Korsel Persempit Zona Penyangga di Perbatasan Korea Utara
Sean Sinico sumber: AFP, Yonhap
18 Juni 2026
Korea Selatan akan memangkas zona pembatas sipil atau CCL di dekat perbatasan Korea Utara mulai 2027. Langkah ini diharapkan mempermudah aktivitas warga, petani, dan pembangunan daerah.
Menteri Pertahanan Korsel mengatakan warga Korea Selatan akan memiliki akses ke lebih banyak lahan, tetapi operasi militer di wilayah tersebut tidak akan terpengaruhFoto: Seung-il Ryu/NurPhoto/picture alliance
Iklan
Di tengah ketegangan yang masih berlangsung di sepanjang Zona Demiliterisasi yang memisahkan Korea Selatan (Korsel) dan Korea Utara (Korut), Kementerian Pertahanan (Kemenhan) Korsel mengumumkan bahwa warga dan petani akan memperoleh akses ke area yang lebih luas di dekat perbatasan mulai 2027.
Pengumuman dari Kemenhan yang disampaikan pada Rabu (17/06) itu menyatakan bahwa Civilian Control Line (CCL) atau zona pembatas sipil yang berada di bawah kendali militer di sisi selatan perbatasan, akan dipangkas dari 10 kilometer menjadi sekitar 6 kilometer.
"CCL dibentuk untuk membatasi akses warga sipil dan menjamin kelancaran operasi militer, tetapi belakangan muncul semakin banyak tuntutan agar sistem pengawasan tersebut diperkuat dan disesuaikan," kata Menteri Pertahanan Korea Selatan Ahn Gyu Back.
"Kami telah menyusun rencana penyesuaian CCL untuk menyesuaikan dengan lingkungan keamanan di masa depan, di tengah berkurangnya jumlah personel militer, sambil tetap memastikan kondisi operasional tetap terjaga," tambahnya.
Para petani Korea Selatan akan dapat menggarap lebih banyak lahan milik swasta di dekat perbatasan dengan Korea UtaraFoto: Kwak Kyung-keun/Matrix Images/picture alliance
Aturan aktivitas warga di sekitar perbatasan
Dalam aturan CCL, warga Korea Selatan memerlukan izin militer untuk tinggal atau bertani di wilayah tersebut. Para pengamat menilai kondisi itu membuat masyarakat setempat menghadapi berbagai kerugian ekonomi.
Iklan
"Kami akan memperbolehkan pembangunan daerah, sejauh tidak mengganggu operasi militer," ujar Ahn Gyu Back.
Warga menyambut baik kebijakan tersebut karena dinilai dapat memperluas aktivitas pertanian sekaligus mendorong pembangunan dan pariwisata di kawasan perbatasan.
Kepada kantor berita AFP, anggota dewan daerah Ganghwa, Park Heung Yeol, mengatakan bahwa pembangunan, bahkan di atas lahan milik pribadi yang berada dalam kawasan pengawasan tetap memerlukan persetujuan militer.
Ambisi Kim Il Sung menguasai Semenanjung Korea tidak hanya merenggut jutaan nyawa, tetapi juga berakhir pahit untuk aliansi komunis di utara. Perang Korea gagal mengubah garis demarkasi yang masih bertahan hingga kini.
Foto: Public Domain
Korea Terbagi Dua
Selepas Perang Dunia II, Korea yang dijajah Jepang mendapat nasib serupa layaknya Jerman yang dibagi dua antara sekutu Barat dan Uni Soviet. Ketika AS membentuk pemerintahan boneka di bawah Presiden Syngman Rhee untuk kawasan di selatan garis lintang 38°, Uni Soviet membangun rezim komunis di bawah kepemimpinan Kim Il Sung.
Foto: Getty Images/AFP
Siasat Kim Lahirkan Perang Saudara
Awal 1949 Kim Il Sung berusaha meyakinkan Josef Stalin untuk memulai invasi ke selatan. Namun permintaan itu ditolak Stalin karena mengkhawatirkan intervensi AS. Terlebih serdadu Korut saat itu belum terlatih dan tidak mempunyai perlengkapan perang yang memadai. Atas desakan Kim, Soviet akhirnya membantu pelatihan militer Korut. Pada 1950 pasukan Korut sudah lebih mumpuni ketimbang serdadu Korsel
Foto: Bundesarchiv, Bild 183-R80329 / CC-BY-SA
Peluang Emas di Awal 1950
Keraguan Stalin bukan tanpa alasan. Sebelum 1950 Cina masih tenggelam dalam perang saudara antara kaum nasionalis dan komunis, pasukan AS masih bercokol di Korsel dan ilmuwan Soviet belum berhasil mengembangkan bom nuklir layaknya Amerika Serikat. Ketika situasi tersebut mulai berubah, Stalin memberikan lampu hijau bagi invasi pada April 1950.
Foto: picture-alliance/dpa/Bildfunk
Kekuatan Militer Korut
Berkat Soviet, pada pertengahan 1950-an Korut memiliki 200.000 serdadu yang terbagi dalam 10 divisi infanteri, satu divisi kendaraan lapis baja berkekuatan 280 tank dan satu divisi angkatan udara dengan 210 pesawat tempur. Militer Korut juga dipersenjatai 200 senjata artileri, 110 pesawat pembom dan satu divisi pasukan cadangan berkekuatan 30.000 serdadu dengan 114 pesawat tempur dan 105 tank
Foto: AFP/Getty Images
Kekuatan Militer Korsel
Sebaliknya kekuatan militer Korea selatan masih berada jauh di bawah saudaranya di utara. Secara umum Korsel hanya berkekuatan 98.000 pasukan, di antaranya cuma 65.000 yang memiliki kemampuan tempur, dan belasan pesawat, tapi tanpa tank tempur atau artileri berat. Saat itu pasukan AS banyak terkonsentrasi di Jepang dan hanya menempatkan 300 serdadu di Korsel.
Foto: picture-alliance/dpa
Badai Komunis Mengamuk di Selatan
Pada 25 Juni 1950 sekitar 75.000 pasukan Korut menyebrang garis lintang 38° untuk menginvasi Korea Selatan. Hanya dalam tiga hari Korut yang meniru strategi Blitzkrieg ala NAZI Jerman merebut ibu kota Seoul dengan mengandalkan divisi lapis baja dan serangan udara. Pada hari kelima kekuatan Korsel menyusut menjadi hanya 22.000 pasukan
Foto: picture-alliance/dpa
Arus Balik dari Busan
Kendati AS mulai memindahkan pasukan dari Jepang ke Korsel, hingga awal September 1950 pasukan Korut berhasil menguasai 90% wilayah selatan, kecuali secuil garis pertahanan di sekitar kota Busan. Dari kota inilah Amerika Serikat dan pasukan PBB melancarkan serangan balik yang kelak mengubur impian Kim Il Sung menguasai semenanjung Korea.
Foto: Public Domain
September Berdarah
Di bawah komando Jendral Douglas MacArthur, pasukan gabungan antara AS, PBB dan Korea Selatan yang kini berjumlah 180.000 serdadu mulai mematahkan kepungan Korut terhadap Busan. Berbeda dengan pasukan Sekutu, Korut yang tidak diperkuat bantuan laut dan udara mulai kewalahan dan dipaksa mundur semakin ke utara.
Foto: Public Domain
Nasib Buruk Berputar ke Utara
Pada 25 September pasukan sekutu berhasil merebut kembali Seoul. Serangan udara dan artileri militer AS berhasil menghancurkan sebagian besar tank dan senjata artileri milik Korut. Atas saran Cina, Kim menarik mundur pasukannya dari selatan. Jelang Oktober hanya sekitar 30.000 pasukan Korut yang berhasil kembali ke utara.
Foto: Public Domain
Intervensi Mao
Ketika pasukan AS melewati batas demarkasi pada 1 Oktober, Stalin dan Kim mendesak Mao Zedong dan Zhou Enlai agar mengirimkan enam divisi invanteri Cina ke Korea. Soviet sendiri sudah menegaskan tidak akan menurunkan langsung pasukannya. Permintaan tersebut baru dijawab pada 25 Oktober, setelah serangkaian perjalanan diplomasi antara Beijing dan Moskow.
Foto: gemeinfrei
Mundur Teratur
Hingga November 1950 pasukan AS tidak hanya merebut Pyongyang, tetapi juga berhasil merangsek hingga ke dekat perbatasan Cina. Kemenangan AS terhenti setelah pasukan Cina yang berkekuatan 200.000 tentara mulai melakukan serangan balik. Intervensi tersebut menyebabkan kekalahan besar pada pasukan AS yang terpaksa mengundurkan diri dari Korea Utara pada pertengahan Desember.
Foto: Public Domain
Berakhir dengan Kebuntuan
Hingga Juli 1951 pasukan Cina dan AS masih bertempur sengit di sekitar perbatasan garis lintang 38°. Baru pada pertengahan tahun kedua pihak mulai mengendurkan serangan yang menyebabkan situasi buntu. Setelah kematian Josef Stalin, sikap Uni Soviet mulai melunak dan pada 27. Juli 1953 kedua pihak menyepakati gencatan senjata yang masih berlaku hingga kini.
Foto: picture-alliance/dpa
Hilang Nyawa Terbuang
Pada akhir Perang Korea, sebanyak 33.000 pasukan AS dilaporkan tewas dalam pertempuran. Sementara Korsel melaporkan sebanyak 373.000 warga sipil dan 137.000 pasukan tewas. Sebaliknya Cina kehilangan 400.000 serdadu dan Korut 215.000 pasukan, serta 600.000 warga sipil. Secara umum angka kematian yang diderita kedua pihak mencapai 1,2 juta jiwa.
CCL dibentuk setelah Perang Korea pada 1950 hingga 1953 untuk mengendalikan akses serta melindungi instalasi militer di sepanjang perbatasan kedua negara. Saat ini, zona tersebut membentang hingga sekitar 7 kilometer di selatan Garis Demarkasi Militer di wilayah barat dan hingga 10 kilometer di wilayah timur.
Meski berfungsi sebagai zona penyangga keamanan bagi Korea Selatan, keberadaan CCL juga kerap menyulitkan kehidupan sehari hari warga yang ingin mengembangkan lahan mereka.
Kepala Daerah Yeoncheon, Kim Deok Hyeon, mengatakan kepada AFP bahwa kebijakan baru tersebut akan "secara signifikan mengurangi kesulitan yang dihadapi para petani setempat."
Kebijakan itu juga mencakup penyederhanaan besar dalam prosedur perizinan penerbangan drone pertanian.
Para pakar menilai langkah tersebut kecil kemungkinannya dapat memicu reaksi Pyongyang karena hanya menyangkut wilayah perbatasan yang berada di sisi Korea Selatan.
Pada tahun 2025, Korea Selatan mencabut pengeras suara yang digunakan untuk menyiarkan musik K-pop dan siaran berita ke Korea Utara. Langkah itu diambil pemerintah Lee Jae Myung sebagai upaya meredakan ketegangan dengan negara tetangganya yang terisolasi secara diplomatik dan memiliki senjata nuklir tersebut.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris