Krisis Ekonomi Juga Melanda Iran
28 Oktober 2008
Mula-mula komunisme runtuh, lalu sekarang giliran liberalisme. Memang pendapatnya itu didukung oleh para ahli teologi yang sealiran, tetapi kesenangan atas kerugian orang lain itu, tidak dapat mencegah merebaknya ketakutan akan krisis di Teheran.
Walaupun mata uang Amerika Serikat nilainya kembali naik, tetapi Republik Islam itu kini terjaga. Terutama mengingat harga minyak yang bulan Juli lalu masih mencakup 147 Dolar per barrel, kini tinggal sekitar separuhnya. Kalau kecenderungan ini terus berlanjut, maka pendapatan Iran sampai akhir tahun 2008 ini akan berkurang sekitar 50 milyar Dolar. Bahkan mungkin lebih buruk lagi, karena ada suara-suara yang menyimpulkan, bahwa bila untuk jangka panjang harga minyak berkisar pada 58 Dolar per barrel atau lebih rendah lagi, maka Iran akan mengalami defisit anggaran. Sebab untuk tahun ini Iran mengandalkan perhitungan harga minyak 80 Dolar per barrel.
Kalkulasi itu pun sudah jauh di bawah ramalan presiden Iran. Belum lama ini Mahmud Ahmadinejad mengatakan, harga minyak tidak akan pernah lagi berada di bawah 100 Dolar per barrel. Tambahan lagi, walau pun Iran merupakan pemasok minyak terbesar bagi dunia, tetapi sejak bertahun-tahun Iran sendiri harus mengimpor bensin. Beberapa minggu lalu di parlemen Iran pun sudah dikemukakan bahwa jumlah dana yang disediakan untuk impor bensin harus ditambah.
Padahal kondisi perekonomian tambal-sulam yang dijalankan presiden Iran itu, sekarang pun sama sekali tidak cerah. Inflasi sekarang ini sudah berkisar pada 30 persen. Amhadinejad baru saja mengumumkan, akan menghadiahkan antara 30-50 Euro atau sekitar 400.000 - 650.000 Rupiah setiap bulannya kepada semua warga yang miskin, tetapi pada saat bersamaan akan menghapuskan semua subsidi. Sejak saat itu harga-harga meningkat drastis, terutama harga bahan pangan. Padahal seperti yang disimpulkan oleh sebuah harian, tahun lalu pun harga-harga barang sudah naik 50 persen.
Sebelumnya direktur Bank Sentral Iran sudah meletakkan jabatan karena dia tidak bersedia memberikan kredit dalam jumlah besar kepada perusahaan, untuk menekan inflasi. Menanggapi hal itu menteri urusan tenaga kerja Iran mengemukakan, karena dia mengkhawatirkan meningkatnya pengangguran, maka semua ini sebenarnya harus ditangani oleh Dewan Keamanan Nasional.
Kalau perkembangan harga minyak terus berlanjut seperti sekarang, maka kalangan yang kritis terhadap pemerintah menyimpulkan, bahwa dalam musim semi mendatang, artinya setengah tahun lagi, tingkat inflasi akan berkisar pada 50 persen. Dalam soal pengangguran keadaannya pun tidak lebih baik. Resminya memang dikatakan, bahwa angka pengangguran 11 persen tidak berbeda jauh dengan negara-negara lainnya, tetapi berdasarkan angka-angka tidak resmi jumlah pengangguran di Iran mencakup dua kali lipat dari negara-negara lainnya. Bahkan dari kalangan pemerintah sendiri belum lama ini disebutkan bahwa sepertiga lulusan perguruan tinggi tidak memperoleh pekerjaan. (dgl)