Pakistan telah menyatakan perang terbuka terhadap Afganistan dengan menggencarkan serangan udara pada fasilitas sipil dan pangkalan militer Bagram. Eskalasi ini terjadi di tengah sengitnya perang AS-Israel melawan Iran.
Serangan udara Pakistan di Afganistan kini tidak hanya menyasar terhadap keberadaan kelompok teroris Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP), tapi juga pangkalan militer AfganistanFoto: AFP
Iklan
Saat perhatian internasional sedang berfokus pada perang AS-Israel dengan Iran, sebuah perang terbuka terus bereskalasi antara Afganistan dan Pakistan, yang berpotensi menimbulkan efek domino di seluruh kawasan.
Penguasa Taliban di Afganistan pada hari Selasa menuding Pakistan melakukan serangan udara yang menewaskan sedikitnya 400 orang di sebuah rumah sakit rehabilitasi narkoba di Kabul pada Senin malam(16/3). Lebih lanjut, otoritas Afganistan mengatakan serangan tersebut menghantam fasilitas rehabilitasi dengan 2.000 tempat tidur sekitar pukul 21.00 waktu setempat, menyebabkan kerusakan besar dan ratusan korban luka. Serangan ini adalah eskalasi besar dari pertempuran lintas batas yang telah berlangsung berminggu-minggu antara kedua negara.
Baik Islamabad dan Taliban saling menyalahkan setelah munculnya bentrokan baru di tengah ketegangan yang sedang berlangsung. Pakistan menyatakan bahwa pihaknya hanya merespons serangan dari kelompok teroris negara tersebut, Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP), yang beroperasi dari wilayah Afganistan. Pemerintah Taliban menolak tuduhan tersebut.
Namun dalam beberapa hari, serangan udara Pakistan tidak lagi hanya menargetkan TTP, tetapi juga pangkalan militer Afganistan.
Pada 1 Maret, bekas pangkalan Angkatan Udara AS di Bagram juga diserang. Berdasarkan laporan dan analisis citra satelit, sebuah hanggar dan dua gudang hancur. Namun Taliban mengeklaim bahwa serangan tersebut berhasil ditangkis dan pangkalan militernya tidak mengalami kerusakan.
Kenapa Pakistan dan Afganistan Bentrok di Perbatasan?
01:15
This browser does not support the video element.
Simbol di balik serangan Bagram
Bagram yang menjadi sasaran serangan mengubah dimensi konflik. Hingga 2021, Bagram adalah pusat operasi militer AS di Afganistan. Presiden AS Donald Trump beberapa kali menyebut bahwa AS seharusnya tidak pernah menyerahkan pangkalan militer tersebut, menekankan pentingnya posisi strategis pangkalan tersebut yang dekat dengan Cina.
Iklan
Menurut laporan media, Washington sempat mempertimbangkan kemungkinan menggunakan kembali pangkalan tersebut. Taliban secara tegas menolak kehadiran pasukan AS di sana.
Serangan Pakistan ke Bagram terjadi pada hari kedua serangan AS-Israel terhadap Iran. Hal ini menyoroti berbagai konflik regional yang terjadi di saat yang bersamaan, meskipun tidak ada hubungan di antara kedua konflik tersebut.
Afganistan: Perubahan Keseharian di Bawah Kekuasaan Taliban
Terlepas dari semua drama seputar pengambilalihan kekuasaan oleh Taliban di Afganistan, kehidupan sehari-hari terus berlanjut. Namun kehidupan sehari-hari itu telah berubah drastis, terutama bagi kaum perempuan.
Foto: WANA NEWS AGENCY/REUTERS
Dunianya laki-laki
Foto dan video yang muncul dari Afganistan menunjukkan kembalinya aktivitas di jalanan perkotaan, seperti restoran di Herat ini yang sudah menerima pelanggan lagi. Tapi ada satu perbedaan mencolok dari sebelumnya: di meja hanya ada laki-laki saja, sering kali mengenakan pakaian kurta tradisional, tunik selutut. Perempuan di ruang publik menjadi hal langka di perkotaan.
Foto: WANA NEWS AGENCY/REUTERS
Harus terpisah
Di sebuah universitas swasta di Kabul. Ada tirai yang memisahkan mahasiswanya. Pemisahan antara perempuan dan laki-laki ini sekarang menjadi kebijakan resmi dan kemungkinan akan terus menyebar. "Pembelajaran campur, lelaki-perempuan, bertentangan dengan prinsip Islam, nilai-nilai nasional, adat dan tradisi," kata Abdul Baghi Hakkani, Menteri Pendidikan Taliban di Kabul.
Foto: AAMIR QURESHI AFP via Getty Images
Kebebasan yang hilang
Seperti para perempuan ini yang sedang dalam perjalanan mereka ke masjid di Herat, setelah 20 tahun pasukan sekutu memerangi Taliban, kebebasan yang dulu didapatkan perempuan dengan cepat terhapus. Bahkan olahraga akan dilarang untuk pemain perempuan, kata Ahmadullah Wasik, wakil kepala Komisi Kebudayaan Taliban.
Foto: WANA NEWS AGENCY/REUTERS
Pos pemeriksaan di mana-mana
Pemandangan di jalan juga didominasi oleh pos pemeriksaan Taliban. Ketika orang-orang bersenjata berat mengintimidasi warga, warga berusaha keras untuk berbaur. Pakaian gaya Barat menjadi semakin langka dan pemandangan tentara bersenjata lengkap semakin umum.
Foto: Haroon Sabawoon/AA/picture alliance
Menunggu pekerjaan
Di Kabul, buruh harian laki-laki duduk di pinggir jalan, menunggu tawaran pekerjaan. Afganistan, yang sudah berada dalam situasi ekonomi yang genting bahkan sebelum pengambilalihan Taliban, sekarang terancam "kemiskinan universal" dalam waktu satu tahun, menurut PBB. 98% warganya tahun depan akan hidup dalam kemiskinan, dibandingkan dengan 72% pada saat ini.
Foto: Bernat Armangue/dpa/picture alliance
Tetap mencoba melawan
Perempuan Afganistan, meskipun ditindas secara brutal, terus menuntut hak mereka atas pendidikan, pekerjaan, dan persamaan hak. Namun PBB memperingatkan bahwa protes damai juga disambut dengan kekerasan yang meningkat. Para Islamis militan menggunakan pentungan, cambuk dan peluru tajam membubarkan aksi protes. Setidaknya empat orang tewas dan banyak lainnya yang cedera.
Foto: REUTERS
Ada juga perempuan yang 'pro' Taliban
Perempuan-perempuan ini, di sisi lain, mengatakan mereka senang dengan orde baru. Dikawal oleh aparat keamanan, mereka berbaris di jalan-jalan mengklaim kepuasan penuh dengan sikap dan perilaku Taliban, dan mengatakan bahwa mereka yang melarikan diri dari negara itu tidak mewakili semua perempuan. Mereka percaya bahwa aturan Islam menjamin keselamatan mereka.
Foto: AAMIR QURESHI/AFP/Getty Images
Menyelaraskan arah
Demonstrasi pro-Taliban termasuk undangan bagi wartawan, berbeda dengan protes anti-Taliban. Yang terakhir, wartawan melaporkan mereka telah diintimidasi atau bahkan dilecehkan. Ini adalah tanda yang jelas dari perubahan di bawah Taliban, terutama bagi perempuan. (kp/hp)
Foto: AAMIR QURESHI/AFP/Getty Images
8 foto1 | 8
Sejarah rumit Pakistan dan Taliban
Sebelumnya Taliban memiliki hubungan dekat dengan Pakistan. Pada masa kekuasaan pertama mereka di Afganistan dari 1996 hingga 2001, Pakistan adalah salah satu dari hanya tiga negara yang secara diplomatik mengakui rezim di Kabul.
Para pengamat dan mantan pejabat pemerintah berulang kali menyatakan adanya dukungan finansial, logistik, dan keamanan dari sebagian militer dan aparat intelijen Pakistan untuk Taliban.
Setelah Taliban kembali berkuasa pada 2021, hubungan dekat dengan Pakistan berlanjut. Perwakilan lembaga keamanan Pakistan secara rutin mengunjungi Kabul dan Kandahar. Di panggung internasional, Pakistan juga berupaya mencegah agar Afganistan tidak terisolasi.
Namun dalam beberapa bulan terakhir, ketegangan meningkat tajam. Islamabad menuduh Taliban gagal mengambil tindakan tegas terhadap TTP. Taliban membantah secara aktif mendukung pemberontak Pakistan tersebut namun turut menentang operasi militer besar-besaran terhadap TTP. Kemitraan strategis yang dulu erat jadi bersitegang.
Ribuan Pengungsi Afganistan Terpaksa Meninggalkan Pakistan
01:24
This browser does not support the video element.
Ancaman TTP terhadap Pakistan
Huma Baqai, pakar hubungan internasional di Pakistan, mengatakan kepada DW bahwa serangan Pakistan terhadap Taliban di Afganistan dalam sudut pandangan kebijakan keamanan diperlukan oleh Pakistan karena menghadapi ancaman eksistensial. Meski hal itu dilakukan tanpa dukungan AS, "Pakistan jelas telah mendapat ‘restu' Washington untuk melakukannya,” jelas Baqai.
Baqai juga menyoroti pentingnya geopolitik Bagram. Jika Washington kembali membangun kehadiran militer di sana, maka AS akan bersinggungan secara langsung dengan Pakistan, Iran, Rusia, and Cina.
Fakta bahwa duta besar de facto Iran untuk Afganistan yang baru-baru ini secara terbuka berterima kasih kepada Taliban karena tidak mengizinkan AS menggunakan pangkalan tersebut menunjukkan ‘rapuhnya' keseimbangan di kawasan saat ini.
Hal ini disampaikan Iran meski negara tersebut belum secara resmi mengakui Taliban sebagai pemerintah resmi Afganistan.
Konflik di balik bayang-bayang perang Iran
Sardar Rahimi, peneliti hubungan internasional asal Afganistan di Universitas Inalco di Paris, mengatakan bahwa waktu serangan yang terjadi bertepatan dengan perang Iran memberikan keuntungan strategis bagi Pakistan. Ia menambahkan bahwa Pakistan saat ini berada dalam posisi ekonomi dan militer yang rentan dalam menghadapi Taliban.
Menurut Rahimi, Islamabad tidak dapat melanjutkan perang melawan Taliban tanpa dukungan diam-diam dari AS atau jaminan internasional lainnya. Oleh karena itu, penting melihat serangan terhadap Bagram dalam konteks politik. "Penyerangan pangkalan militer Bagram ini seperti ‘lampu hijau' dari Trump,” kata Rahimi. Hal ini juga mengindikasikan kesiapan Pakistan untuk kembali mengambil peran pengamanan di Afganistan setelah penarikan pasukan AS. "Semua ini merupakan bagian dari ‘teka-teki geopolitik yang lebih besar' di mana Pakistan berusaha menempatkan dirinya di kawasan ini sesuai dengan kepentingan AS,” tambahnya.
Sementara itu, Sultan Ahmad Baheen, mantan duta besar Afganistan untuk Cina, melihat adanya beberapa motif di balik serangan Pakistan. Ia menilai waktu serangan yang bertepatan dengan konflik Iran membuat aksi tersebut kurang mendapat perhatian internasional. Meski ada spekulasi mengenai koordinasi antara Islamabad dan Washington, Baheen menekankan bahwa situasinya lebih kompleks, termasuk upaya Pakistan melemahkan TTP serta sebagai pengalih perhatian dari tekanan politik dan ekonomi domestik.
Selain itu, laporan media menyebutkan bahwa fasilitas militer bekas AS tersebut kemungkinan masih memiliki simpanan senjata. "Jika ada ‘lampu hijau' dari Washington, kemungkinan masih dalam konteks tersebut,” kata Baheen.
Dalam jangka panjang, Baheen menilai Pakistan akan tetap menjalankan strategi lama: menjaga Afganistan agar tidak sepenuhnya stabil dan independen, berada dalam lanskap politik yang bergantung pada Islamabad.
Tujuannya bukan menggulingkan Taliban, tetapi melemahkan kekuatan yang menentang pengaruh Pakistan.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Sorta Caroline
Editor: Yuniman Farid
Larangan Kuliah oleh Taliban, Hak Perempuan Afganistan Dirampas
Sejak merebut kekuasaan pada pertengahan 2021, Taliban semakin membatasi hak-hak perempuan dan anak perempuan Afganistan. Kini, mereka membatasi akses perempuan ke pendidikan tinggi hingga memicu kemarahan internasional.
Foto: AFP
Perpisahan untuk selamanya?
Perempuan tidak akan diizinkan untuk kembali berkuliah. Dalam pernyataan pemerintah pada hari Selasa (20/12), Taliban menginstruksikan semua universitas di Afganistan, baik swasta maupun negeri, untuk melarang perempuan mengenyam pendidikan. Sekarang ini semua mahasiswa perempuan dilarang masuk ke universitas
Foto: AFP
Perempuan disingkirkan
Pasukan Taliban menjaga pintu masuk sebuah universitas di Kabul, sehari setelah larangan untuk perempuan berkuliah diberlakukan. Para mahasiswi diberitahu bahwa mereka tidak bisa masuk kampus. Larangan diberlakukan hingga batas waktu yang tidak ditentukan. Namun, sudah ada aksi protes di universitas, di mana siswa laki-laki batal mengikuti ujian dan beberapa dosen laki-laki juga mogok mengajar.
Foto: WAKIL KOHSAR/AFP/Getty Images
Pendidikan tinggi hanya untuk laki-laki
Sejumlah pembatasan telah diberlakukan sebelum ini. Setelah Taliban mengambil alih kekuasaan pada Agustus 2021, universitas harus memisahkan pintu masuk dan ruang kuliah berdasarkan jenis kelamin. Mahasiswi hanya boleh diajar oleh dosen perempuan atau oleh pria tua. Gambar ini menunjukkan ada batas pemisah untuk mahasiswi di Universitas Kandahar.
Foto: AFP/Getty Images
Angkatan terakhir
Mahasiswi Universitas Benawa di Kandahar, masih bisa ikut wisuda Maret lalu dengan gelar di bidang teknik dan ilmu komputer. Pembatasan baru atas hak-hak perempuan di Afganistan mengundang kecaman keras dari dunia internasional. Human Rights Watch menyebut larangan kuliah bagi perempuan sebagai "keputusan yang memalukan", sementara PBB menyatakan keputusan itu melanggar hak asasi perempuan.
Foto: JAVED TANVEER/AFP
Dampaknya menghancurkan masa depan negara
Ribuan perempuan dan anak perempuan mengikuti ujian masuk universitas pada Oktober lalu, salah satunya di Universitas Kabul. Banyak yang ingin belajar kedokteran atau menjadi guru. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan, larangan Taliban "tidak hanya melanggar persamaan hak perempuan dan anak perempuan, tetapi akan berdampak buruk pada masa depan negara."
Foto: WAKIL KOHSAR/AFP/Getty Images
Tutup peluang pendidikan untuk perempuan
Larangan untuk perempuan berkuliah adalah satu lagi pembatasan pendidikan bagi perempuan dan anak perempuan. Selama lebih dari setahun, gadis remaja hanya bisa bersekolah sampai kelas tujuh di sebagian besar provinsi. Gadis-gadis yang berjalan ke sekolah di Afganistan timur ini beruntung karena beberapa provinsi yang jauh dari pusat kekuatan Taliban mengabaikan larangan tersebut.
Foto: AFP
Negeri tanpa kehadiran perempuan
Perempuan dan anak perempuan sekarang disingkirkan dari sebagian besar aspek kehidupan publik Afganistan. Mereka tidak diizinkan mengunjungi gym atau taman bermain di Kabul selama berbulan-bulan. Taliban membenarkan larangan tersebut dengan berkilah, peraturan tentang pemisahan jenis kelamin tidak dipatuhi, dan banyak perempuan tidak mengenakan jilbab seperti yang diwajibkan oleh mereka.
Foto: WAKIL KOHSAR/AFP/Getty Images
Realitas distopia
Sejumlah perempuan mengumpulkan bunga safron di Herat. Ini adalah pekerjaan yang boleh mereka lakukan, tidak seperti kebanyakan profesi lainnya. Sejak berkuasa, Taliban telah memberlakukan banyak peraturan yang sangat membatasi kehidupan perempuan dan anak perempuan. Misalnya, mereka dilarang bepergian tanpa pendamping laki-laki dan harus mengenakan hijab di luar rumah setiap saat.
Foto: MOHSEN KARIMI/AFP
Sebuah aib yang memalukan
Banyak perempuan Afganistan menolak penghapusan hak-hak mereka dan berdemonstrasi di Kabul pada November lalu. Sebuah plakat bertuliskan "Kondisi Mengerikan Perempuan Afganistan Merupakan Noda Aib bagi Hati Nurani Dunia." Siapapun yang ikut protes perlu keberanian besar. Demonstran menghadapi risiko represi kekerasan dan pemenjaraan. Para aktivis hak-hak perempuan juga dianiaya di Afganistan.