Korea Utara Pamerkan Kapal Selam Nuklir Pertama
25 Desember 2025
Korea Utara memamerkan kemajuan terbaru dalam pembangunan kapal selam bertenaga nuklir, sebuah langkah yang menandai eskalasi baru dalam persaingan militer di Semenanjung Korea. Pameran ini muncul di tengah ketegangan yang meningkat dengan Korea Selatan, yang juga tengah mengupayakan teknologi serupa dengan dukungan Amerika Serikat.
Kantor Berita Pusat Korea (Korean Central News Agency/KCNA), pada Kamis (25/12), merilis foto-foto yang memperlihatkan badan kapal selam besar yang tampak hampir rampung. Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un terlihat meninjau proyek tersebut sambil didampingi pejabat tinggi dan putrinya.
Kapal selam seberat sekitar 8.700 ton itu disebut Pyongyang sebagai bagian kunci dari modernisasi angkatan laut sekaligus penguatan kemampuan nuklir negara tersebut.
Kim menyebut langkah Korea Selatan memperoleh kapal selam bertenaga nuklir yang mendapat lampu hijau politik dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebagai tindakan ofensif yang mengancam keamanan dan kedaulatan maritim Korea Utara.
Ia menegaskan bahwa proyek kapal selam nuklir Pyongyang justru menjadi semakin mendesak di tengah apa yang ia gambarkan sebagai tekanan militer dari musuh. Korea Utara mengatakan kapal tersebut akan dipersenjatai nuklir dan mengklasifikasikannya sebagai "kapal selam serangan nuklir strategis”.
Jika berhasil dioperasikan, kapal selam ini akan memberi Pyongyang kemampuan peluncuran rudal dari bawah laut, salah satu elemen paling sulit dideteksi dalam sistem pertahanan modern dan penguat signifikan daya tangkal nuklirnya. Meski belum jelas kapan kapal selam itu akan sepenuhnya selesai, analis menilai tampilan badan kapal yang nyaris utuh menunjukkan tahap pembangunan yang sudah jauh.
"Menampilkan seluruh badan kapal pada tahap ini tampaknya menunjukkan bahwa sebagian besar peralatan sudah terpasang dan kapal itu hampir siap diluncurkan ke laut,” kata Moon, mantan perwira kapal selam Angkatan Laut Korea Selatan. Ia menilai kapal selam Korea Utara tersebut berpotensi menjalani uji coba laut dalam hitungan bulan.
Kapal selam nuklir jadi target militer berikutnya
Ambisi kapal selam nuklir ini merupakan bagian dari daftar panjang persenjataan canggih yang diumumkan Kim pada 2021, termasuk rudal balistik antarbenua berbahan bakar padat, senjata hipersonik, satelit pengintai, dan rudal dengan hulu ledak jamak. Dalam beberapa tahun terakhir, Korea Utara secara konsisten menunjukkan kemajuan di sejumlah bidang tersebut, termasuk peluncuran kapal perusak baru yang diklaim memperluas jangkauan dan fleksibilitas serangan nuklirnya.
Namun, proyek kapal selam nuklir Pyongyang juga memicu pertanyaan besar. Sebagai negara yang dikenai sanksi internasional ketat dan menghadapi keterbatasan ekonomi, kemampuan Korea Utara untuk mengembangkan reaktor nuklir laut secara mandiri masih diperdebatkan. Sejumlah pengamat menilai kedekatan Pyongyang dengan Moskow yang diperkuat lewat dukungan militer Korea Utara terhadap perang Rusia di Ukraina, mungkin membuka akses terhadap teknologi krusial.
Meski ada spekulasi bahwa Korea Utara bisa memperoleh reaktor dari Rusia, Moon menilai kemungkinan lebih besar Pyongyang mengembangkan desain reaktornya sendiri, dengan atau tanpa bantuan teknis terbatas dari luar.
Korea Selatan juga incar kapal selam nuklir
Di sisi lain, Korea Selatan juga semakin terbuka menyuarakan ambisinya memiliki kapal selam bertenaga nuklir. Dalam pertemuan dengan Trump pada November lalu, Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung meminta dukungan Washington, sembari berjanji meningkatkan anggaran pertahanan. Trump kemudian mengatakan Amerika Serikat terbuka untuk berbagi teknologi sensitif, meski detail realisasi proyek tersebut masih belum jelas.
Pameran kapal selam nuklir Korea Utara ini terjadi di tengah memburuknya hubungan antar-Korea dan mandeknya diplomasi nuklir. Pyongyang terus menolak ajakan dialog dari Seoul dan Washington sejak perundingan dengan Amerika Serikat runtuh pada 2019. Dengan kemampuan militer yang kian ditampilkan ke ruang publik, pesan Korea Utara kali ini tampak jelas: perlombaan kekuatan di kawasan belum akan melambat.
Editor: Rizki Nugraha