1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Konflik Atom Iran

19 Januari 2006

Media Internasional menyoroti meruncingnya pertikaian mengenai pogram atom Iran.

Presiden Mahmud Ahmadinejad menandaskan hak Iran melakukan riset nuklir
Presiden Mahmud Ahmadinejad menandaskan hak Iran melakukan riset nuklirFoto: dpa

Pertikaian mengenai program atom Iran terus meruncing. Untuk memecahkannya, terungkap berbagai kemungkinan langkah yang akan ditempuh. Mulai dengan menggunakan jalur diplomasi, sampai kepada kemungkinan kekuakatn militer. Sementara desakan untuk mengajukannya lebih awal ke Dewan Keamanan PBB semakin lantang disuarakan.
Harian Denmark JYLLANS-POSTEN menulis:

"Keputusan Iran untuk kembali melanjutkan program atom, merupakan sebuah isyarat, dalam dekat akan ada kekuatan atom baru. Perundingan yang dilakukan selama ini terbukti tidak bermanfaat. Eropa telah berusaha selama tiga tahun. Tapi kelihatannya diplomasi bukan merupakan jalan yang tepat. Kebijakan Iran yang menantang perang, mengakibatkan tidak terelakkannya konflik dengan Amerika Serikat. Konsekuensi logis dari perkembangan yang terjadi saat ini adalah Iran menuju ke arah krisis keamanan yang baru, yang sama sekali tidak diperlukan dunia."

Harian Rusia ISWESTIJA yang terbit di Moskow dalam menanggapi konflik atom dengan Iran menurunkan komentar berjudul“ Iran tidak percaya terhadap resiko dari sebuah peperangan“.

"Secara resmi negara-negara barat bungkam terhadap kemungkinan digunakannya aksi kekerasan. Baik di Amerika Serikat maupun di Eropa dikatakan untuk memecahkan masalahnya hanya digunakan jalur diplomasi. Tapi apa yang terjadi, bila pemerintah di Teheran tidak menerimanya? Iran meyakini, mustahil akan terjadi sebuah peperangan. Dan melancarkan provokasi terhadap negara-negara barat. Presiden Iran dalam pernyataanya selalu melewati batas dan merasa tidak akan dimintai pertanggungan-jawabnya. Perhitungan ini akan terbukti dibulan-bulan mendatang."

Selanjutnya kami kutip komentar harian Italia CORRIERE DELLA SERRA yang terbit di Roma.

"Terdapat pertimbangan taktis dalam menghadapi konflik atom dengan Iran. Pertama, tidak hanya Amerika Serikat dan Eropa, melainkan juga Rusia dan Cina merasa yakin, bahwa pada akhirnya masalah konflik atom Iran akan sampai dan dibahas di Dewan Keamanan PBB. Yang kedua, mengenai perbedaan mengenai jadwal dan cara yang dilakukan menjelang sampai di Dewan Keamanan PBB. Bagi Rusia dan Cina, Iran semakin penting sebagai mitra bisni . Antara lain di sektor minyak bumi dan infrastruktur. Dengan demikian pemerintah di Moskow dan Beijing menyampaikan sikap menahan diri. Dan yang ketiga, bagaimana mencapai kesepakatan untuk menjawabnya, dimana harus menutup tuntutan untuk secara otomatis menjatuhkan sanksi."

Terakhir kami kutip komentar harian Jerman RHEINPFALZ menanggapi tuntutan Amerika Serikat agar Dewan Keamanan PBB memutuskan sanksi terhadap Irak.

"Berpaling dari unilateralisme dan unjuk kekuatan yang mengundang banyak kritik, dalam masalah konflik atom Iran, Amerika Serikat terus berusaha bagi kemungkinan untuk dapat mencapai konsensus yang luas. Bila kasusnya dibawa ke Dewan Keamanan PBB, bukan berarti berakhirnya usaha diplomasi, melainkan kasusnya dipindahkan ke tingkat yang lain. Pemerintahan Presiden Bush mendesak sengketa ini diajukan ke Dewan Keamanan PBB karena setiap penundaan dapat dimanfaatkan Iran. Dibalik desakan itu muncul kecemasan, rezim di Teheran dapat memecah belah masyarakat internasional. Sementara pada waktu bersamaan, Amerika Serikat bersama trio perunding Uni Eropa, yakni Jerman, Prancis dan Inggris secara intensif mengusahakan mencapai sikap bersama."