1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Kongres Rakyat Cina

5 Maret 2007

Kongres Rakyat Cina masih didikte para pembesar partai. Berita tentang kenaikan anggaran militer tidak perlu ditanggapi berlebihan.

Symbolbild Internationale Presseschau p178

Mengenai penyelenggaraan Kongres Nasional Rakyat Cina di Beijing, harian Inggris Financial Times menulis:

“Anggota delegasi akan mendiskusikan tema-tema penting seputar anggaran belanja, jurang antara kaya dan miskin, jaminan pasokan energi, pencemaran lingkungan, dan apa yang harus dilakukan dengan cadangan devisa yang begitu besar. Tapi pada akhir diskusi, mereka akan melakukan apa yang diinginkan Partai Komunis Cina. Jadi Kongres Nasional tahun ini bukan forum yang lebih hidup dari tahun 80-an. Jika Perdana Menteri Wen Jiabao 16 Maret mendatang menggelar konferensi pers pada akhir kongres ini, pertanyaan wartawan sebelumnya akan disaring dengan teliti. Wen Jiabao masih perlu menyadari, bahwa modernisasi ekonomi Cina dan liberalisasi masyarakatnya mau tak mau akan menuju pada reformasi politik.“

Harian ekonomi Prancis La Tribune menyoroti upaya pemerintah Cina menghadapi ketidakpuasan masyarakat pedesaan yang makin lama makin besar. Harian ini berkomentar:

“Presiden Hu Jintao dan para pendukungnya sudah melipat gandakan proyek pembangunan di kawasan pedalaman. Para pimpinan menyatakan akan mendengar keluhan rakyat dan menanggapinya, untuk menghindari ledakan sosial yang tidak terkendali. Sebab itu, sekarang mereka memberi prioritas pada isu lingkungan, kesehatan dan pendidikan. Dalam waktu dekat, keberhasilan menciptakan 'masyarakat sosialis yang harmonis’ masih belum bisa dibuktikan. Para penguasa lebih dulu harus menunjukkan kemampuannya di parlemen menemukan penggerak yang yakin tentang pentingnya perkembangan ke arah itu.“

Harian Austria die Presse menyoroti laporan tentang meningkatnya anggaran pertahanan Cina. Harian ini menulis:

"Di Taiwan, Jepang dan Amerika Serikat lonceng peringatan berdering. Perlukah itu? Di Taiwan ya, karena penduduk di sana memang dikonfrontasikan dengan upaya Cina daratan menguasai mereka, ini dipertegas dengan instalasi roket sepanjang daerah pantai. Seandainya retorika Beijing tidak terlalu agresif terhadap Taiwan yang mereka sebut pulau makar ini, mungkin orang akan lebih percaya dengan keterangan Cina bahwa peningkatan anggaran militernya murni bersifat defensif. Tapi Jepang dan Amerika Serikat juga terlalu berlebihan jika memperingatkan adanya ancaman militerisasi Cina. Militer Jepang yang modern tentu tidak perlu takut terhadap militer Cina. Selain itu, Jepang beraliansi dengan kekuatan militer terbesar dunia, yaitu Amerika Serikat. Dan pengeluaran militer Amerika Serikat sama besarnya dengan pengeluaran militer seluruh dunia lain. Dibandingkan dengan anggaran pertahanan Amerika Serikat, anggaran militer Cina hanya ibarat tikus kecil.“

Hal lain yang jadi sorotan pers adalah situasi di Afghanistan. Anggota pasukan internasional hari Minggu (04/03) mengalami serangan bunuh diri dekat kota Jalalabad. Mereka panik dan membalas dengan tembakan membabi buta. Harian Italia Corriere della Sera berkomentar:

"Kekacauan yang mengerikan di Jalalabad. Para serdadu mengalami shock setelah serangan bunuh diri, mereka takut tewas terkepung. Lalu secara membabi buta mereka menembak segala sesuatu yang bergerak. Akhirnya banyak korban sipil tewas, protes pun meluas. Banyak pihak tutup mulut, sementara masih belum jelas apa yang sebenarnya terjadi.“