1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Korea Utara Pamerkan Kapal Selam Nuklir Pertama

Prita Kusumaputri Sumber: AP, Reuters
25 Desember 2025

Korea Utara pamerkan kapal selam bertenaga nuklir pertamanya, dengan disertai teguran keras diktatur Kim Jong Un terhadap jiran di selatan. Seoul sedang mengembangkan teknologi serupa dengan bantuan Amerika Serikat.

Gambar dari KCNA pada 25 Desember 2025 menunjukkan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un di dekat kapal selam bertenaga nuklir yang sedang dibangun di lokasi yang tidak disebutkan di Korea Utara. Jurnalis independen tidak memiliki akses ke acara yang terlihat dalam foto yang disebarkan oleh pemerintah Korea Utara ini
Konstruksi kapal selam bertenaga nuklir milik Korea Utara yang dinilai telah mengalami kemajuanFoto: KCNA/Korea News Service/AP Photo/dpa/picture alliance

Korea Utara memamerkan kemajuan terbaru dalam pembangunan kapal selam bertenaga nuklir, sebuah langkah yang menandai eskalasi baru dalam persaingan militer di Semenanjung Korea. Pameran ini muncul di tengah ketegangan yang meningkat dengan Korea Selatan, yang juga tengah mengupayakan teknologi serupa dengan dukungan Amerika Serikat.

Kantor Berita Pusat Korea (Korean Central News Agency/KCNA), pada Kamis (25/12), merilis foto-foto yang memperlihatkan badan kapal selam besar yang tampak hampir rampung. Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un terlihat meninjau proyek tersebut sambil didampingi pejabat tinggi dan putrinya. 

Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un (tengah) sedang memeriksa pembangunan kapal selam bertenaga nuklir berkapasitas 8.700 ton. Foto diterbitkan oleh Korean Central News Agency pada 25 Desember 2025Foto: Yonhap/YONHAPNEWS AGENCY/picture alliance

Kapal selam seberat sekitar 8.700 ton itu disebut Pyongyang sebagai bagian kunci dari modernisasi angkatan laut sekaligus penguatan kemampuan nuklir negara tersebut.

Kim menyebut langkah Korea Selatan memperoleh kapal selam bertenaga nuklir yang mendapat lampu hijau politik dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebagai tindakan ofensif yang mengancam keamanan dan kedaulatan maritim Korea Utara.

Ia menegaskan bahwa proyek kapal selam nuklir Pyongyang justru menjadi semakin mendesak di tengah apa yang ia gambarkan sebagai tekanan militer dari musuh. Korea Utara mengatakan kapal tersebut akan dipersenjatai nuklir dan mengklasifikasikannya sebagai "kapal selam serangan nuklir strategis”.

Jika berhasil dioperasikan, kapal selam ini akan memberi Pyongyang kemampuan peluncuran rudal dari bawah laut, salah satu elemen paling sulit dideteksi dalam sistem pertahanan modern dan penguat signifikan daya tangkal nuklirnya. Meski belum jelas kapan kapal selam itu akan sepenuhnya selesai, analis menilai tampilan badan kapal yang nyaris utuh menunjukkan tahap pembangunan yang sudah jauh.

"Menampilkan seluruh badan kapal pada tahap ini tampaknya menunjukkan bahwa sebagian besar peralatan sudah terpasang dan kapal itu hampir siap diluncurkan ke laut,” kata Moon, mantan perwira kapal selam Angkatan Laut Korea Selatan. Ia menilai kapal selam Korea Utara tersebut berpotensi menjalani uji coba laut dalam hitungan bulan. 

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un (ketiga dari kiri) saat memeriksa kapal selam bertenaga nuklir yang sedang dibangun di lokasi yang tidak disebutkan namanya di Korea UtaraFoto: KCNA/Korea News Service/AP Photo/dpa/picture alliance

Kapal selam nuklir jadi target militer berikutnya

Ambisi kapal selam nuklir ini merupakan bagian dari daftar panjang persenjataan canggih yang diumumkan Kim pada 2021, termasuk rudal balistik antarbenua berbahan bakar padat, senjata hipersonik, satelit pengintai, dan rudal dengan hulu ledak jamak. Dalam beberapa tahun terakhir, Korea Utara secara konsisten menunjukkan kemajuan di sejumlah bidang tersebut, termasuk peluncuran kapal perusak baru yang diklaim memperluas jangkauan dan fleksibilitas serangan nuklirnya.

Namun, proyek kapal selam nuklir Pyongyang juga memicu pertanyaan besar. Sebagai negara yang dikenai sanksi internasional ketat dan menghadapi keterbatasan ekonomi, kemampuan Korea Utara untuk mengembangkan reaktor nuklir laut secara mandiri masih diperdebatkan. Sejumlah pengamat menilai kedekatan Pyongyang dengan Moskow yang diperkuat lewat dukungan militer Korea Utara terhadap perang Rusia di Ukraina, mungkin membuka akses terhadap teknologi krusial.

Meski ada spekulasi bahwa Korea Utara bisa memperoleh reaktor dari Rusia, Moon menilai kemungkinan lebih besar Pyongyang mengembangkan desain reaktornya sendiri, dengan atau tanpa bantuan teknis terbatas dari luar. 

Korea Selatan juga incar kapal selam nuklir

Di sisi lain, Korea Selatan juga semakin terbuka menyuarakan ambisinya memiliki kapal selam bertenaga nuklir. Dalam pertemuan dengan Trump pada November lalu, Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung meminta dukungan Washington, sembari berjanji meningkatkan anggaran pertahanan. Trump kemudian mengatakan Amerika Serikat terbuka untuk berbagi teknologi sensitif, meski detail realisasi proyek tersebut masih belum jelas.

Pameran kapal selam nuklir Korea Utara ini terjadi di tengah memburuknya hubungan antar-Korea dan mandeknya diplomasi nuklir. Pyongyang terus menolak ajakan dialog dari Seoul dan Washington sejak perundingan dengan Amerika Serikat runtuh pada 2019. Dengan kemampuan militer yang kian ditampilkan ke ruang publik, pesan Korea Utara kali ini tampak jelas: perlombaan kekuatan di kawasan belum akan melambat.

Editor: Rizki Nugraha