Krisis Daycare dan Dilema Orang Tua Pekerja
14 Mei 2026
Hingga setahun lalu, Dewi (36) hampir tak pernah berangkat kerja tanpa membawa kedua anaknya, Kevin (6) dan Dara (4). Setiap pagi, dari rumah sederhananya di Plumpang, Jakarta Utara, ia harus bersiap lebih awal, menyiapkan kebutuhan rumah tangga sekaligus memastikan kedua anaknya siap ikut pergi ke tempat kerja bersamanya.
Saat itu, Dewi belum memiliki tempat untuk menitipkan anaknya.
Selama bertahun-tahun, Dewi bekerja sebagai pekerja rumah tangga (PRT) yang berpindah dari satu rumah ke rumah lain. Namun, ia tidak hanya harus mencari nafkah, tetapi juga memastikan anak-anaknya tetap dalam pengawasan karena tak ada yang bisa menjaga mereka di rumah.
"Saya kerja dari pintu ke pintu, biasanya nyuci dan gosok, bangun pagi jam 5:30, berangkat jam 6:30. Anak-anak saya bawa karena enggak ada yang jagain di rumah, bapaknya juga kerja biasanya pulang tiga hari sekali,” ungkap Dewi.
Orang tua pekerja dalam dilema
Dewi tahu, membawa anak sambil bekerja memang bukan pilihan ideal, tapi itu jadi satu-satunya pilihan yang dia punya saat itu.
Hampir setiap hari, ia harus membawa kedua anaknya berjalan kaki dan naik transportasi umum dari satu tempat kerja ke tempat lain, termasuk menempuh perjalanan dari Plumpang, Jakarta Utara, menuju Otista, Jakarta Timur.
Di sepanjang perjalanan, Dewi selalu menggandeng kedua anaknya erat-erat. Ia mengaku pernah menghadapi berbagai situasi yang membuatnya takut.
"Pernah hampir dihipnotis buat kasih anak saya. Dibilangnya biar dibantu urus, terus saya ditawarin kerja ke luar negeri. Pernah juga dimarahin karena bawa anak ke tempat kerja, ya saya bilang, 'anak saya enggak ada yang jagain, kalau masih mau saya kerja, saya ikut. Kalau enggak, ya sudah'. Waktu itu gaji cuma Rp30 ribu,” kenangnya.
Kepada DW Indonesia, Dewi mengaku sempat berada di titik kewalahan. Namun, ia merasa mengasuh kedua anaknya tetap menjadi prioritas meski harus mengeluarkan tenaga dan biaya lebih.
Hingga suatu hari, dalam perjalanan kerja, ia menemukan sebuah daycare gratis milik pemerintah bernama Taman Anak Sejahtera Arutala di dekat tempat tinggalnya.
"Saya lihat seperti ada sekolah baru buka. Saya tanya untuk masuk bayar berapa, dan ternyata katanya gratis. Alhamdulillah, karena capek. Berangkat pagi, pulang sore, kadang enggak menentu. Kasihan juga melihat anak-anak harus ikut saya kerja dan enggak ngapa-ngapain," ujarnya.
Meski sempat khawatir, Dewi akhirnya memutuskan menitipkan anak sulungnya, Kevin, di daycare tersebut. "Dibilang khawatir, enggak ada orang tua yang enggak khawatir, apalagi maaf ya, namanya gratis. Ada juga yang nakut-nakutin nanti si Kevin diapa-apain, tapi selama saya yakin dan saya lihat sendiri Kevin baik-baik aja, ya saya percaya untuk titipin dia.”
Setahun berlalu sejak Kevin mulai dititipkan di daycare tersebut. Kini Dewi bisa bekerja lebih tenang dan juga bisa menyisihkan pendapatannya untuk ditabung.
Ia pun berharap anak bungsunya, Dara, bisa mendapat kesempatan yang sama.
Realitas daycare di Indonesia: Akses hingga stigma
Di balik cerita Dewi, ada kebutuhan yang lebih luas terhadap layanan pengasuhan anak bagi keluarga pekerja di Indonesia.
Di tengah meningkatnya jumlah orang tua yang bekerja, fasilitas pengasuhan alternatif seperti daycare semakin banyak dibutuhkan.
Kementerian PPPA mencatat setidaknya 75 persen orang tua di Indonesia menggunakan fasilitas pengasuhan alternatif, seperti daycare. Dari total 2.593 daycare yang tercatat, 98,8 persen dikelola swasta dan hanya 1,2 persen oleh pemerintah.
Peneliti the SMERU Research Institute, Valentina Yulita Dwi Utari, mengatakan meningkatnya kebutuhan daycare tidak hanya datang dari kelas menengah-atas, tetapi juga keluarga pekerja berpenghasilan rendah.
"Kebutuhan untuk daycare itu ada, tidak hanya di masyarakat kelompok sosial menengah ke atas, tapi juga kelas menengah ke bawah;" ujarnya.
Namun di tengah kebutuhan tersebut, pilihan menitipkan anak masih dibayangi berbagai persoalan, mulai dari akses, biaya, kualitas pengasuh, hingga stigma terhadap ibu yang menitipkan anak di daycare.
"Tanpa kritik pun, banyak ibu sudah merasa bersalah saat harus menitipkan anak. Mereka sering lebih dulu stres, ini karena cara pandang yang masih mengakar dan menganggap perempuan seharusnya mengurus anak sendiri, khususnya bagi kelas menengah ke bawah,” kata Valentina.
Dalam tulisannya berjudul "Kasus daycare 'predator': Mengapa menghujat ibu jauh lebih mudah daripada memperbaiki sistem?", ia juga menyoroti bahwa kualitas layanan daycare sering kali bergantung pada kemampuan ekonomi keluarga. Akibatnya, akses terhadap daycare yang aman dan berkualitas menjadi timpang karena diperlakukan sebagai komoditas, bukan layanan publik.
Kondisi ini membuat kualitas layanan daycare sangat beragam. Sehingga, pencarian daycare aman menjadi tantangan tersendiri bagi keluarga pekerja.
Kasus kekerasan di daycare dan lemahnya sistem pengawasan
Meningkatnya kebutuhan tidak selalu diiringi dengan ketersediaan daycare yang layak dan aman di Indonesia.
Kasus terbaru di Yogyakarta menjadi salah satu yang paling menyita perhatian. Puluhan anak diduga menjadi korban kekerasan di sebuah daycare. Peristiwa ini memperkuat kekhawatiran banyak orang tua bahwa tempat yang seharusnya menjadi ruang aman, bisa menjadi sumber bahaya.
Valentina menekankan pentingnya regulasi terkait layanan daycare, mulai dari kualitas tenaga pengasuh hingga sistem pengawasan, terlebih setelah mencuatnya kasus-kasus dugaan kekerasan kepada anak-anak di daycare. Selain itu, menurutnya, "penting bagi pengelola untuk punya standarisasi, demi mengetahui paling tidak bare minimum-nya apa sih untuk mendirikan daycare.”
KPAI mencatat, 44 persen daycare di Indonesia belum memiliki izin resmi, dan 20 persen di antaranya beroperasi tanpa standar operasional. Selain itu, 67 persen tenaga pengelola daycare di Indonesia belum tersertifikasi.
Hingga kini, belum ada satu sistem pengawasan daycare yang terintegrasi secara nasional. Pengelolaan masih tersebar di berbagai kementerian dan pemerintah daerah.
"Regulasi untuk daycare memang kami lihat masih sporadis, masing-masing lembaga seperti punya pegangannya sendiri, padahal kita sudah punya peta jalan ekonomi perawatan yang dikoordinasikan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kementerian PPPA). Standarisasi itu penting, untuk memberikan jaminan keamanan bagi orang tua,” jelas Valentina, kepada DW Indonesia.
Sementara itu, kasus-kasus dugaan kekerasan terhadap anak di daycare yang mencuat mendorong pemerintah mulai berbenah. Wacana pembentukan satuan tugas (satgas) pun mengemuka untuk menjawab lemahnya kontrol terhadap daycare.
Alternatif di tengah keterbatasan
Di tengah berbagai tantangan dan keterbatasan tersebut, Taman Anak Sejahtera Arutala menjadi salah satu alternatif pengasuhan bagi keluarga berpenghasilan rendah yang ditawarkan pemerintah daerah.
Daycare gratis ini menjadi ruang pengasuhan bagi maksimal 25 anak, dengan rutinitas harian mulai dari belajar, bermain, makan, hingga istirahat yang dirancang untuk mendukung tumbuh kembang anak.
Pengelola Taman Anak Sejahtera Arutala, Rida Mufrida, mengatakan proses rekrutmen tenaga pengasuh dilakukan secara ketat.
"Mulai dari CV, kualitas pendidikannya, dan proses rekrutmen juga harus jelas semua melalui PJLP, skema kontrak tenaga kerja di instansi pemerintah untuk posisi non-ASN dan non-honorer. Minimal harus D-3 Keperawatan, karena mengasuh anak harus punya dasar pengetahuannya,” pungkas Rida.
Hingga kini, terdapat tiga daycare seperti Arutala yang dikelola Pemprov DKI Jakarta yang berletak di Jakarta Utara, Jakarta Timur, dan Jakarta Pusat.
Bagi Dewi, pilihan menitipkan anaknya di daycare ini telah memberinya sedikit ruang bernapas. Ia tak lagi harus membawa kedua anaknya ke tempat kerja, dan mulai bisa menabung.
Dari hasil tabungannya, Dewi bisa merayakan ulang tahun anak sulungnya, Kevin, di daycare Arutala. Perayaan sederhana itu menjadi momen yang spesial, setelah empat tahun Kevin tak pernah merayakan ulang tahun.
"Harapan saya, biar Kevin sehat, sukses, dan tidak seperti saya.” ujar Dewi sambil tersenyum mengingat keriuhan Kevin bersama teman-temannya, di tengah perayaan hari ulang tahun sederhana sore itu.
Athif Aiman turut berkontribusi dalam artikel ini
Editor: Tezar Aditya