Seberapa Bahaya Skandal Korupsi di Ukraina bagi Zelenskyy?
15 Mei 2026
Pada 11 Mei, Biro Antikorupsi Nasional Ukraina (NABU) dan Kejaksaan Antikorupsi Khusus (SAP) mengumumkan status tersangka terhadap mantan Kepala Kantor Presiden, Andrij Jermak. Dalam sistem hukum Ukraina, langkah ini setara dengan dimulainya proses dakwaan di pengadilan.
Jermak dituduh terlibat dalam pencucian uang sebagai bagian dari kelompok terorganisasi. Dia terancam dapat dijatuhi hukuman penjara antara delapan hingga dua belas tahun. Menurut lembaga antirasuah tersebut, kelompok yang diduga melibatkan Jermak mencuci uang sekitar 460 juta hryvnia—sekitar sembilan juta euro atau Rp185 miliar—melalui sebuah proyek pembangunan mewah di dekat Kyiv. Dalam perkembangan selanjutnya, enam orang lain juga ditetapkan sebagai tersangka dalam perkara yang sama.
"Tingkat kejahatannya sangat serius. Saat ini kami masih mengumpulkan bukti,” ujar Kepala SAP Oleksandr Klymenko dalam konferensi pers di Kyiv. Sidang awal kasus ini dimulai pada 12 Mei.
Pengadilan Tinggi Antikorupsi Ukraina memutuskan penahanan sementara terhadap Jermak selama 60 hari. Namun dia diberi kesempatan untuk tetap bebas dengan membayar jaminan sebesar 140 juta hryvnia—sekitar 2,7 juta euro atau Rp55 miliar.
"Saya tidak punya uang sebanyak itu,” kata Jermak kepada wartawan setelah keputusan pengadilan diumumkan.
Dugaan skema proyek properti
Menurut penyelidikan, perkara ini bermula pada 2018 ketika salah seorang terdakwa menjadi salah satu pendiri perusahaan BLOOM Development. Dalam video yang dirilis NABU, perusahaan itu dicatat membeli lebih dari empat hektare lahan di dekat Kyiv pada musim panas 2019 dan mulai membangun kompleks hunian mewah bernama "Dynastie” pada 2021.
Para penyidik menduga proyek tersebut digunakan sebagai sarana untuk memasukkan kembali duit ilegal dalam jumlah besar ke dalam sistem ekonomi nasional. Dana itu diduga berasal dari berbagai sumber, termasuk praktik korupsi di perusahaan energi milik negara Energoatom.
Kelompok itu disebut dipimpin oleh seorang pria dengan nama sandi "Karlson”, yang diyakini sebagai pengusaha bernama Timur Minditsch—sekutu dekat Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy. Minditsch juga dikenal sebagai salah seorang pemilik perusahaan produksi televisi Kwartal-95, yang pernah didirikan oleh Zelenskyy.
Nama Jermak disebut sebagai salah satu anggota kelompok tersebut. Dalam kaitannya dengan penyelidikan ini, NABU menggeledah kantor dan rumah pribadinya pada November 2025. Meski saat itu belum berstatus tersangka, Jermak mengundurkan diri dari jabatan Kepala Kantor Presiden yang diembannya sejak 2020.
Jermak membantah memiliki rumah di kompleks Dynastie dan menyebut tuduhan itu tidak berdasar.
"Dalam beberapa bulan terakhir, aparat penegak hukum ditekan secara terbuka untuk memulai penyelidikan terhadap saya,” tulisnya di Telegram pada malam 12 Mei. Dia juga menegaskan akan tetap berada di Ukraina dan siap menjalani semua proses hukum.
Dampak bagi Zelenskyy
Jermak dikenal memiliki hubungan dekat dengan Presiden Zelenskyy. Sejumlah jurnalis bahkan berspekulasi bahwa salah satu rumah di kompleks tersebut mungkin dimiliki Zelenskyy melalui perantara. Namun NABU dan SAP membantah spekulasi tersebut.
"Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy tidak pernah dan tidak sedang menjadi objek penyelidikan NABU dan SAP,” kata Kepala NABU Semen Krywonos dalam konferensi pers pada 12 Mei.
Meski demikian, sejumlah pengamat menilai kasus ini tetap berpotensi merusak reputasi presiden. Ilmuwan politik Ukraina, Petro Oleschtschuk, menilai perkara ini mungkin tidak langsung berdampak besar, tetapi akan terus membayangi pemerintahan saat ini.
"Kasus ‘Minditsch-Gate' akan terus muncul dan tidak akan hilang begitu saja. Ia akan menjadi latar yang selalu memengaruhi persepsi publik terhadap kerja presiden,” ujarnya kepada DW.
Menurut Oleschtschuk, baik lawan politik domestik Zelenskyy maupun aktor eksternal bisa saja berkepentingan mengompori perhatian publik terhadap skandal ini. Dia tidak menutup kemungkinan bahwa kasus tersebut juga dimanfaatkan untuk menekan kepemimpinan Ukraina agar menerima solusi perang yang tidak menguntungkan Kyiv.
Ilmuwan politik lain, Wolodymyr Fesenko, melihat risiko bagi citra Zelenskyy lebih mungkin muncul di masa depan. Selama masih menjabat presiden, Zelenskyy memiliki kekebalan hukum sehingga tidak dapat diselidiki seperti Jermak.
"Ancaman terbesar bagi Zelenskyy mungkin muncul setelah perang berakhir dan kampanye pemilu dimulai. Saat itu berbagai materi kompromi terkait kasus ini bisa saja digunakan untuk menyerangnya,” kata Fesenko.
Hingga kini Zelenskyy belum memberikan komentar langsung. Penasihat komunikasinya, Dmytro Lytwyn, hanya mengatakan kepada wartawan bahwa proses hukum masih berlangsung, sehingga "masih terlalu dini untuk menarik kesimpulan apa pun.”
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman
Diadaptasi oleh Rizki Nugraha
Editor: Yuniman Farid