1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Kongres Nasional Rakyat Cina

6 Maret 2007

Kongres Nasional Rakyat Cina, yang merupakan kongres dari para perwakilan partai komunis, mencanangkan berbagai reformasi politik, khususnya di bidang ekonomi, pencemaran lingkungan dan jurang antara kaya dan miskin.

Sekitar 3.000 delegasi hadiri Kongres Nasional di Beijing
Sekitar 3.000 delegasi hadiri Kongres Nasional di BeijingFoto: AP

Sejumlah harian Eropa terutama menyoroti tema reformasi di bidang politik lingkungan dan ekonomi. Harian Inggris Financial Times yang terbit di London berkomentar:

"Walaupun dicanangkan reformasi politik lingkungan, tidak berarti bahwa hal itu akan dilaksanakan. Di Cina yang komunis, semua itu hanya memiliki arti simbolis. Perdana Menteri Wen Jiabao sudah meredam segala harapan, jauh sebelum kongres rakyat dibuka. Cina masih berada di stadium awal sosialisme, dan hingga 100 tahun mendatang situasinya tidak akan berubah."

Sementara harian Jerman Frankfurter Allgemeine Zeitung menulis:

"Perdana menteri Cina hendak menggambarkan negaranya sebagai sahabat lingkungan. Tapi dalam Kongres Nasional Rakyat itu tidak ada kata-kata menyangkut perubahan iklim global. Padahal Cina saat ini sudah termasuk negara produsen gas rumah kaca kedua terbesar di dunia, dan merasakan dampak berat dari perubahan iklim global. Tuntutan pengurangan emisi sudah ditolak tegas oleh pemerintah di Beijing. Pemerintah pusat di Beijing tidak memiliki kemampuan dalam menerapkan dokumen perlindungan iklim, bahkan juga yang paling sederhana. Yang menderita karenanya bukan hanya Cina tapi juga dunia."

Harian Jerman lainnya Handelsblatt yang terbit di Düsseldorf menulis:

"Cina kini berubah drastis. Dogma ekonomi dari Marx dan Lenin dengan cepat dicampakkan oleh para penerus Mao Zedong. Menjadi kaya bukan aib, melainkan tawaran kemajuan zaman. Akan tetapi, kebebasan terbaru itu selalu berhenti pada tempat yang sama, yakni di posisi, di mana partai komunis merasa terancam. Di Cina prinsip dasar ekonomi pasar sosialis tidak berlaku. Orientasi pada kekuasaan sudah ditanamkan sejak zaman Mao Zedong, dan penerusnya Wen Jiabao melanjutkannya empat generasi kemudian."

Harian Luxemburger Wort berkomentar:

"PM Wen Jiabao mengatakan, Cina hendak lebih adil, makmur dan lebih hijau. Padahal Kongres Nasional Rakyat yang digelar di Beijing, sudah diketahui hanya melaksanakan ritual, yang tidak menyinggung realitas sebenarnya. Dunia Barat menerima semua itu, dan bertindak seolah-olah tidak terpengaruh potensi ekonomi yang menggiurkan di Cina. Barat hendak menunjukan, tentu saja mereka tidak dapat mengisolasi negara berpenduduk terbanyak di dunia itu, sebagai mitra penting dalam perlindungan iklim."

Sementara harian Rusia Kommersant yang terbit di Moskow berkomentar:

"Cina melakukan segala cara untuk dapat diterima oleh dunia Barat. Kongres Nasional Rakyat harus dengan langkah liberalisasinya, harus dimengerti sebagai sinyal ke arah itu. Beijing mengubah sasaran politiknya, atau paling tidak membangkitkan kesan hendak melakukan reformasi. Dengan itu Cina hendak menunjukkan, tidak terlalu ngotot mempertahankan kedaulatannya dan lebih banyak berbuat untuk demokratrisasi. Cina sekarang sudah mengambil jarak dari politik masa lalunya. "