1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Konflik Terbuka Perancis Melawan Iran

18 September 2007

Pernyataan menteri luar negeri Perancis, Bernard Kouchner bahwa dalam konflik dengan Iran, pihaknya harus mempersiapkan diri menghadapi yang terburuk, ibaratnya memicu revolusi di tatanan politik internasional.

Menlu Peranci Bernard Kouchner
Menlu Peranci Bernard KouchnerFoto: AP

Dua tema disoroti harian-harian internasional. Pertama sikap Perancis yang tidak menutup kemungkinan melancarkan aksi militer terhadap Iran, dan kedua vonis pengadilan Eropa terhadap Microsoft.

Kita awali dengan sengketa terbuka antara Paris dan Teheran. Harian Italia La Repubblica yang terbit di Roma dalam tajuknya berkomentar : Sengketa antara Paris dan Teheran kini menjadi konflik terbuka. Namun Iran tidak bereaksi keras terhadap pernyataan Perancis yang tidak menutup kemungkinan opsi serangan militer. Uni Eropa kini terpecah menyikapi masalah ini. Tapi banyak negara Eropa justru mengritik keputusan Paris, yang melontarkan nada dramatis terhadap Teheran.

Harian Perancis Le Figaro yang terbit di Paris sebaliknya memuji sikap pemerintahnya. Dalam tajuknya harian ini berkomentar : Kemungkinan perang melawan Iran benar-benar nyata. Dalam konflik atom Iran, waktu sudah amat mendesak. Dalam waktu dekat ini, mungkin saja Teheran sudah dapat membuat bom atom. Harus dicegah alternativ buruk, pemilikan bom atom oleh Iran atau perang melawan Iran. Jadi, daripada menolak realitas, lebih baik mempersiapkan diri untuk dapat mencegah kemungkinan yang terburuk.

Sedangkan harian Luxmeburg Luxemburger Wort dalam tajuknya berkomentar : Dengan pernyataan yang tidak diplomatis, Perancis hendak menegaskan gawatnya konflik atom Iran. Dengan pernyataan Kouchner itu, secara bertahap Perancis kini melakukan perubahan haluan dengan lebih mendekat ke AS. Memang terlalu dini, jika mengatakan terjadi perubahan dalam hubungan trans-Atlantik di Perancis. Tapi yang jelas, Nicolas Sarkozy kini hendak mengubah cara diplomasi Perancis, yang dahulu dijaga dengan dedikasi tinggi oleh Jacques Chirac.

Tema lainnya yang disoroti harian Eropa adalah vonis terhadap perusahaan perangkat lunak terbesar di dunia, Microsoft yang dituding melanggar ketentuan persaingan yang jujur. Harian Austria Der Standard yang terbit di Wina berkomentar : Komisi Uni Eropa dengan berbusa-busa menguraikan alasannya melawan Microsoft. Dengan itu, diharapkan pangsa pasar Microsoft merosot drastis. Tapi dengan jelas terlihat, Komisi Uni Eropa melampaui kewenangannya, dan dalam sengketa ini lebih dipengaruhi emosi. Sebab, bagaimana perkembangan pangsa pasar, tetap harus diserahkan kepada produsen dan konsumen.

Terakhir harian Swiss Neue Zürcher Zeitung yang terbit di Zürich berkomentar : Kaputusan pengadilan Uni Eropa terhadap Microsift, adalah semacam sinyal peringatan, tapi ke arah yang salah. Dalam duel gengsi ini, pejabat resmi menang perkara, dan dengan itu seolah mendapat pembenaran, politik intervensinya terhadap perusahaan yang paling berhasil di pasaran, adalah benar dan tepat. Sikap agresif Microsoft dalam tema hak cipta serta buruknya kualitas produk, tidak dapat dikoreksi dengan peraturan, melainkan hanya dapat diubah oleh mekanisme pasar sendiri.