami tidak bisa memutuskan langkah yang akan diambil milisi itu."

Foto: Reuters

Sementara itu, Kanselir Jerman Angela Merkel kembali menyatakan tidak akan mendukung intervensi militer Barat di Ukraina. Pelajaran dari dua perang dunia tidak boleh dilupakan, kata Merkel Rabu (30/04) dalam sebuah acara di Frankfurt. Ia menekankan, "Saya akan terus mengusahakan kemitraan baik dengan Rusia".

Kini pemeringah di Kiev yang pro Barat akan mengadakan referendum di Kiev tentang masa depan Ukraina. Tanggal 25 Mei juga akan diadakan jajak pendapat, di samping pemilihan presiden. Pertanyaan utama adalah, apakah negara itu tetap harus dipertahankan sebagai satu kesatuan. Demikian dikatakan PM Arseniy Yatsenyuk. Aktifis pro Rusia di Ukraina timur dan selatan juga merencanakan referendum tanggal 11 Mei mengenai pemisahan diri dari Kiev.

ml/rn (afpe, APE, rtr, dpa)

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait