1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Bencana

Kisah Kru KM Sabuk Nusantara Saat Dihantam Tsunami

4 Oktober 2018

KM Sabuk Nusantara 39 hingga kini masih bernaung di atas pelabuhan Pantoloan di Wani, Palu, usai dihempas gelombang tsunami. Kru yang bertugas mengisahkan pengalaman mereka menjadi saksi hidup fenomena alam tersebut.

Kondisi pelabuhan Pantoloan di Wani, Palu, Sulawesi Tengah, pasca bencana gempa bumi dan tsunami
Kondisi pelabuhan Pantoloan di Wani, Palu, Sulawesi Tengah, pasca bencana gempa bumi dan tsunamiFoto: Reuters/D. Whiteside

Charles Marlan merasakan sensasi aneh, seakan kapal yang dia tumpangi sedang terseret kembali ke arah laut, saat sedang berlabuh di Wani, di timur Palu. Ia tidak menyangka perasaan tersebut adalah peringatan terakhir kemunculan gelombang tsunami.

"Sekujur kapal bergetar," kata pria yang bekerja sebagai tenaga mekanik untuk KM Sabuk Nusantara 39 itu. "Semua benda di lemari mulai berjatuhan," imbuhnya.

Baca Juga: Balaroa dan Petobo Terancam Jadi Kuburan Massal

Kapal penumpang dan kargo sepanjang 60 meter dan bobot 500 ton itu ikut terhempas oleh ombak raksasa ke daratan dan mendarat di antara rumah penduduk. Di sanalah kapal itu bernaung hingga kini.

Marlan dan pekerja kapal yang lain tahu nasib sedang berubah arah ketika air mulai surut dan menyeret kapal ke arah laut. Beruntung para anak buah kapal berpikir cepat dan melengkapi diri dengan jaket pelampung sebelum ombak setinggi lima meter menghantam badan kapal.

"Saya bisa mendengar ombak datang," kisahnya. "Ombak membawa kami sangat cepat dan sebelum bisa apa-apa, kami sudah berada di atas daratan." Tidak seorangpun penumpang atau pegawai KM Sabuk Nusantara 39 yang mengalami luka-luka.

Kini Marlan dan 20 ABK yang lain terdampar di Palu, sembari menunggu instruksi dari kantor pusat PT. Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI) di Jakarta. Mereka bertahan hidup dari bantuan kemanusiaan dan tak jarang, ikut bercengkrama dengan pemuda lokal yang naik ke atas kapal.

Baca Juga: Ahli Geofisika Jerman: "Sistem Peringatan Dini Tsunami di Indonesia Berfungsi dan Sudah Digunakan"

Marlan bersyukur kapalnya tidak menyebabkan korban jiwa ketika terseret ke daratan. "Yang penting kami hidup. Itu saja sudah syukur."

Lantaran tidak banyak mengalami kerusakan, pelabuhan Pantoloan di Wani kini menjadi tumpuan utama pengiriman bantuan kemanusiaan dan alat berat lewat jalur air. Kran barang yang bisa mempercepat pemindahan barang memang rusak berat, namun Kementerian Perhubungan meyakini pelabuhan masih bisa digunakan untuk mengangkut penumpang atau memindahkan alat berat.

rzn/hp (rtr,afp)