200309 Immobilien china
30 Maret 2009
Mendirikan pencakar langit dalam jangka waktu hanya satu tahun? Bukan hal mustahil di Beijing atau Shanghai. Kawasan perumahan mewah atau rumah susun menjamur di kota besar Cina. Tapi, akibat krisis ekonomi, suasana di pasar perumahan makin suram. Para calon pembeli pun makin tak puas. Seperti misalnya Ji dan Wang. Keduanya bekerja di sektor keuangan di Shanghai, umur mereka 25 tahun. Mereka berencana untuk menikah. Tapi akibat krisis keuangan, sepertiga gaji Wang dipangkas. Mereka tak menyimpan harapan besar saat melihat-lihat stan di pameran perumahan. Silih berganti mereka mengeluhkan situasi di pasar perumahan saat ini.
"Harga rumah masih tetap tinggi. Apartemen di kawasan yang buruk makin murah, untuk daerah yang kami incar harganya tetap tak terjangkau. Tapi tanpa apartemen sendiri kami tak diizinkan menikah oleh orang tua kami. Kami tak setuju tapi kalau orang tua kami berpendapat begitu, kami harus menurut."
Ji dan Wang mencari apartemen di pusat kota Shanghai, dari sana lebih mudah naik kendaraan umum ke kantor mereka. Di pusat Shanghai harga rumah untuk satu meter persegi mencapai 4.000 Euro atau 62 juta Rupiah. Di pinggiran kota harga itu bisa turun sampai setengahnya. Tak heran, bila pameran perumahan menjadi tempat berkumpul calon pembeli yang frustasi. Sebagian pengunjung bahkan tak mampu menyediakan separuh dari harga yang dipasang makelar rumah. Seorang pengunjung yang tak mau disebut namanya mengungkap kemarahannya.
"Biasanya diperlukan tabungan tiga generasi untuk membeli sebuah apartemen. Tiga generasi menjadi budak pembelian ini. Apa sih yang kita dapat dengan dana katakannya 100 000 Euro. Hampir tidak ada. Lalu, berapa gaji seorang pegawai? Seorang pekerja mendapat 200 Euro sebulan. Siapa sebenarnya sumber permasalahan ini? Perusahaan makelar rumah atau pemerintah? Saya rasa sih pemerintah. Pemerintah meraup keuntungan besar, para makelar harus membayar mahal untuk menebus tanah dari pemerintah. Pemerintah menggunakannya untuk mendongkrak perekonomian."
Pemerintah Cina menyadari, di masa-masa krisis ekonomi perkembangan ini dapat menjadi bom waktu. Dalam paket perangsang ekonomi pemerintah menganggarkan 3,7 miliar Euro bagi pembangunan rumah murah, lima kali lipat anggaran tahun 2008 lalu. Namun, apakah kebijakan ini sudah menjawab krisis perumahan? Menurut pakar ekonomi Xu Haining dari Universitas Shanghai, harga apartmenen tetaplah terlalu tinggi.
“Di Cina hanya ada satu pemilik tanah yaitu pemerintah. Tidak ada persaingan, pemilik tanah tunggal lah yang meraup keuntungan. Tiap kali pemerintah kesulitan uang, mereka mencoba menyelesaikannya dengan membebaskan tanah. Seharusnya, harga tanah sedikit turun. Itu sangat membantu ekonomi Cina. Pasar dalam negeri adalah faktor yang mendominasi harga rumah di sini. Selain itu, sistem pembebasan tanah ini menimbulkan korupsi dan kejahatan lainnya. Ada yang tidak beres dengan sistem ini.“
Pembangunan rumah dan apartemen baru di Cina terus berjalan, sementara rumah yang sudah jadi tetap tak laku di pasaran. Menurut majalah ekonomi The Economist, dengan tingkat penjualan saat ini, stok rumah dan apartemen baru di kota industri Shenzen baru akan habis terjual dalam sepuluh tahun. Bahkan, media Cina pun mulai menyoroti situasi di pasar perumahan. Mereka melaporkan, di seluruh Cina diperkirakan ada 210 juta meter persegi kawasan perumahan yang tidak dihuni. Dan, dalam empat tahun terakhir, baru empat apartemen yang terjual di kawasan perumahan mewah di Shanghai. Sejumlah perusahaan makelar terancam bangkrut. Pakar ekonomi dalam dan luar negeri sepakat: krisis perumahan di Cina akan berdampak negatif pada pertumbuhan ekonomi negeri tirai bambu ini. (zer)