Jurnalisme semakin menjadi "misi bunuh diri" dengan koresponden asing yang meliput di tempat seperti Suriah dan Yaman menjadi korban faksi-faksi yang bertikai. Simak cerita jurnalis Jerman dan aktivis Suriah.
Kadang pekerjaannya bisa menjadi berbahaya. Husam, pria Suriah, yang menggunakan nama akun "aktivis Suriah melawan rezim brutal Assad & ISIS" di Facebook dan Twitter, telah mengunggah video dari Idlib di media sosial selama beberapa tahun.
Hal ini telah membuatnya menjadi target. Pada 2015, ia diculik oleh Jabhat al-Nusra, cabang al-Qaeda di Suriah, yang memisahkan diri dari jaringan teror tersebut pada 2016. Mereka menahannya selama 25 hari, katanya kepada DW melalui WhatsApp, "atas tuduhan berkomunikasi dengan intelijen Inggris."
Akhirnya, mereka membiarkannya pergi. Yang lainnya kurang beruntung: Siapa pun yang melaporkan berita dari Suriah telah lama menjadi target potensial dari faksi-faksi yang bertikai dalam konflik yang berlarut-larut selama tujuh tahun itu. Jurnalis independen diculik dan dibunuh. Sedikit yang dibebaskan. Warga Amerika Serikat James Foley dan Steven Sotloff serta Kenji Goto dari Jepang mungkin adalah kasus yang paling terkenal dari banyaknya wartawan asing yang diculik di Suriah dan kemudian dibunuh secara brutal. Mereka bertiga dipenggal, video dari siksaan mengerikan yang mereka alami diunggah di Youtube dan Twitter oleh ISIS.
Untuk kelompok ekstremis, eksekusi ini adalah propaganda berdarah. Sementara bagi yang lain, penculikan adalah bisnis yang menggiurkan, yang menjanjikan uang tebusan dalam jumlah besar.
Setelah lima bulan dilanda perang, kota Marawi kini tinggal puing dan reruntuhan. Filipina menghadapi jalan panjang menuju pembangunan kembali. Namun tugas terbesar adalah meredam geliat terorisme yang tak kunjung padam.
Foto: picture-alliance/ZUMAPRESS.com
Ladang Pembantaian
Ketika senjata berhenti menyalak dan tank-tank militer mulai kembali ke barak, Marawi perlahan mati dalam diam. Selama lima bulan kota berpenduduk 200.000 jiwa itu berada dalam cengkraman kelompok Islamic State. Sudut kota yang tadinya ramai manusia, kini menjelma menjadi ladang pembantaian.
Foto: picture-alliance/AA/J.Maitem
Lumpuh dan Sekarat
Lebih dari 1000 kombatan, termasuk jihadis asing, melepas nyawa untuk Marawi. Sekitar 600.000 penduduk yang hidup di dalam dan luar kota terpaksa mengungsi. Infrastruktur vital seperti pembangkit listrik atau rumah sakit sejak lama berhenti beroperasi.
Foto: Reuters/R. Ranoco
Serdadu di Garda Depan
Pemerintah Filipina memperkirakan pembangunan kembali kota Marawi akan menelan biaya hingga 1,1 miliar Dollar AS. Militer, polisi dan pemadam kebakaran bahu membahu membangun kota dan desa-desa yang luluh lantak oleh perang. Fokus terbesar saat ini adalah membersihkan semua kawasan dari ranjau warisan peperangan.
Foto: Reuters/R. Ranoco
Bantuan Pertama
Setelah pemerintah di Manila mendeklarasikan kemenangan atas ISIS pada Senin (24/10), penduduk perlahan mulai kembali ke Marawi buat menata kembali kehidupan di antara reruntuhan perang. Presiden Rodrigo Duterte menerbitkan perintah presiden buat membentuk satuan tugas pembangunan kembali Marawi dengan anggaran sebesar 20 miliar Peso atau sekitar 5,2 triliun Rupiah.
Foto: Reuters/R. Ranoco
Monumen Kehancuran
Arsitek Filipina, Felino Palafox Jr., yang ikut membantu pembangunan kembali mengusulkan agar puing-puing kota dijadikan monumen untuk mengingat bagaimana sebuah kota bisa jatuh ke tangan teroris. "Agar bisa menjadi pelajaran bagi generasi mendatang," katanya.
Foto: Reuters/R. Ranoco
Meredam Terorisme
Namun begitu pembangunan fisik bukan tantangan terbesar pemerintah Filipina. Pengamat keamanan mengkhawatirkan kelahiran generasi baru jihadis yang lebih terlatih dan tanpa ampun setelah melihat dan mengalami kekalahan di Marawi. Meredam geliat teror hingga ke akarnya dianggap "tugas terbesar yang dihadapi pemerintah," kata politisi Filipina, Macabangkit Lanto.
Foto: picture-alliance/ZUMAPRESS.com
6 foto1 | 6
Tak satu pun dari faksi yang bertikai tertarik pada jurnalisme independen, yang mengungkapkan kebohongan dan mempertanyakan propaganda mereka.
Para wartawan Suriah juga menjadi sasaran, tetapi kematian mereka nyaris tidak terdengar di Barat. Pada 2017 saja, sembilan wartawan Suriah tewas dalam perang, menurut Komite Perlindungan Jurnalis (Committee to Protect Journalist). Pada 2018, sejauh ini empat telah meninggal.
'Misi bunuh diri'
Meliput di Suriah adalah "misi bunuh diri," kata Martin Durm kepada DW. Jurnalis Jerman itu pernah mengalaminya sendiri. Pada awal 2012, ketika wartawan asing masih dapat melakukan perjalanan ke Suriah, Durm diserang ketika meliput di Aleppo dengan seorang rekan. Kantornya menyebut hal itu sebagai serangan "yang sudah ditargetkan".
Hari ini, perjalanan seperti itu hampir tidak mungkin, kecuali ke wilayah Kurdi dan wilayah yang dikendalikan oleh rezim Assad.
Kunjungan terakhir Durm ke Suriah adalah pada 2015. Sejak saat itu, rezim secara rutin mengabaikan atau menolak permohonan visanya. Seperti banyak wartawan lainnya, ia terpaksa meliput di suatu wilayah, yang tidak dapat mereka akses lagi kecuali mereka melakukan perjalanan bersama dengan militer Rusia atau pasukan Kurdi. Hal yang mereka dapat liput pun terbatas.
Kota Douma di Suriah yang jadi kubu pemberontak dikepung oleh pasukan Presiden Bashar al-Assad sejak Oktober 2013. Serangan udara dan darat menyebabkan kerusakan parah di kota tersebut. Inilah kehidupan di Douma.
Foto: DW/F. Abdullah
Dirusak oleh perang
Kota yang dikuasai pemberontak Suriah, Douma terletak sekitar 10 kilometer di bagian timur, di luar ibukota Damaskus.
Foto: DW/F. Abdullah
Permainan perang
Selama enam tahun terakhir, kawasan pemukiman di kota ini porak-poranda akibat serangan udara yang dilancarkan militer Rusia dan Suriah. Anak-anak jadi terbiasa tinggal di daerah yang hancur oleh bom ini menjadikan puing-puing bangunan sebagai tempat bermain.
Foto: DW/F. Abdullah
Sembunyi di bawah tanah
Sebagian besar sekolah dan institusi publik lainnya dipindahkan ke bunker bawah tanah karena terus dilancarkannya pemboman dan serangan udara ke kota pemberontak tersebut. Pendidikan sangat penting bagi generasi yang dicabik perang ini karena masa depan negara bergantung pada mereka.
Foto: DW/F. Abdullah
Tidak ada jeda
Douma terus digempur serangan udara oleh rezim penguasa dan angkatan udara Rusia. Dalam gambar ini, seorang pria sedang memeriksa kerusakan rumahnya sementara pesawat tempur masih terbang di atas kepala.
Foto: DW/F. Abdullah
Kembali ke tradisi lama
Mesin pembuat roti tak disa dioperasikan karena kurangnya tepung dan bahan bakar. Membuat roti dengan tangan adalah tradisi lama di Suriah. Beberapa penduduk Douma membuka toko untuk memanggang dan menjual roti. Sepotong roti harganya sekitar 5 ribu rupiah.
Foto: DW/F. Abdullah
Tetap tegar
Abeer* kehilangan kaki kanannya akibat ledakan bom di depan rumahnya, ketika dia tengah bersama sepupunya Hassan* yang terbunuh oleh bom yang sama. Abeer adalah satu dari ribuan anak yang terluka. Ia bertekad untuk hidup seperti orang lain, bermain dengan teman dan tetap berani keluar rumah. (*bukan nama sebenarnya).
Foto: DW/F. Abdullah
Kegelapan di pinggir kota
Pada malam hari Douma gelap gulita. Pasokan listrik terputus total atau hanya sporasis, sejak pengepungan dimulai. Penduduk setempat menggunakan generator untuk memenuhi kebutuhan energi buat toko dan rumah mereka.
Foto: DW/F. Abdullah
Tetap menjaga penampilan
Menyetrika pakaian sebenarnya bukan prioritas untuk orang-orang di Douma. Tapi jika memungkinkan mereka melakukannya dengan bantuan setrikaan arang kayu seperti ini. Dengan begitu warga mempertahankan perasaan, bahwa hidup tetap beralan nomal. Penulis: Firas Abdullah (ap/as)
Foto: DW/F. Abdullah
8 foto1 | 8
Para jurnalis asing, yang seringnya berbasis di Kairo, Istanbul atau Beirut, terpaksa mengumpulkan materi yang disediakan oleh jurnalis lokal dan aktivis seperti Husam.
Tapi, Durm memperingatkan, sangat sulit untuk memverifikasi informasi dan laporan yang diterima. "Mereka yang berasal dari rezim dan oposisi - yang sebagian besar terdiri dari pasukan jihad dan Islamis - menyebarkan propaganda untuk tujuan mereka sendiri."
Durm menyebutnya sebagai "kampanye disinformasi yang disengaja" oleh rezim dan para pemberontak.
Tetapi dengan koresponden independen yang berjarak ratusan kilometer, rezim Assad mampu, misalnya, berulang kali dan dengan keras menolak klaim bahwa ia berada di balik serangan kimia di kota Duma yang dikuasai pemberontak pada awal April, kata Durm.
Lelah perang?
Duma bukan satu-satunya titik buta di peta Suriah. Durm menunjuk ke Idlib, sebuah provinsi di Suriah utara, tempat pasukan jihad berkumpul. Koresponden perang senior ini yakin bahwa pertempuran terakhir Suriah akan terjadi di Idlib, mungkin dalam beberapa bulan mendatang. Tapi: "Tidak mungkin bagi wartawan asing untuk pergi ke Idlib dan melaporkan situasi mengerikan di sana."
Hal ini menjadi pilihan bagi orang seperti Husam untuk masuk dan melaporkan dari medan perang. Dia tahu dia mengambil risiko yang tinggi untuk pekerjaannya, tetapi dia tetap melakukannya. Mengapa? Ia langsung menjawab: "Tujuan pekerjaan saya adalah untuk menyampaikan suara revolusi Suriah dan penderitaan rakyat Suriah dan menyampaikannya kepada masyarakat Barat."
Konflik di Suriah memasuki babak baru setelah militer Turki melancarkan serangan terhadap posisi milisi Kurdi di timur laut Suriah. Inilah faksi-faksi yang berperang di Suriah.
Foto: Atta Kenare/AFP/Getty Images
Perang Tiada Akhir
Suriah telah dilanda kehancuran akibat perang saudara sejak 2011 setelah Presiden Bashar Assad kehilangan kendali atas sebagian besar negara itu karena berbagai kelompok revolusioner. Sejak dari itu, konflik menarik berbagai kekuatan asing dan membawa kesengsaraan dan kematian bagi rakyat Suriah.
Foto: picture alliance/abaca/A. Al-Bushy
Kelompok Loyalis Assad
Militer Suriah yang resminya bernama Syrian Arab Army (SAA) alami kekalahan besar pada 2011 terhadap kelompok anti-Assad yang tergabung dalam Free Syrian Army. SAA adalah gabungan pasukan pertahanan nasional Suriah dengan dukungan milisi bersenjata pro-Assad. Pada bulan September, Turki meluncurkan invansi militer ketiga dalam tiga tahun yang menargetkan milisi Kurdi.
Foto: picture alliance/dpa/V. Sharifulin
Militer Turki
Hampir semua negara tetangga Suriah ikut terseret ke pusaran konflik. Turki yang berbatasan langsung juga terimbas amat kuat. Berlatar belakang permusuhan politik antara rezim di Ankara dan rezim di Damaskus, Turki mendukung berbagai faksi militan anti-Assad.
Foto: picture alliance/dpa/S. Suna
Tentara Rusia
Pasukan dari Moskow terbukti jadi aliansi kuat Presiden Assad. Pasukan darat Rusia resminya terlibat perang 2015, setelah bertahun-tahun menyuplai senjata ke militer Suriah. Komunitas internasional mengritik Moskow akibat banyaknya korban sipil dalam serangan udara yang didukung jet tempur Rusia.
Sebuah koalisi pimpinan Amerika Serikat yang terdiri lebih dari 50 negara, termasuk Jerman, mulai menargetkan Isis dan target teroris lainnya dengan serangan udara pada akhir 2014. Koalisi anti-Isis telah membuat kemunduran besar bagi kelompok militan. AS memiliki lebih dari seribu pasukan khusus di Suriah yang mendukung Pasukan Demokrat Suriah.
Foto: picture-alliance/AP Images/US Navy/F. Williams
Pemberontak Free Syrian Army
Kelompok Free Syrian Army mengklaim diri sebagai sayap moderat, yang muncul dari aksi protes menentang rezim Assad 2011. Bersama milisi nonjihadis, kelompok pemberontak ini terus berusaha menumbangkan Presiden Assad dan meminta pemilu demokratis. Kelompok ini didukung Amerika dan Turki. Tapi kekuatan FSA melemah, akibat sejumlah milisi pendukungnya memilih bergabung dengan grup teroris.
Foto: Reuters
Pemberontak Kurdi
Perang Suriah sejatinya konflik yang amat rumit. Dalam perang besar ada perang kecil. Misalnya antara pemberontak Kurdi Suriah melawan ISIS di utara dan barat Suriah. Atau juga antara etnis Kurdi di Turki melawan pemerintah di Ankara. Etnis Kurdi di Turki, Suriah dan Irak sejak lama menghendaki berdirinya negara berdaulat Kurdi.
Foto: picture-alliance/AA/A. Deeb
Islamic State ISIS
Kelompok teroris Islamic State (Isis) yang memanfaatkan kekacauan di Suriah dan vakum kekuasaan di Irak, pada tahun 2014 berhasil merebut wilayah luas di Suriah dan Irak. Wajah baru teror ini berusaha mendirikan kekalifahan, dan namanya tercoreng akibat genosida, pembunuhan sandera serta penyiksaan brutal.
Foto: picture-alliance/dpa
Afiliasi Al Qaeda
Milisi teroris Front al-Nusra yang berafiliasi ke Al Qaeda merupakan kelompok jihadis kawakan di Suriah. Kelompok ini tidak hanya memerangi rezim Assad tapi juga terlibat perang dengan pemberontak yang disebut moderat. Setelah merger dengan sejumlah grup milisi lainnya, Januari 2017 namanya diubah jadi Tahrir al-Sham.
Foto: picture-alliance/AP Photo/Nusra Front on Twitter
Pasukan Iran
Iran terlibat pusaran konflik dengan mendukung rezim Assad. Konflik ini juga jadi perang proxy antara Iran dan Rusia di satu sisi, melawan Turki dan AS di sisi lainnya. Teheran berusaha menjaga perimbangan kekuatan di kawasan, dan mendukung Damaskus dengan asistensi startegis, pelatihan militer dan bahkan mengirim pasukan darat.
Foto: Atta Kenare/AFP/Getty Images
10 foto1 | 10
Tapi bukan hanya di Suriah, di mana peliputan bisa menjadi berbahaya atau bahkan tidak mungkin bagi koresponden asing. Libya, Yaman, dan sebagian wilayah Irak juga telah berubah menjadi titik buta. Durm khawatir, karena akses ke zona perang dan konflik semakin terbatas, maka konsekuensinya sangat besar. Berita-berita terpisah, yang kadang berasal dari sumber yang meragukan, menggantikan laporan yang disaksikan oleh koresponden berpengalaman dan ditulis dengan baik. Berita-berita dari sumber meragukan ini jauh dari realitas perang.
"Kenyataannya, perang terjadi dalam waktu nyata: Orang-orang mati dan menderita dan pada dasarnya Anda harus mengisi laporan Anda dengan apa yang Anda temukan di lapangan, apa yang Anda lihat, dengar dan cium," katanya.
Durm yakin itulah alasan mengapa konflik Suriah sering hanya disambut dengan ketidakpedulian dan sebagai "sesuatu yang tidak nyaman" di Barat. Banyak orang, menurutnya, yang ingin melupakan perang sepenuhnya.
"Itu mungkin dimotivasi oleh hasrat tersembunyi bahwa perang akhirnya ditentukan untuk kepentingan Assad. Bukan karena dia sangat populer, tetapi karena orang ingin semuanya cepat selesai."
Suara Durm terdengar sedikit pasrah.
na/vlz (dw)
Dalam operasi besar-besaran menggempur ISIS di Mosul, pasukan Irak mengandalkan sniper atau penembak runduk. Berikut sepak terjangnya.
Foto: Reuters/K. al Mousily
Penembak mahir
Sniper atau penembak runduk, adalah seorang prajurit yang punya kemampuan khusus membunuh musuh secara tersembunyi dari jarak jauh dengan menggunakan senapan. Istilah ini muncul tahun 1770-an. Berasal dari kata snipe, yaitu sejenis burung yang sangat sulit untuk didekati dan ditembak, maka para penembak yang mahir memburu burung ini diberi julukan "sniper"
Foto: Reuters/Y. Boudlal
Bertebaran di berbagai sudut kota
Sniper menguasai teknik bersembunyi, pengintaian dan pengamatan, serta kemampuan infiltrasi garis depan. Berusaha mempertahankan Mosul dan melumpuhkan para militan ISIS, dalam beberapa bulan terakhir, pasukan Irak juga memanfaatkan kelihaian para sniper ini. Mereka menebar para penembak ini di Mosul yang menjadi benteng pertahanan terakhir ISIS.
Foto: Reuters/K. al Mousily
Memuluskan jalan
Di Kota Tua Mosul barat, puluhan penembak runduk disebar di dalam gedung-gedung dan puncak-puncak gedung untuk melumpuhkan militan-militan ISIS sehingga memuluskan jalan bagi pasukan Irak merangsek ke jantung pertahanan ISIS di Masjid Al-Nuri.
Foto: Reuters/T. Al-Sudani
Mencari posisi
Di antara bangunan atau reruntuhan gedung, para sniper mencari posisi yang paling dirasa tepat untuk menembak target sasaran mereka, militan ISIS.
Foto: Reuters/K. al Mousily
Sembunyi di gedung museum
Salah satu bangunan yang jadi tempat persembunyian sniper saat melakukan serangan terhadap ISIS di Mosul adalah bangunan bekas museum yang sudah porak poranda akibat perang. Sepak terjang mereka berhasil membuat militan ISIS di Mosul kocar-kacir.
Foto: Reuters/T. Al-Sudani
Mereka dibantu pasukan koalisi
Tampak para sniper berjaga-jaga di sebuah bangunan di distrik Bab al Jadid. ISIS tadinya menguasai banyak wilayah Irak bagian utara dan barat sejak 2014, namun operasi militer Irak di bawah dukungan koalisi pimpinan AS telah membuat kelompok militan itu kehilangan banyak daerah kekuasaannya.
Foto: Reuters/Y. Boudlal
Membidik kemanusiaan.
Namun operasi yang didukung pasukan koalisi yang dipimpin AS dihujani kritik. Amnesty International menyebutkan ratusan warga sipil tewas dalam beberapa bulan terakhir di Mosul akibat serangan pasukan koalisi yang dipimpin Amerika Serikat. Meskipun diduga kematian warga lebih banyak akibat serangan udara.
Foto: Reuters/K. al Mousily
Warga jadi korban
Operasi merebut Mosul barat telah memaksa 180.000 orang meninggalkan rumah mereka. Lebih dari seratus ribu orang mengungsi di kamp-kamp terdekat dan pusat-pusat penampungan, sedangkan yang lainnya mengungsi ke kerabat mereka di luar kota Mosul. Ed : ap/yf(rtr/berbagai sumber)