1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
KonflikPakistan

Di tengah Perang Iran, Konflik Pakistan-Afganistan Memanas

19 Maret 2026

Pakistan telah menyatakan perang terbuka terhadap Afganistan dengan menggencarkan serangan udara pada fasilitas sipil dan pangkalan militer Bagram. Eskalasi ini terjadi di tengah sengitnya perang AS-Israel melawan Iran.

Kandahar, Afganistan 2026 | seorang anggota pasukan pengamanan Afganistan tengah melewati wilayah yang telah serangan Pakistan. Di latar belakang tampak kobaran api dan asap hitam tebal.
Serangan udara Pakistan di Afganistan kini tidak hanya menyasar terhadap keberadaan kelompok teroris Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP), tapi juga pangkalan militer AfganistanFoto: AFP

Saat perhatian internasional sedang berfokus pada perang AS-Israel dengan Iran, sebuah perang terbuka terus bereskalasi antara Afganistan dan Pakistan, yang berpotensi menimbulkan efek domino di seluruh kawasan.

Penguasa Taliban di Afganistan pada hari Selasa menuding Pakistan melakukan serangan udara yang menewaskan sedikitnya 400 orang di sebuah rumah sakit rehabilitasi narkoba di Kabul pada Senin malam(16/3). Lebih lanjut, otoritas Afganistan mengatakan serangan tersebut menghantam fasilitas rehabilitasi dengan 2.000 tempat tidur sekitar pukul 21.00 waktu setempat, menyebabkan kerusakan besar dan ratusan korban luka. Serangan ini adalah eskalasi besar dari pertempuran lintas batas yang telah berlangsung berminggu-minggu antara kedua negara.

Islamabad melalui Menteri Informasinya, Attaullah Tarar, membantah tudingan tersebut menyebut bahwa militernya melakukan serangan udara presisi yang menyasar instalasi militer dan infrastruktur pendukung teroris di Kabul dan provinsi Nangarhar di timur Afganistan

Baik Islamabad dan Taliban saling menyalahkan setelah munculnya bentrokan baru di tengah ketegangan yang sedang berlangsung. Pakistan menyatakan bahwa pihaknya hanya merespons serangan dari kelompok teroris negara tersebut, Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP), yang  beroperasi dari wilayah Afganistan. Pemerintah Taliban menolak tuduhan tersebut.

Namun dalam beberapa hari, serangan udara Pakistan tidak lagi hanya menargetkan TTP, tetapi juga pangkalan militer Afganistan.

Pada 1 Maret, bekas pangkalan Angkatan Udara AS di Bagram juga diserang. Berdasarkan laporan dan analisis citra satelit, sebuah hanggar dan dua gudang hancur. Namun Taliban mengeklaim bahwa serangan tersebut berhasil ditangkis dan pangkalan militernya tidak mengalami kerusakan.

Kenapa Pakistan dan Afganistan Bentrok di Perbatasan?

01:15

This browser does not support the video element.

Simbol di balik serangan Bagram

Bagram yang menjadi sasaran serangan mengubah dimensi konflik. Hingga 2021, Bagram adalah pusat operasi militer AS di Afganistan. Presiden AS Donald Trump beberapa kali menyebut bahwa AS seharusnya tidak pernah menyerahkan pangkalan militer tersebut, menekankan pentingnya posisi strategis pangkalan tersebut yang dekat dengan Cina.

Menurut laporan media, Washington sempat mempertimbangkan kemungkinan menggunakan kembali pangkalan tersebut. Taliban secara tegas menolak kehadiran pasukan AS di sana.

Serangan Pakistan ke Bagram terjadi pada hari kedua serangan AS-Israel terhadap Iran. Hal ini menyoroti berbagai konflik regional yang terjadi di saat yang bersamaan, meskipun tidak ada hubungan di antara kedua konflik tersebut.

Sejarah rumit Pakistan dan Taliban

Sebelumnya Taliban memiliki hubungan dekat dengan Pakistan. Pada masa kekuasaan pertama mereka di Afganistan dari 1996 hingga 2001, Pakistan adalah salah satu dari hanya tiga negara yang secara diplomatik mengakui rezim di Kabul.

Para pengamat dan mantan pejabat pemerintah berulang kali menyatakan adanya dukungan finansial, logistik, dan keamanan dari sebagian militer dan aparat intelijen Pakistan untuk Taliban.

Setelah Taliban kembali berkuasa pada 2021, hubungan dekat dengan Pakistan berlanjut. Perwakilan lembaga keamanan Pakistan secara rutin mengunjungi Kabul dan Kandahar. Di panggung internasional, Pakistan juga berupaya mencegah agar Afganistan tidak terisolasi.

Namun dalam beberapa bulan terakhir, ketegangan meningkat tajam. Islamabad menuduh Taliban gagal mengambil tindakan tegas terhadap TTP. Taliban membantah secara aktif mendukung pemberontak Pakistan tersebut namun turut menentang operasi militer besar-besaran terhadap TTP. Kemitraan strategis yang dulu erat jadi bersitegang.

Ribuan Pengungsi Afganistan Terpaksa Meninggalkan Pakistan

01:24

This browser does not support the video element.

Ancaman TTP terhadap Pakistan

Huma Baqai, pakar hubungan internasional di Pakistan, mengatakan kepada DW bahwa serangan Pakistan terhadap Taliban di Afganistan dalam sudut pandangan kebijakan keamanan diperlukan oleh Pakistan karena menghadapi ancaman eksistensial. Meski hal itu dilakukan tanpa dukungan AS, "Pakistan jelas telah mendapat ‘restu' Washington untuk melakukannya,” jelas Baqai.

Baqai juga menyoroti pentingnya geopolitik Bagram. Jika Washington kembali membangun kehadiran militer di sana, maka AS akan bersinggungan secara langsung dengan Pakistan, Iran, Rusia, and Cina.

Fakta bahwa duta besar de facto Iran untuk Afganistan yang baru-baru ini secara terbuka berterima kasih kepada Taliban karena tidak mengizinkan AS menggunakan pangkalan tersebut menunjukkan ‘rapuhnya' keseimbangan di kawasan saat ini.

Hal ini disampaikan Iran meski negara tersebut belum secara resmi mengakui Taliban sebagai pemerintah resmi Afganistan.

Konflik di balik bayang-bayang perang Iran

Sardar Rahimi, peneliti hubungan internasional asal Afganistan di Universitas Inalco di Paris, mengatakan bahwa waktu serangan yang terjadi bertepatan dengan perang Iran memberikan keuntungan strategis bagi Pakistan. Ia menambahkan bahwa Pakistan saat ini berada dalam posisi ekonomi dan militer yang rentan dalam menghadapi Taliban.

Menurut Rahimi, Islamabad tidak dapat melanjutkan perang melawan Taliban tanpa dukungan diam-diam dari AS atau jaminan internasional lainnya. Oleh karena itu, penting melihat serangan terhadap Bagram dalam konteks politik. "Penyerangan pangkalan militer Bagram ini seperti ‘lampu hijau' dari Trump,” kata Rahimi. Hal ini juga mengindikasikan kesiapan Pakistan untuk kembali mengambil peran pengamanan di Afganistan setelah penarikan pasukan AS. "Semua ini merupakan bagian dari ‘teka-teki geopolitik yang lebih besar' di mana Pakistan berusaha menempatkan dirinya di kawasan ini sesuai dengan kepentingan AS,” tambahnya.

Sementara itu, Sultan Ahmad Baheen, mantan duta besar Afganistan untuk Cina, melihat adanya beberapa motif di balik serangan Pakistan. Ia menilai waktu serangan yang bertepatan dengan konflik Iran membuat aksi tersebut kurang mendapat perhatian internasional. Meski ada spekulasi mengenai koordinasi antara Islamabad dan Washington, Baheen menekankan bahwa situasinya lebih kompleks, termasuk upaya Pakistan melemahkan TTP serta sebagai pengalih perhatian dari tekanan politik dan ekonomi domestik.

Selain itu, laporan media menyebutkan bahwa fasilitas militer bekas AS tersebut kemungkinan masih memiliki simpanan senjata. "Jika ada ‘lampu hijau' dari Washington, kemungkinan masih dalam konteks tersebut,” kata Baheen.

Dalam jangka panjang, Baheen menilai Pakistan akan tetap menjalankan strategi lama: menjaga Afganistan agar tidak sepenuhnya stabil dan independen, berada dalam lanskap politik yang bergantung pada Islamabad.

Tujuannya bukan menggulingkan Taliban, tetapi melemahkan kekuatan yang menentang pengaruh Pakistan.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Sorta Caroline

Editor: Yuniman Farid