1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
PolitikAmerika Serikat

Trump Puji "Kebersamaan" Transatlantik di Akhir KTT NATO

Felicia Salvina with AP, dpa
9 Juli 2026

Presiden AS Trump memicu ketegangan di KTT NATO lewat kritik terbuka, perang Iran, serta klaim atas Greenland. Tapi di hari terakhir, dia memuji kebersamaan Transatlantik dan memberikan rudal Patriot untuk Ukraina.

Donald Trump di KTT NATO di Turki
Presiden AS Donald Trump di antara para pemimpin NATOFoto: Pablo Martinez Monsivais/AP Photo/picture alliance

Ketegangan sudah membayangi Konferensi Tingkat Tinggai Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) di Turki sejak sebelum dimulai. Adalah kritik tajam dan langgam Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyulut kewaspadaan Eropa. Namun pada akhirnya, kedua sekutu Transatlantik itu kembali menegaskan komitmen untuk saling melindungi jika salah satu anggota diserang.

Trump kembali menohok sekutu-sekutu Amerika Serikat perihal keseriusan mereka terhadap aliansi, lantaran enggan membiayai pertahanan. Tapi di hari terakhir KTT di Ankara, Rabu (8/7), Trump menggambarkan suasana yang jauh lebih positif.

"Ada banyak kebersamaan di ruangan itu. Banyak persatuan,” ujar Trump 

Dalam konferensi pers setelah KTT, Trump juga menyebut pertemuan itu sebagai keberhasilan.

"Kami melalui pertemuan yang luar biasa dan saya rasa ini sukses besar,” katanya.

Dalam deklarasi bersama, para pemimpin NATO menegaskan bahwa pasal 5 Traktat mereka "tidak tergoyahkan”. Prinsip tersebut menyatakan, serangan terhadap satu anggota dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota.

Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte mengatakan para sekutu AS "menyambut hangat kepemimpinan Presiden Trump." Sebuah pernyataan yang kontradiktif dengan pernyataan Trump pencaplokan Greenland, wilayah semiotonom milik Denmark yang juga anggota NATO.

"Pesan dari KTT ini sederhana: NATO memberikan hasil,” Kata Rutte.

Berikut sejumlah poin penting dari KTT tersebut:

Pengurangan pasukan AS di Eropa bergantung pada Greenland

Trump mengatakan bahwa penarikan pasukan dari Eropa belum final. 

"Saya belum membuat keputusan akhir. Banyak hal akan bergantung pada Greenland," katanya.

Tak lama setelah tiba di KTT NATO di Ankara, Trump kembali menegaskan pandangannya bahwa Greenland "seharusnya berada di bawah kendali Amerika Serikat."

Sebelumnya, seorang pejabat senior AS juga memaparkan perspektif Washington. Menurut mereka, pengambilalihan Greenland merupakan satu-satunya cara untuk mengatasi risiko keamanan jangka panjang di kawasan tersebut.

Donald Trump menyebut keputusan terkait penarikan lebih banyak pasukan AS dari Eropa akan bergantung pada perkembangan soal GreenlandFoto: Stoyan Nenov/REUTERS

Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen kembali menolak tegas tuntutan tersebut.

Tuntutan tersebut diungkapkan Trump awal tahun ini. Pernyataannya itu sontak memicu ketegangan dengan Denmark dan sesama anggota NATO. Sikapnya juga memicu pertanyaan tentang soliditas NATO dan komitmen antaranggota.

Menurut Trump, Greenland perlu berada di bawah kendali AS karena dinilai rentan terhadap pengaruh Rusia dan Cina. Hal tersebut dianggap berkaitan dengan kepentingan keamanan AS.

Belakangan, Trump mencabut ancamannya untuk menggunakan kekuatan militer guna mengambil alih Greenland. Ia juga membatalkan ancaman tarif hukuman pada sejumlah negara Eropa jika mereka tidak setuju untuk jual Greenland. 

Meski demikian, Trump tetap mempertahankan klaimnya atas pulau tersebut. Pemerintah Denmark dan Greenland hingga kini terus menolak gagasan aneksasi oleh AS.

Serangan ke Iran dan kemungkinan peran NATO

Trump memerintahkan serangan militer terhadap Iran tak lama setelah meninggalkan jamuan makan malam dengan para pemimpin NATO. Langkahnya memerintahkan serangan terhadap negara berdaulat di tengah kunjungan ke luar negeri merupakan peristiwa langka bagi seorang presiden AS.

Serangan ke Iran juga kembali memanaskan ketidakpuasan Trump terhadap NATO. Dia sebelumnya mengeluhkan minimnya dukungan sekutu dalam menjaga Selat Hormuz tetap terbuka.

Menariknya, Rutte tidak menutup kemungkinan NATO berperan di kemudian hari.

"Jelas, Iran berada di luar wilayah NATO,” katanya.

Rutte mengatakan, "Jika memang diperlukan, NATO selalu siap berperan. Namun untuk saat ini, mari kita lihat dulu apa yang akan terjadi dalam beberapa hari dan pekan ke depan."

Pernyataan itu diperkirakan akan disambut positif oleh Trump.

Selama ini, NATO menegaskan diri sebagai aliansi pertahanan yang melindungi kawasan trans-Atlantik. Keterlibatan besar terakhirnya di luar kawasan, yakni Afganistan, berakhir dengan kekacauan, membuat banyak anggota enggan terseret ke konflik lain.

Patriot untuk Ukraina, F-35 bagi Turki?

Trump mengumumkan bahwa AS akan memberi lisensi agar sistem pertahanan udara Patriot dapat diproduksi Ukraina di luar negeri. Ini ditujukan untuk menghadapi serangan rudal Rusia.

Saat bertemu Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, Trump mengatakan:

"Kami akan memberi mereka hak untuk memproduksi Patriot. Kami akan menunjukkan caranya. Saya rasa mereka bisa memproduksinya dengan cukup cepat."

Sistem Patriot dikenal mahal, permintaannya tinggi, dan membutuhkan waktu lama untuk diproduksi. Selama bertahun-tahun, Zelenskyy meminta tambahan Patriot dan lisensi agar Ukraina dapat memproduksinya sendiri dengan lebih cepat.

Trump membuka peluang penjualan jet tempur F-35 ke Turki dengan menyatakan AS siap mencabut sanksi terhadap Ankara, meski keputusan akhir belum diambilFoto: Michael Kappeler/dpa/picture alliance

Trump juga mengatakan AS siap mencabut sanksi terhadap Turki. Keputusan ini membuka peluang penjualan jet tempur F-35 ke negara tersebut. Hal ini dilakukan di tengah penolakan dari Israel. 

"Saya belum sepenuhnya mengambil keputusan,” kata Trump.

Turki dikeluarkan dari program F-35 pada 2019 setelah membeli sistem pertahanan rudal buatan Rusia. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, yang memiliki hubungan dekat dengan Trump, tampak menyambut baik kabar tersebut.

Angin segar bagi Ukraina

Selain soal Patriot, Trump juga menunjukkan sikap yang lebih lunak terhadap Zelenskyy. Ia memuji upaya Presiden Ukraina tersebut dalam mencari jalan mengakhiri perang. 

Sementara itu, para pemimpin NATO menyepakati paket bantuan militer senilai Rp1.448,6 triliun (sekitar US$80 miliar) untuk Ukraina pada tahun ini dan 2027.

Dana tersebut terdiri dari pinjaman Uni Eropa sebesar 30 miliar euro per tahun ditambah kontribusi Rp620 triliun (40 miliar euro) dari negara-negara anggota NATO. AS tidak akan ikut dalam skema tersebut karena pemerintahan Trump hampir sepenuhnya menghentikan belanja untuk Ukraina. 

Menurut diplomat NATO, sebagian besar komitmen 40 miliar euro untuk 2026 telah berhasil dihimpun.

Belanja pertahanan meningkat

Pertemuan juga diwarnai upaya Mark Rutte meyakinkan Trump mengenai peningkatan belanja pertahanan sekutu Eropa dan Kanada.

Rutte memperkirakan negara-negara tersebut menggelontorkan tambahan hampir Rp6.2 triliun (US$300 miliar) untuk pertahanan dalam dua tahun terakhir. Ia juga menyoroti kontrak pembelian senjata dan peralatan militer yang nilainya mencapai puluhan miliar dolar.

Menjelang pertemuan, Rutte mengatakan kepada Trump, "Peningkatan belanja pertahanan NATO ini terjadi karena tekanan Anda. Jadi anggap saja ini sebagai keberhasilan Anda."

Dalam pernyataan bersama, para pemimpin menyebut KTT ini sebagai awal transformasi besar NATO. "Membangun masa depan: Eropa yang lebih kuat dalam NATO yang lebih kuat."

Potensi Trump Tinggalkan NATO

02:38

This browser does not support the video element.

Tuan rumah KTT berikutnya masih belum pasti

Nasib Albania sebagai tuan rumah KTT NATO berikutnya masih belum sepenuhnya jelas.

Sebelumnya, Albania dijadwalkan menjadi tuan rumah pada 2027. Namun, berbeda dari kebiasaan sebelumnya, para pemimpin kali ini hanya menyebut, "Kami menantikan pertemuan berikutnya."

Perdana Menteri Albania Edi Rama sebenarnya dikenal cukup dekat dengan para pemimpin NATO. Namun, sebagian anggota dikabarkan mulai mempertanyakan kelayakan Albania menjadi tuan rumah karena belanja pertahanannya masih relatif rendah.

Ada pula negara yang ingin menghindari kemungkinan bersinggungan dengan Trump pada pertemuan NATO berikutnya.

Rutte mengatakan Albania tetap direncanakan menjadi tuan rumah, tetapi jadwal pastinya masih harus diputuskan.

Editor: Rizki Nugraha