Konferensi Irak dengan AS, Iran dan Suriah
1 Maret 2007
Pengumuman pemerintah AS yang menyatakan siap berunding dengan Iran dan Suriah untuk memperbaiki situasi di Irak dikomentari harian Washington Post sebagai berikut:
"Bagaimanapun ada kemungkinan, bahwa Iran sedang mencari jalan agar bisa memenuhi tuntutan PBB untuk menghentikan program pengayaan uraniumnya, tanpa membangkitkan kesan bahwa ia menyerah. Karena itu pemerintah Amerika Serikat sebaiknya tidak menutup kemungkinan dilakukannya pembicaraan antara wakil-wakil Amerika Serikat dan Iran di sela-sela pertemuan Bagdad. Sekalipun pemerintah AS sampai sekarang mempertahankan posisi bahwa perundingan resmi dengan Iran tergantung dari penghentian pengayaan uranium.“
Harian Austria Der Standard menilai:
“Ini adalah perubahan politik mendasar yang dilakukan Amerika Serikat, jika mereka mendadak tanpa syarat mau berbicara dengan Iran dan Suriah, kalaupun tidak secara bilateral, tapi dalam pertemuan tingkat tinggi. Tapi ini tidak perlu dinilai terlalu berlebihan: Washington tidak aktif sendiri, misalnya untuk melaksanakan usulan Komisi Baker/Hamilton, melainkan hanya mengikuti keinginan Irak dan prakarsa yang murni datang dari Irak.“
Harian Inggris Financial Times menulis:
“Orang bisa punya kesan, pemerintah Bush akhirnya menyimpulkan, bahwa Iran dan Suriah bisa membantu dalam tugas berat yang dihadapi di Irak dan di Afghanistan. Tapi kenyataan sebenarnya adalah sebaliknya: Amerika Serikat sangat khawatir tentang pengaruh Iran dan kaum Syiah di kawasan itu. Sehingga mereka berusaha keras untuk membentuk aliansi kaum Sunni yang akan melawan rejim di Teheran dan sekutunya. Washington mnembantu kaum fundamentalis Sunni dan kelihatannya tidak belajar sama sekali dari perannya di Afghanistan tahun 80-an. Ketika itu Amerika membantu kelompok Jihad anti Soviet. Penerus kelompok ini adalah organisasi teror Al Qaeda. Dukungan kepada kaum Sunni memprovokasi Iran dan Hisbullah dan pada saat yang sama memperkuat aliansi baru antara Teheran dan kubu radikal pimpinan Muktada al-Sadr di Irak.”
Hal lain yang jadi sorotan pers di Eropa adalah rencana restrukturisasi perusahaan Airbus yang diputuskan induk perusahaannya, yaitu EADS, dengan apa yang disebut agenda “Power8”. Salah satu langkah yang direncanakan adalah penyusutan sampai 10.000 tempat kerja. Ini menyulut protes di kalangan serikat buruh di Prancis dan Jerman, dua lokasi pabrik terbesar Airbus.
Mengenai rencana tersebut, Harian Perancis Le Figaro menulis:
"EADS sebagai induk perusahaan Airbus perlu instrumen untuk membiayai model-model baru dan memantapkan masa depan. Tapi EADS tidak bisa menggantungkan diri pada para investor swasta, yang tidak melihat Airbus sebagai prioritasnya dan tidak mau lagi menginvestasikan lebih banyak uang. Jadi sekarang saatnya berpisah dari para investor swasta ini dan mencari investor baru yang memang mau berinvestasi pada salah satu perusahaan paling atraktif di Eropa.“