1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
KonflikEropa

Kisah Desertir Rusia Tolak Perang di Ukraina

Natalia Smolentceva
29 September 2023

Sebagian desertir asal Rusia berusaha berlindung di luar negeri, meski tidak berpaspor dan dianggap buron internasional. Tiga di antaranya berhasil menetap di Jerman secara legal dan mengundang desertir lain untuk datang

Desertir Rusia
Desertir Rusia Foto: N. Smolentzewa/DW

Ketika keriuhan perayaan Festival Oktober sedang menggema di Kota München, Vasili mencari keheningan di sebuah taman di pinggiran kota. Dia sudah berada di Jerman sejak hampir satu bulan. Di kampung halamannya di Rusia, dia terancam pidana 15 tahun penjara karena menolak berperang di Ukraina.

Vasili sedianya ditugaskan di batalyon artileri setelah menamatkan pendidikan di akademi militer. Sejak lama dia sudah merasa tidak betah karena kecewa terhadap laku para perwira tinggi. Ketika Rusia melancarkan invasi di Ukraina, dia mendapat perintah untuk ikut maju ke medan perang.

"Mereka perintahkan saya untuk bersiap karena kami kehabisan serdadu di lapangan," katanya kepada DW. "Saya berlatar belakang Ukraina," jawabnya kepada sang atasan, "ayah saya adalah seorang Ukraina, saya tidak akan memerangi bangsa saya sendiri."

Meski berulangkali diancam, Vasili bersikeras untuk tidak berperang. "Tapi hingga kini, status kepegawaiannya belum dicoret", tuturnya. Sejak Presiden Vladimir Putin mengumumkan mobilisasi parsial pada 21 September 2022, permohonan pengunduran diri dari militer menjadi kian sulit dikabulkan. Hukuman bagi mereka yang melakukan desersi pun ditambah dari sepuluh menjadi 15 tahun penjara.

"Tidak ada jalan lain," kata dia, selain melarikan diri ke luar negeri.

Pelarian ratusan desertir Rusia

Menurut organisasi HAM, "Go by the Forest," yang membantu warga Rusia menghindari wajib militer, sebanyak lebih dari 500 desertir lari ke luar negeri setelah pengumuman mobilisasi militer. Jumlah tersebut hanya mencakup yang meminta bantuan kepada mereka. Angka sesungguhnya ditaksir jauh lebih tinggi.

Kebanyakan berusaha mencari perlindungan di Kazakhstan atau Armenia. Termasuk Viktor yang sudah sempat terlibat dalam perang di Ukraina. "Mereka tidak bilang ke mana kami pergi," kisahnya mengenang masa awal invasi. "Pada saat itu, mustahil untuk menolak perang. Kalau kami lari ke depan, serdadu Ukraina akan menembak. Kalau lari ke belakang, kami ditangkap tentara sendiri," kisahnya.

"Saya melihat tawanan yang dieksekusi mati," lanjutnya. Ketika tentara Rusia melakukan pembantaian warga sipil di Bucha pada April 2022 silam, "saya banyak berpikir ulang," kata dia.

Pun Yevgeny memutuskan untuk menjadi desertir. "Bagi kami semuanya menyedihkan," kata mantan anggota pasukan elit itu. "Pada 30 Maret, hampir satu kompi tewas," kata dia lebih lanjut. "Kami berpikir, Putin adalah seorang pembunuh dan pencuri, tapi bukan sosok yang akan memulai perang. Kami ternyata salah."

Dia mengaku tidak takut didakwa kejahatan perang. "Saya siap bertanggung jawab di depan pengadilan. Perasaan saya jernih. Ya, saya berperang dan membunuh, tapi musuh juga menembak dan saya ingin hidup," tukasnya.

Jalur legal mencari suaka

Bagi sebagian yang bersembunyi di Kazakhstan, situasi bisa berubah setiap saat jika otoritas lokal mendeportasi para desertir kembali ke Rusia. "Bagi saya cuma ada tiga kemungkinan, Prancis, Jerman atau AS. Hanya tiga negara ini yang mengeluarkan dokumen perjalanan. Karena kami kan tidak punya paspor," kata Viktor.

Mereka termasuk kelompok desertir Rusia pertama yang berhasil keluar dari Kazakhstan dan menetap di Eropa tanpa paspor. Pria yang saat ini sudah bekerja sebagai pemrogram di sebuah perusaahaan IT Jerman itu mengaku, perjalanannya bukan tanpa hambatan.

"Dalam percobaan pertama, saya diturunkan paksa dari pesawat terbang, karena identitas saya masuk dalam daftar buronan internasional", kisah Vasili. Baru setelah dibantu pengacara lokal, dia diizinkan meninggalkan Kazakhstan. "Hal ini membuktikan bahwa ada cara untuk keluar," kata dia.

Pelariannya terutama dimungkinkan oleh surat perjalanan laksana paspor yang dikeluarkan kedutaan besar Jerman bagi warga negara asing. Di Jerman, Vasili kini membantu mengembangkan sebuah permainan komputer. Dia nekat bercerita meski harus menanggung risiko keamanan bagi keluarganya. Dengan begitu, dia berharap desertir lain bisa melihat adanya harapan keluar dari medan perang.

"Saya katakan kepada semua desertir, semua yang berada di medan perang dan kebingungan: semuanya mungkin. Kalian tidak harus berperang dan bertindak melawan nurani sendiri. Kalian bisa menolak ikut serta dalam kejahatan ini," timpalnya.

Disadur dari bahasa Rusia oleh Markian Ostaptschuk

rzn/as

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait