1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Krisis Politik di India

as21 Juli 2008

Hari Selasa (22/7) parlemen India akan menggelar mosi kepercayaan terhadap pemerintah. Pemicunya keberatan partai Komunis berkaitan rencana kesepakatan atom dengan AS.

Manmohan Singh
PM India Manmohan Singh terus berusaha menggolkan kesepakatan atom dengan AS.Foto: AP Photo

Kesepakatan atom India dengan Amerika Serikat pada prinsipnya sudah terwujud pada tahun 2005. Kesepakatan ini mengatur kerjasama pemanfaatan energi atom untuk tujuan sipil. Antara lain dengan cara transfer teknologi serta membuka akses terhadap elemen bakar nuklir di pasar dunia. Pakar politik keamanan dari Yayasan Ilmu Pengetahuan dan Politik di Berlin, Christian Wagner menyebutkan, pertimbangan politik energi merupakan prioritas bagi pemerintah India.

Wagner mengatakan, kesepakatannya bertujuan untuk memecahkan masalah energi di India. Energi atom India saat ini hanya memiliki kontribusi sekitar dua persen pada keseluruhan pasokan energi di negara itu. Permintaan energi di India amat besar, dan di tahun-tahun mendatang akan semakin banyak tergantung dari minyak bumi. Artinya, kerjasama dengan Amerika Serikat dalam bidang tsb, merupakan sebuah langkah penting, juga bagi modernisasi ekonomi India.


Kesepakatan dengan AS juga akan mengakhiri boikot atom terhadap India, yang diberlakukan tahun 1974 bersamaan dengan dimulainya ujicoba atom di negara itu. Selain itu India tidak menandatangani kesepakatan non-proliferasi senjata atom, yang secara de fakto merupakan pengakuan sebagai negara adidaya atom. Karena itulah, pemerintahan India sekarang menyatakan bersedia membuka program atomnya. Antara lain siap diperiksa oleh para inspektur atom dari badan energi atom internasional IAEA. Namun sesuai perjanjian, persenjataan atom India tetap tidak terjamah oleh para inspektur. Walaupun begitu partai komunis India tetap menolak kesepakatan atom dengan AS. Alasannya, kesepakatan itu akan membahayakan independensi politik luar negeri India, dan negara itu hanya akan menjadi kepanjangan tangan imperialisme AS.

Ketua partai Kongres, yang juga ketua pemerintahan koalisi, Sonia Gandhi membantah pendapat partai komunis tsb. Gandhi dalam pidatonya menegaskan; "Samasekali tidak ada masalah menyangkut bahaya bagi kepentingan keamanan kita, program atom atau independensi kita di bidang politik luar negeri."


Tapi partai komunis ngotot dengan ancamannya untuk menarik dukungan terhadap pemerintahan minoritas, dengan tetap mengajukan mosi kepercayaan hari Selasa (22/7) di parlemen. Dengan itu partai komunis yakin dapat mencegah kesepakatan atom tsb. Namun partai komunis meremehkan tekad bulat PM India, Manmohan Singh untuk tetap menjalin kesepakatan atom dengan AS. Di belakang layar, Singh sudah mendapat jaminan dukungan dari partai oposisi berhaluan sosialis, Partai Samajwadi. Walaupun begitu, masih terdapat ancaman yang datang justru dari pihak AS sendiri. Yakni ketidak jelasan menyangkut sikap pemerintas AS mendatang setelah masajabatan presiden George W. Bush berakhir. Terutama dikhawatirkan konflik kepentingan dengan Cina.

Namun Singh dengan optimis menyatakan; "Untungnya kami didukung negara terpenting, AS, Rusia, Perancis dan Inggris. Jika tema ini diangkat ke forum internasional yang menentukan, saya yakin, Cina juga tidak akan membuat masalah."