1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Konsumsi Alkohol dan Perubahan Perilaku

13 April 2011

Selain dampak penyakit seperti gangguan pada hati, radang pankreas atau rusaknya sistem otot dan jantung, alkohol terutama mengubah metabolisme pada otak. Ini menyebabkan perubahan sikap dan perilaku.

Keywords Silhouette abenddämmerung abendsonne alc alkohol booze cocktail contour draußen evening view glas gras grasse kerzenlicht linie nachteinbruch open air outdoors plonk prost resort spirituose sunset tisch to relax trank trinkbares trinken twilight umriß wasserglas zeche öffnen Land Japan URL http://de.fotolia.com/id/16792246 Paylessimages - Fotolia.com
Foto: Fotolia/Paylessimages

Di Jerman ada sekitar 2,5 juta orang pecandu alkohol. Selain dampak penyakit seperti gangguan pada hati, radang pankreas atau rusaknya sistem otot dan jantung, alkohol terutama mengubah metabolisme pada otak. Ini menyebabkan perubahan sikap dan perilaku.

Indikasi orang yang kecanduan alkohol misalnya, ia tidak lagi mengerti lelucon, karena di bagian otak yang mengatur rasa humor, yakni punch line, tidak mampu menyampaikan rangsangan bagian lucu dari sebuah lelucon.

Mengolah Emosi

Alkohol banyak diminum di masa karnaval.Foto: picture-alliance/dpa

Apakah dan bagaimana pecandu alkohol dapat mengolah emosi dan rangsangan sosial, pakar ilmu syaraf melakukan uji coba tentang hal ini dengan bantuan lelucon. Bagi pakar neuropsikologi Jennifer Uekermann hal ini berarti pekerjaan yang penuh dengan susah payah.

Ia bercerita, "Saya bertanggung jawab untuk memilih lelucon dari internet. Untuk itu saya membaca sekitar 20 ribu lelucon yang harus memenuhi kriteria tertentu. Misalnya, lelucon itu tidak boleh bersifat menyinggung kelompok minoritas."

Akhirnya dengan 24 lelucon hasil seleksi, para pakar ingin mengetahui bagaimana reaksi pecandu alkohol terhadap rangsangan sosial di sekitarnya. Misalnya apakah mereka dapat membaca emosi pada wajah orang lain atau pada kata-kata yang diucapkan.

Pengolahan Rasa Humor

Sekt, minuman mengandung Alkohol, yang sering disajikan di Jerman, jika orang merayakan sesuatu.Foto: Fotolia/pressmaster

Menurut definisi para ilmuwan, pengolahan rasa humor berlangsung dua tahap. Pertama dengan menemukan adanya inkongruen yakni ketidakselarasan dan penjelasannya. Kedua kemampuan untuk merasakan bahwa lelucon yang dipaparkan itu lucu. Hal itu tergantung, apakah orang yang mendengarkan mampu menempatkan dirinya dalam posisi orang lain. Pakar neuropsikologi menyebut kompetensi ini sebagai Theory of Mind.

Dengan aspek ini para ilmuwan melakukan uji coba terhadap 29 orang yang sehat dan 29 pecandu alkohol. Kepada mereka dipaparkan kisah lucu yang belum tuntas, dimana mereka harus memilih empat opsi tentang akhir dari kisah lucu tersebut. Dari kelompok pecandu alkohol hanya sedikit yang berhasil menarik inti dari lelucon itu. Kuota mereka untuk hasil yang benar dibanding kelompok yang tidak berada di bawah pengaruh alkohol membuktikan adanya defisit fungsi kognitif di kalangan pecandu alkohol.

Tidak Berfungsi

Bir yang disajikan dalam gelasFoto: Fotolia/Nikola Bilic

Pakar neuropsikologi Uekermann menjelaskan, dalam menyimpulkan rasa humor ada bagian otak yang tidak berfungsi baik. "Dari penelitian lainnya diketahui bahwa berbagai bagian otak aktif dalam mengolah penyerapan lelucon. Dan itu terutama menyangkut bagian otak cortex prefrontal,“ demikian Uekermann.

Cortex prefontal terletak di bagian depan otak besar atau lobus frontal otak besar. Dan memiliki peran kunci dalam hubungan interaksi antar manusia. Misalnya dalam mengolah rangsangan sosial dan proses berpikir untuk menyusun rencana dan mencari solusi.

Artinya jika lelucon tidak sampai merangsang cortex prefrontal, maka orang yang bersangkutan juga sulit berinteraksi dengan orang lain. Baik dalam pekerjaan maupun dalam situasi pribadi. Hasil studi tersebut memberi pakar neuropsikologi informasi untuk melatih kemampuan sosial berkaitan dengan terapi bagi penderita kecanduan alkohol.

Tapi bukan berarti orang harus langsung merasa khawatir, jika dirinya tidak bisa langsung tertawa jika mendengar setiap lelucon. Dikatakan Uekermann, "Saya pikir apa yang oleh seseorang dianggap lucu adalah hal yang sangat subjektif ."

Klaus Deuse / Dyan Kostermans

Editor: Marjory Linardy