1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
SosialIndonesia

Dari Pipa Cangklong Hingga Surat: Anak Eksil Menjaga Ingatan

25 September 2026

Menyimpan kenangan akan ayah, Annie seperti merangkai potongan-potongan puzzle riwayat ayahnya yang dhdup mengembara sebagai eksil, hingga di persemayamannya terakhir di Belanda.

Ayah Annie suka mengisap pipa
Pipa cangklong sang ayahFoto: Ayu Purwaningsih/DW

Perjumpaan pertama Deutsche Welle dengan Annie terjadi di sebuah pameran besar tentang Tragedi 1965 di Amsterdam pada musim gugur 2025.

Di setiap seminar yang dihadirinya, perempuan blaster Indonesia-Albania ini tampak menyimak diskusi-diskusi dengan saksama. Sesekali tangannya bergerak mencatat hal-hal yang dianggapnya penting, seolah berusaha merawat setiap potongan kisah yang mengemuka dalam podium.

Musim panas 2026 menjadi penanda yang berbeda. Dalam sebuah diskusi bertema eksil 1965, Annie sendiri yang akhirnya memberanikan diri tampil di podium kecil, berbicara di hadapan orang-orang yang dirasa memberinya rasa aman.

Dengan suara pelan, ia mengisahkan pengalamannya sebagai anak eksil—sebuah kisah yang pelan-pelan menemukan jalannya untuk diucapkan. Banyak hal yang masih ia tak mau kemukakan.

Dua hari kemudian setelah ia tampil, Dengan kimono birunya, Annie menyambut DW di rumahnya, di bulan Juni 2026 di Amsterdam. Sebuah rumah yang hangat, dipenuhi  lemari-lemari besar padat buku dan mebel-mebel bergaya vintage yang menyimpan jejak waktu.

Anak sulungnya yang sudah duduk di Sekolah Dasar sedang di sekolah. Sementara putri bungsunya yang masih balita dan imut-imut dengan malu-malu menawarkan potongan-potongan cokelat dari atas meja kayu di ruang tamu.

Tak lama kemudian, gadis cilik ini mulai lebih ceria dan mengajak DW bermain boneka, sementara ibunya menyiapkan minuman hangat di dapur. Si kecil mulai larut dalam gelak canda dengan DW yang menanti ibunya mempersiapkan mental untuk bercerita.  Annie menamai putri kesayangannya dengan nama  perempuan Sulawesi yang cukup unik.

Sambal adalahs alah satu ciri khas makanan Indonesia yang disukai sang ayahFoto: Ayu Purwaningsih/DW

Perjalanan panjang yang tak pernah pulang

Setelah dua cangkir kopi tersaji, Annie mulai berkisah. Dari nada suaranya yang pelan, tampak ada keraguan untuk membuka lembar-lembar masa lalu. Ia bahkan tak ingin agar nama keluarganya disebut, seolah menandakan trauma yang masih  melekat di relung hatinya.

"Ayah saya dulu kuliah di Cekoslowakia. Ketika terjadi peristiwa G/30/S, beliau tidak bisa pulang ke Indonesia. Ia kemudian melarikan diri ke Albania dan hidup di sana. Di Albania, ayah bertemu ibu saya, lalu mereka menikah. Tetapi situasi di Albania juga tidak benar-benar aman. Pada tahun 1988, ayah memutuskan pindah ke Belanda karena merasa di sanalah mungkin kami bisa hidup dengan lebih tenang," tutur Annie.

Sang ayah berangkat lebih dahulu ke Belanda, meninggalkan istri dan anak-anaknya, guna mempersiapkan kehidupan baru bagi keluarga. Setahun kemudian, istrinya,, menyusul bersama anak-anak mereka. Saat itu Annie masih balita.

"Saya belum mengerti apa-apa. Saya tidak tahu mengapa kami pindah ke Belanda, bukan ke Indonesia, tanah air ayah."

Barulah setelah dewasa Annie memahami alasan di balik perpindahan itu. Ayahnya tidak dapat kembali ke Indonesia karena dicap sebagai komunis. "Dari situ saya baru tahu bahwa ayah saya seorang eksil dan tidak bisa pulang ke Indonesia."

Belanda kemudian menjadi tempat mereka membangun kehidupan baru. Namun ternyata hidup di negeri kincir angin ini juga tidak mudah. ”Ayah saya menempuh pendidikan kedokteran dan bekerja sebagai dokter bedah selama 20 tahun di Eropa Timur. Saat tiba di Belanda, beliau melamar pekerjaan di berbagai rumah sakit di seluruh negeri, namun tidak ada satu pun yang menerimanya. Pemerintah saat itu memperlakukannya sebagai warga negara kelas dua.”

Rasa ingin tahu Annie terhadap masa lalu ayahnya perlahan tumbuh semakin kuat. Sebagai seorang pembuat film, ia mulai merekam cerita-cerita yang selama ini hanya hidup dalam ingatan keluarga. "Kebetulan saya adalah periset film-film dokumenter. Jadi saya mulai mendokumentasikan kisah dan kehidupan ayah."

Pipa cangklong penanda rindu

Pada tahun  2018, dengan visa turis, Annie akhirnya dapat menemani sang ayah kembali mengunjungi kampung halamannya di Indonesia. Perjalanan itu menjadi kepulangan pertama setelah puluhan tahun hidup di pengasingan.

"Ayah selalu merindukan kampung halamannya. Tetapi stigma sebagai komunis membuatnya sangat sulit kembali ke Indonesia. Ia juga khawatir keselamatan keluarganya yang masih tinggal di sana."

Kepulangan itu menjadi momen yang mengharukan, bukan hanya bagi sang ayah, tetapi juga bagi Annie. Untuk pertama kalinya ia berjumpa dengan keluarga besar dari pihak ayah.

"Ayah selalu mengingat dan mencintai kampungnya. Di sana ada kebun-kebun cengkeh dan keluarga yang hangat." Kenangan itu rupanya melekat dalam keseharian sang ayah. Annie menunjuk sebuah pipa cangklong yang masih disimpannya.

"Ayah biasa merokok kretek dengan pipa ini. Setiap kali merokok, ia selalu mengenang kampung halamannya yang penuh kebun cengkeh."

Namun waktu tidak memberi mereka banyak kesempatan. "Ayah meninggal terlalu cepat. Saya masih merasa belum sempat menggali lebih banyak tentang perjalanan hidupnya."

Annie mengajak DW mengunjungi makam ayahnya yang hanya berjarak sekitar sepuluh menit berkendara dari rumahnya. Di antara batu-batu nisan yang sunyi, ia bercerita bahwa kepergian sang ayah pada tahun 2024 justru menjadi titik balik dalam hidupnya. Duka tidak membuatnya berhenti mengenang, tetapi mendorongnya untuk menelusuri jejak-jejak yang pernah ditempuh ayahnya sebagai seorang eksil. Kala itu usia Annie sendiri hampir 40 tahun.

Makam sang ayah terletak di pinggiran AmsterdamFoto: Ayu Purwaningsih/DW

Kenangan, cinta dan trauma

Annie menyimpan rapi surat-surat lama orang tuanya. Sampul-sampul surat itu tak tampak kusam meski dimakan usia. Tulisan tangan ayah dan ibunya masih terbaca jelas. Surat-surat itu berasal dari masa ketika kedua orang tuanya terpisah selama setahun sebelum akhirnya kembali berkumpul di Belanda.

"Dari korespondensi orang tua saya saat mereka terpisah selama setahun, saya mulai meriset kehidupan sebagai eksil," ujar Annie sembari membolak-balik lembaran surat yang disimpannya dengan hati-hati.

Satu per satu, surat, foto keluarga, hingga barang-barang peninggalan ayahnya menjadi pintu masuk untuk memahami masa lalu yang selama bertahun-tahun hanya hadir sebagai potongan-potongan cerita.

"Melalui surat-surat lama, foto, dan barang-barang peninggalan orang tua, saya mencoba merangkai kembali kisah yang lama terpendam."

Pencarian itu kemudian membawanya menelusuri berbagai arsip dan dokumen sejarah tentang tragedi 1965. Semakin jauh ia membaca, semakin ia menyadari bahwa kisah keluarganya hanyalah sepotong dari luka yang jauh lebih besar.

"Jutaan orang menjadi korban tragedi 1965. Ada yang dibunuh, dipenjara, diperkosa, dan direnggut martabatnya. Itu menunjukkan betapa kuatnya propaganda Orde Baru bekerja. Para eksil dan keluarganya tidak merasa aman untuk menunjukkan jati diri mereka ketika berbicara tentang 1965. Banyak keluarga memilih diam karena takut."

Annie percaya, ketakutan itulah yang membuat begitu banyak kisah keluarga eksil hilang dari ingatan publik. Namun rasa takut itu menurutnya sangat bisa dipahami, akrean besarnya kekuatan trauma dan propaganda.  Karena itu, ia merasa memiliki tanggung jawab untuk menjaga cerita ayahnya tetap hidup. "Meski tersakiti, terbuang, terpinggirkan, cinta dan kerinduan ayah kepada Indonesia tak pernah pudar," tuturnya lirih.

Kalimat itu bukan sekadar kenangan tentang ayahnya. Dengan meneliti sejarah para eksil Indonesia, Annie seolah meneruskan kerinduan yang tak sempat dituntaskan oleh ayahnya sendiri. Lewat riset, film, dan ruang-ruang diskusi, ia berusaha merawat ingatan tentang keluarga dan pengalaman para eksil agar tidak hilang bersama generasi mereka."Saya ingin generasi muda Indonesia tidak melupakan sejarah," pungkas Annie.

Ia memainkan pipa cangklong dengan jari jemarinya.”Dulu ayah merindukan arome kebun cengkeh di kampungnya saat mengisap pipa cangklong ini. Melihat peninggalannya ini, kini saya merindukannya,” pungkasnya.

Editor: Yuniman Farid

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait

Topik terkait