1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Kompromi Jerman-Perancis Dapat Berdampak Fatal

16 Juni 2010

Angela Merkel dan Nikolas Sarkozy merundingkan pemerintah ekonomi di Uni Eropa. Loloskah usulan Perancis tersebut?

Treffen Merkel Sarkozy Berlin
Merkel menyambut Sarkozy di BerlinFoto: apn

Harian Perancis La Voix du Noix yang terbit di Lille di bagian utara negeri itu menulis:

Seharusnya mata uang Euro menciptakan lapangan kerja dan memajukan pertumbuhan. Tetapi sekarang malah dijadikan kambing hitam, yang membuat pemerintah Eropa terpaksa merancang program penghematan dan mereformasi uang pensiun. Akibatnya, masyarakat Eropa kehilangan kepercayaannya terhadap mata uangnya. Agar masyarakat Eropa percaya lagi pada Euro, pemerintah Jerman dan Perancis seharusnya lebih kompak dalam mengatasinya. Meskipun dari pertemuan Kanselir Jerman Angela Merkel dengan Presiden Perancis Nikolas Sakorzy terkesan kedua pemimpin itu akur, sesungguhnya justru memperkuat perbedaan pendapat mereka.

Harian liberal Austria Der Standard yang terbit di Wina juga mengomentari kompromi Jerman-Perancis terkait politik ekonomi. Harian itu menulis:

Memang kalangan pencetus Euro di masa lalu, terutama mantan kanselir Jerman Helmut Kohl, mengupayakan sebuah mata uang dan ekonomi kesatuan di Eropa. Tetapi bersamaan dengan itu, mereka waktu itu tidak punya keberanian untuk mengambil langkah ke arah agar terciptanya integrasi politik. Dalam pertemuannya dengan Nikolas Sarkozy, Kanselir Merkel menjelaskan situasi sekarang dengan sangat tepat. Bahwa sekarang Eropa berada di fase yang menentukan eksistensi dan masa depan Eropa. Merkel dan Sarkozy tidak memberikan kontribusi untuk yang dapat mengubah perspektif tersebut.

Sementara harian Autrsia lain Die Presse menulis:

Lewat lembaga yang disebut sebagai pemerintah ekonomi, Merkel dan Sarkozy melembagakan perbedaan politik ekonominya. Negara anggota Uni Eropa lainnya hanya dapat berharap, agar inisiativ itu tetap seperti konstruksinya sendiri. Karena sangatlah fatal, jika keputusan dua anggota besar UE itu di tengah krisis ini berhasil diloloskan. Selain itu, rencana Perancis dapat menghancurkan mitra kuat ekspornya sekaligus menyerang komisi UE. Pemimpin pemerintah Perancis ingin menciptakan sebuah lingkungan yang dapat menjamin terlindungnya ekonomi nasionalnya.

Sedangkan harian Luxemburger Wort menulis:

Pertemuan antara pemerintah Perancis dan Jerman awalnya masih tersendat-sendat. Apalagi ketika sepuluh hari yang lalu Merkel mendadak membatalkan pertemuannya dengan Sarkozy. Perancis menyebut Merkel yang berasal dari Jerman Timur itu sebagai mitra yang tidak meyakinkan. Dia bukan pemain tim dan cenderung bertindak sendiri demi kepentingan nasionalnya. Pada kenyataannya memang dalam krisis ini Merkel selalu tampil percaya diri, karena kekuatan ekonomi Jerman dan stabilitas mata uang Euro terancam. Namun jika mengamatinya lebih jeli lagi, maka terlihat bahwa Jerman tidak sungguh-sungguh meloloskan ide membentuk sebuah pemerintah ekonomi di UE selaras dengan Euro. Usulan itu sesungguhnya berasal dari Perancis.

AN/AR/afpd/dpa