1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Dalang Gen Alfa, Cara Kitama Membawa Wayang ke Generasi Digital

6 November 2026

Berawal dari kekagumannya pada sosok Gatotkaca saat masih TK, Kitama kini tumbuh menjadi dalang cilik yang aktif tampil dan berkarya. Lewat media sosial, ia juga mengajak anak-anak lain untuk mengenal dunia pewayangan.

Kitama Arturo (12), dalang cilik asal Jakarta, saat sesi latihan mendalang di rumahnya.
Berawal dari perkenalannya dengan sosok pahlawan super Indonesia, Gatotkaca, kini Kitama aktif mendalang dan mengajak anak muda lain untuk mencintai budayaFoto: Iryanda Mardanuz/DW

Ketika diminta bercerita tentang tokoh wayang favoritnya, Kitama Arturo (12) langsung menjawab tanpa ragu, "Gatotkaca!”, tegas Kitama.

"Dia punya tiga kekuatan, ototnya kawat dan tulangnya besi," kata Kitama antusias saat menjelaskan kesaktian tokoh idolanya itu, mulai dari tubuh yang kebal senjata hingga kemampuan terbang tanpa sayap.

Ketertarikan anak Gen Alfa ini pada dunia wayang sudah muncul sejak ia masih berusia sekitar lima tahun. Menurut Minuk Seto, ibu Kitama, putranya sempat bertanya apakah Indonesia memiliki sosok pahlawan super seperti yang sering dilihat teman-temannya dari luar negeri.

"Waktu itu teman-temannya kalau acara perayaan ulang tahun kan selalu ada tokoh superhero luar negeri. Kitama nanya, 'Kita punya superhero dari Indonesia enggak?' Kami jawab, 'Ada, namanya Gatotkaca'," kenangnya.

Sejak saat itu, Kitama sering mencari informasi hingga tontonan yang memperagakan tokoh tersebut di rumah. Ketertarikan pada wayang semakin berkembang ketika pada akhir 2019 ia bertemu seorang dalang cilik saat berlibur ke Malang.

Sebelum berpisah, anak itu menghadiahkan satu wayang Gatotkaca beserta kostumnya kepada Kitama.

Menggali ilmu lewat medsos

Pandemi Covid-19 membuat banyak aktivitas berpindah ke rumah. Saat itulah Kitama mulai bermain wayang, membuat cerita sendiri, dan mencari referensi pedalangan melalui YouTube.

Menurut Minuk, putranya bahkan mencari berbagai pertunjukan wayang secara mandiri, meski belum bisa membaca dan mengetik.

"Keyword yang dia cari waktu itu pakai voice command, dalang terkenal Indonesia," ujarnya.

Sejak saat itu, Kitama mulai mempelajari tokoh-tokoh wayang, cerita pewayangan, teknik mendalang, hingga suluk atau tembang yang digunakan dalam pertunjukan.

Belajar wayang sejak usia 6 tahun, kini Kitama aktif mendalang di berbagai acaraFoto: Iryanda Mardanuz/DW

Menurut Minuk, yang membuat perjalanan ini istimewa adalah karena kecintaan terhadap wayang lahir secara alami pada Kitama.

"Kami bersyukurnya karena ini pilihan Kitama sendiri, bukan turunan atau permintaan dari kami. Jadi, semangat belajarnya memang datang dari dirinya sendiri," ujarnya.

Meski Gatotkaca menjadi tokoh yang paling sering ia mainkan, Kitama mengaku selalu diingatkan untuk tidak terpaku pada satu karakter saja.

"Guru aku bilang kalau kita enggak boleh menyukai satu karakter wayang. Kita harus adil. Karena kita sebagai dalang, memerankan semua karakter wayang," ujarnya.

Dari gerakan hingga menghafal lakon

Bagi Kitama, menjadi dalang bukan hanya soal memainkannya. Seorang dalang juga harus memahami cerita atau lakon, mengenal berbagai karakter, mengatur vokal, hingga menyanyikan suluk.

"Kalau yang sulit dari bagian-bagian mendalang, salah satunya itu timing kita, saat harus gerakin wayangnya karena satu gerakan punya seribu makna," ujar Kitama.

Meski tumbuh di Jakarta, kini perlahan Kitama fasih berbahasa JawaFoto: Iryanda Mardanuz/DW

Selain itu, seorang dalang juga harus mampu menghidupkan cerita melalui penekanan bahkan lantunan suara, "Kita juga harus bisa nyanyi karena ada beberapa suluk yang harus kita nyanyikan," katanya.

Meski begitu, tantangan tersebut tidak membuatnya kehilangan semangat, Kitama mengaku menyukai semua bagian dari wayang dan mendalang.

"Semua sih, yang penting kita enjoy belajar," ujarnya saat ditanya bagian favorit dalam mendalang.

Melestarikan tradisi lewat imajinasi dan teknologi

Tantangan lain bagi Kitama, sebagai anak yang tumbuh besar di Jakarta, adalah penggunaan bahasa Jawa. M. Sumadji Abilowo, guru dalang Kitama sekaligus pendiri Sanggar Abilowo di Pamulang, Banten, mengatakan hal itu juga dialami banyak anak yang belajar wayang di ibu kota.

"Bahasa Jawa bagi anak-anak Jakarta merupakan hal yang baru. Kendalanya mereka belum mengenal jenis-jenis kosakata dalam bahasa Jawa. Jadi, kami perkenalkan sedikit demi sedikit," jelasnya.

Meski demikian, Sumadji menilai perkembangan Kitama tergolong sangat pesat karena memanfaatkan konten edukatif di media sosial.

"Sebetulnya saya tidak mengajari apa-apa. Saya cuma memantik imajinasi saja. Pengembangan imajinasi itu kemudian didukung oleh apa yang dia lihat dan pelajari sendiri, termasuk dari media sosial," katanya.

Sumadji menjadi guru dalang Kitama sejak pertama kali belajar wayang hingga saat iniFoto: Iryanda Mardanuz/DW

Menurut Sumadji, upaya memperkenalkan wayang kepada generasi muda semakin penting di tengah minimnya regenerasi dalang dan berkurangnya minat penonton. Salah satu caranya adalah dengan menggunakan bahasa yang lebih mudah dimengerti khalayak luas. 

"Adanya sosok Kitama ini memang diperlukan, khususnya untuk menarik anak muda lain mencintai wayang, misalnya gen Alfa lain bisa mengerti bahasa Kitama dan bisa terinspirasi,” pungkasnya.

Wayang Indonesia sendiri ditetapkan oleh UNESCO sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity atau Mahakarya Warisan Kemanusiaan Lisan dan Takbenda pada tahun 2003.

Agar tradisi wayang bisa tetap hidup dan berkembang, Sumadji menilai pelestarian budaya pewayangan membutuhkan keterlibatan generasi muda. 

"Pelestarian budaya tidak selalu dengan cara membeli wayang, tapi dengan kita mempelajarinya, memahami, kemudian menceritakannya kembali, itu sudah sangat bagus. Apalagi di tengah tantangan kemudahan teknologi saat ini, anak-anak bisa main gim kapan saja, main medsos, dan lain-lain.”

Meski aktif di medsos, kedua orang tua Kitama tetap memegang penuh kendali aktivitas digital anaknya. Kitama selalu dilibatkan dalam pengambilan keputusan terkait kontenFoto: Iryanda Mardanuz/DW

Membuka ruang nyata lewat dunia digital

Awalnya, Minuk Seto dan Thomas Kurniadi menggunakan media sosial hanya karena ingin mendokumentasikan latihan dan penampilan Kimana mengenali dunia wayang. Belakangan, konten-konten tersebut ternyata menarik perhatian banyak keluarga lain yang memiliki anak dengan minat serupa.

"Kami menemukan banyak orang tua yang bingung karena anaknya suka wayang, sementara mereka sendiri tidak tahu harus belajar ke mana," ujar sang Ayah, Thomas.

Karena pernah mengalami hal yang sama, keluarga Kitama mulai membuka ruang bagi anak-anak yang ingin mengenal wayang lebih dekat. Perlahan, sejumlah anak mulai bergabung. Salah satu di antara 'teman didik' ini adalah Devanka Ario Pramudya (4) atau Devan yang memulai pagelaran budaya pertamanya bersama Kitamana. Sejak saat itu, mereka sudah beberapa kali tampil bersama.

Saat ini Kitama dan kedua orang tuanya memutuskan untuk membuka ruang belajar bersama dengan anak-anak yang juga tertarik pada dunia pewayangan, khususnya yang termotivasi lewat aktivitas dan konten KitamaFoto: Iryanda Mardanuz/DW

Ada pula Ramandana Luqman Massaid atau Rama (11), yang kebetulan bertemu dengan tim DW saat kunjungan pertamanya melihat langsung aktivitas Kitama sebagai dalang.

Ketertarikan Rama terhadap dunia pewayangan bertumbuh setelah ia menonton konten-konten Kitama. Kunjungan ini menjadi kesempatan baginya untuk mengenal lebih dekat dunia wayang sebelum mencoba mempelajarinya sendiri. 

"Banyak anak sekarang lebih suka gadget dan segala macam, tapi di usia muda masih bisa melestarikan kebudayaan Jawa dengan caranya sendiri, entah lewat tampil atau membuat pagelaran sendiri. Jadi, itulah yang membuat Rama termotivasi," katanya.

Rama (11) juga merupakan seorang seniman muda yang mulai tertarik untuk mempelajari wayang, terutama setelah menyaksikan konten Kitama di media sosialFoto: Iryanda Mardanuz/DW

Fenomena ini juga diamati oleh Sumadji. Menurutnya, media sosial dapat menjadi sarana efektif untuk memperkenalkan wayang kepada generasi muda.

"Dengan tampilnya satu sosok Mas Kitama ini, berpotensi bisa menarik Gen Alfa untuk mencintai wayang. Pecinta wayang Gen Alfa juga harus dari Gen Alfa itu sendiri yang melestarikan, yang membahasakan," ujarnya.

Kini, setelah sekitar enam tahun menekuni dunia pewayangan, Kitama tak hanya tampil sebagai dalang. Ia juga berhasil menggelar sebuah acara pagelaran budaya bertajuk "Gatot Kaca: Jangan Gunakan Taringmu”, pada September 2026 lalu.

Dalam pertunjukan tersebut, Kitama melibatkan teman-teman didik yang selama ini belajar bersamanya untuk membawakan pertunjukan wayang kulit dan wayang orang. Tak hanya seni wayang, pegelaran itu juga menggabungkan seni teater serta seni tari dalam satu panggung dinamis. 

Bagi Kitama, mimpinya di dunia pewayangan masih panjang. Ia ingin semakin banyak anak muda Indonesia yang termotivasi untuk belajar wayang dan mendalang.

"Terus belajar, jangan pantang menyerah, jangan ragu, dan jangan malu untuk melestarikan budaya kita sendiri," pesan Kitama.

Editor: Tonggie Siregar

Iryanda Mardanuz Junior Correspondent, Deutsche Welle Asia Pacific Bureau / Reporter, Deutsche Welle Indonesia
Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait