Kuba: 4 Orang Tewas di Kapal Cepat AS setelah Baku Tembak
Patrick Große sumber: dpa, rtr, afp
26 Februari 2026
Havana menyebutnya sebagai operasi teroris yang digagalkan. Washington sedang menyelidiki insiden tersebut. Insiden mematikan itu terjadi tak lama setelah pelonggaran sebagian embargo minyak AS terhadap Kuba.
Insiden di laut yang menewaskan empat orang di atas kapal cepat yang terdaftar di AS terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Havanna dan WashingtonFoto: Adalberto Roque/AFP
Iklan
Petugas perbatasan Kuba telah menghentikan sebuah kapal cepat yang memasuki perairan Kuba dan melepas tembakan ke salah komandan Kapal patroli Kuba. Perahu cepat tersebut terdaftar di negara bagian Florida, AS.
Perahu tersebut nampak pada Rabu pagi (25/2) waktu setempat di perairan teritorial Kuba dekat Cayo Falcones. Perahu itu mendekat hingga sekitar satu mil laut dari provinsi Villa Clara. Ketika unit patroli perbatasan mendekati perahu untuk mengidentifikasinya, awak kapal melepaskan tembakan.
Menurut laporan Kementerian Dalam Negeri Kuba, empat orang dilaporkan tewas dan enam lainnya terluka. Pemerintah Kuba lewat penyataan resminya menyatakan bahwa "Semua yang terlibat adalah warga Kuba yang tinggal di Amerika Serikat”.
Pemerintah Kuba menyebut penumpang kapal tersebut memiliki agenda teror dan berencana memasuki negara itu sercara ilegal. Senjata, bahan peledak, dan seragam kamuflase di temukan dalam kapal. Selain itu, kesepuluh penumpang diketahui memiliki "riwayat aktifitas kriminal dan kekerasan”. Sejauh ini investigasi masih berlangsung dan motif pelaku belum diketahui.
Melansir kantor berita AP, Pemerintah Kuba mengidentifikasi tiga penumpang kapal sebagai Amijail Sánchez González, Leordan Enrique Cruz Gómez, dan Conrado Galindo Sariol. Amijali dan Leordan sebelumnya menjadi buron pihak berwenang Kuba karena keterlibatannya dalam promosi, perencanaan, pengorganisasian, pembiayaan, dukungan, atau pelaksanaan tindakan yang dilakukan di wilayah nasional atau di negara lain, sehubungan dengan tindakan terorisme.
Satu penumpang lainnya adalah Conrado Galindo Sario. Situs berita yang berbasis di AS yang telah lama menyerukan perubahan pemerintahan di Kuba, Martí Noticia, menyebut Conrado sebagai sebagai "legenda” dan mantan tahanan politik yang kerap mendukung perjuangan warga Kuba terutama di timur Pulau tersebut untuk "mencapai kebebasannya.”
Dalam wawancaranya Juni 2025 lalu Conrado menyebut "Pemimpin rezim sedang berkeliling ke seluruh Kuba untuk mencoba meredam situasi yang segera memburuk, karena mereka sudah kehilangan kendali dan tidak mampu menghentikannya, mereka mencari cara agar protes tidak menyebar ke daerah lain."
Selain itu, pemerintah Kuba menyatakan bahwa pihaknya telah menangkap Duniel Hernández Santos, yang menyiapkan masuknya kelompok teroris ini. Pemerintah menambahkan bahwa Duniel "dikirim dari Amerika Serikat untuk menjamin penerimaan infiltrasi bersenjata, yang saat ini telah mengakui tindakannya.” Pernyataan pemerintah Kuba hingga saat ini belum dapat diverifikasi secara independen.
Satu dari empat korban tewas yang berhasil diidentifikasi yaitu Michel Ortega Casanova. Kakak dari Michel, Misael Ortega Casanova mengatakan kepada kantor berita AP pada Rabu (25/2) bahwa dirinya sedang berduka atas kematian saudaranya dan menyesalkan sang kakak terjebak dalam upaya "obsesif dan brutal” untuk kebebasan Kuba.
Dia mengatakan bahwa saudaranya adalah merupakan sopir truk dan warga negara Amerika Serikat yang telah tinggal lebih dari 20 tahun di AS, meninggalkan istrinya, ibunya, dua saudara perempuannya, dan seorang putri yang sedang mengandung.
"Tidak ada yang tahu (tentang rencana Michel),” kata Misael tentang aksi saudara laki-lakinya, "Ibu sangat terpukul,” seraya menambahkan, "Mereka begitu terobsesi sehingga tidak memikirkan konsekuensinya atas kehidupan mereka sendiri.”
Dia berharap kematian saudaranya jadi pengorbanan yang bermakna, "Mungkin hal itu mewujudkan Kuba merdeka suatu hari.”
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio saat berkunjung ke negara kepulauan Karibia, St. Kitts dan NevisFoto: Jonathan Ernst/AFP
Rubio: Insiden yang 'sangat tidak biasa'
Di Washington, para pejabat pemerintah bereaksi dengan hati-hati. Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan kepada wartawan bahwa Gedung Putih sedang menyelidiki insiden tersebut. Ia berharap insiden itu "tidak seburuk yang kita khawatirkan." Sejauh ini, pemerintah AS "belum memiliki banyak detail."
Iklan
Menteri Luar Negeri Marco Rubio juga berkomentar selama kunjungannya ke St. Kitts dan Nevis. Ia mengatakan bahwa berbagai bagian pemerintah AS sedang mengumpulkan dan memverifikasi informasi. Hingga ada bukti yang meyakinkan, ia tidak akan berspekulasi. "Cukuplah dikatakan bahwa sangat tidak biasa melihat baku tembak terjadi di laut lepas," tegas Rubio. Ia menambahkan bahwa hal seperti ini sudah lama tidak terjadi dengan Kuba. Bagaimanapun, pejabat AS tidak terlibat.
Kedutaan Besar AS di Havana sedang berupaya menentukan apakah para korban adalah warga negara AS atau penduduk tetap Amerika Serikat. Selain itu terdaftarnya kapal di negara bagian Florida juga masih dalam penyelidikan.
Jaksa Agung Florida, James Uthmeier, mengumumkan penyelidikan bersama dengan otoritas federal. "Pemerintah Kuba tidak dapat dipercaya, dan kami akan melakukan segala daya upaya untuk meminta pertanggungjawaban para komunis ini," kata jaksa yang juga politisi Partai Republik itu.
Kuba terletak hanya sekitar 145 kilometer dari ujung selatan Florida.
Pemerintah Kuba menolak tuduhan tersebut dan menekankan hak untuk membela negara. ”Kuba menegaskan kembali komitmennya untuk melindungi perairan teritorialnya, dengan pertahanan nasional sebagai pilar fundamental bagi negara Kuba untuk menjaga kedaulatan dan stabilitasnya di kawasan ini," demikian pernyataan kantor kepresidenan melalui Platform X.
Daftar Negara Komunis Terakhir di Bumi
Adalah ironi ketika Cina merayakan 70 tahun kekuasaan Partai Komunis, Indonesia mengenang kematian PKI di tanah air. Inilah daftar negara terakhir di muka bumi yang masih mengadopsi ideologi kolektivisme itu.
Foto: AP
1. Republik Rakyat Cina
Cina adalah negara komunis paling besar dan paling kaya sejagad. Meski tunduk pada pakem ideologi Marxisme-Leninisme, pemerintah di Beijing selama tiga dekade terakhir membuka keran investasi bagi pemodal internasional yang turut melambungkan perekonomian negara berpenduduk 1,54 miliar manusia itu. Kini Cina sedang membangun kekuatan adidaya di kawasan Asia Pasifik dan Afrika.
Foto: picture-alliance/AP Photo/A. Wong
2. Vietnam
Partai Komunis sudah memerintah Vietnam selama 44 tahun, sejak Amerika Serikat dikalahkan dalam perang dua dekade melawan Viet Cong. Pada 1986 Hanoi mengikuti langkah Cina dengan membuka pintu bisnis bagi investor asing. Ketika Amerika mencabut embargo ekonomi pada 1994, perekonomian Vietnam mengalami kebangkitan yang bertahan hingga kini. Pada 2018 pertumbuhan ekonomi di Vietnam mencapai 7.1%
Foto: Reuters/Kham
3. Laos
Salah satu negara paling miskin di Asia ini berada di bawah cengkraman rezim komunis sejak 43 tahun, setelah revolusi 1975 mengakhiri kekuasaan monarki Laos. Lantaran kemiskinan yang menderu Partai Rakyat Lao Revolusioner (PRPL) mendorong liberalisasi ekonomi pada 1986. Meski demikian hingga kini 77% populasi Laos masih hidup di bawah garis kemiskinan.
Foto: Imago/Xinhua
4. Kuba
Sejak FIdel Castro sukses mengobarkan revolusi yang meruntuhkan kediktaturan Fulgencio Batista 60 tahun silam, Kuba menganut ideologi komunisme. Tapi berbeda dengan negara komunis Asia, Kuba baru membuka diri pada perekonomian internasional pada 2014 lalu, setelah normalisasi hubungan dengan AS di bawah Presiden Barack Obama.
Foto: picture alliance/Robert Harding World Imagery
5. Korea Utara
Didirikan pada 1948, Partai Buruh Korea Utara sudah mendiktekan komunisme selama tujuh dekade terakhir. Tahun 2009 lalu Kim Jong Il mencoba memoles reputasi kejam penguasa Pyongyang dengan mencabut istilah komunisme pada konstitusi negara. Tapi menurut Amnesty Internasional, saat ini 120.000 penduduk mendekam di kamp kerja paksa akibat melawan pemerintah. (rzn/ap: dari berbagai sumber)
Foto: AP
5 foto1 | 5
Terjadi setelah AS melonggarkan embargo minyak
Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Havana. Di bawah Presiden Donald Trump, Amerika Serikat sekali lagi meningkatkan tekanan pada kepemimpinan komunis.
Sejak Desember, Kuba tidak lagi menerima minyak dari Venezuela, setelah Trump memerintahkan blokade total terhadap kapal tanker minyak yang dikenai sanksi yang membawa kiriman dari negara mitra Amerika Selatan tersebut. Ia juga mengancam akan mengenakan tarif pada negara-negara yang memasok minyak ke Kuba. Akibatnya, Meksiko, pemasok terbesar Kuba, antara lainnya turut menghentikan ekspor minyak.
Blokade tersebut memperburuk krisis energi dan ekonomi yang sudah parah di pulau itu dan menyebabkan kekurangan pasokan akut. Pemerintah Kuba memerintahkan langkah-langkah penghematan energi yang drastis, membatasi kegiatan sekolah dan transportasi umum, serta mengurangi jam kerja.
Lebih dari Setengah Abad Kematian Che Guevara
Dengan pandangan tajam dan topi baret berlambang bintang, potret pemuda Argentina itu jadi ikon yang dipasang pada saat demonstrasi bahkan konser musik. Ssetengah abad silam ia tewas saat bergerilya di hutan Bolivia.
Foto: Imago/P. Widmann
Sahabat dan Musuh
Juan Martin Guevara memegang poster peringatan 50 tahun kematian saudaranya (2017). Ernesto Guevara de la Serna, demikian nama asli pria yang lahir 14 Juni 1928 di Rosario, Argentina itu. Sebenarnya ia seorang dokter namun perjalanan keliling Amerika Latin mengubah haluan hidupnya. Di mata pengagumnya ia pejuang yang kerap dipanggil "Che" atau sahabat, namun bagi musuh ia dianggap pembunuh.
Foto: Reuters/C.Platiau
Dokter Angkat Senjata
Kisah dokter muda dari keluarga kaya ini berubah ketika ia mengelilingi 5 negara di Amerika Latin dengan menggunakan sepeda motor bersama sahabatnya, Alberto Granado, tahun 1952. Ia menyaksikan dampak korupsi dan kemiskinan. Ini fakta yang mengguncang perasaannya. Ia pun berkesimpulan hanya ada satu jalan untuk mengatasi penderitaan rakyat, yakni perjuangan bersenjata. Jalan revolusioner.
Foto: akg-images/picture-alliance
Revolusi di Sisi Fidel Castro
Misi revolusi membawa Che Guevara bertemu Fidel Castro. Ia bergabung dalam gerilya untuk menjatuhkan diktator dukungan AS, Flugencio Batista. Revolusi mereka sukses. Batista terguling tahun 1959. Castro jadi penguasa Kuba, dan Guevara, kendati orang Argentina, menjadi kepala Bank Sentral, lalu Menteri Perindustrian tahun 1961. Ia melakukan nasionalisasi properti dan mendorong pendidikan pedesaan.
Foto: picture-alliance/dpa/UPI
Pahlawan Rakyat Kecil
Meski telah menduduki posisi Menteri Perindustrian, Guevara masih turun langsung bekerja di lapangan. Di awal tahun 1961 seperti terlihat dalam foto ini, Guevara ikut serta menjadi pekerja bangunan di Havana. Sehari penuh ia bekerja membangun rumah tinggal bagi rakyat. Terkadang ia juga bekerja sebagai dokter di pusat perawatan penyakit Lepra.
Foto: picture-alliance/dpa/UPI
Anti-Amerika Penyuka Hobi 'Barat'
Che Guevara juga dikenal sebagai tokoh anti-Amerika. Meski demikian, terkadang tokoh revolusioner itu juga memperlihatkan sisi berbeda seperti saat minum sebotol Coca-Cola di Kongres Ekonomi dan Sosial di Uruguay, Agustus 1961. Ia juga dikenal sebagai pemain catur yang ulung.
Foto: picture-alliance/dpa
Selfie dan Fotografi
Guevara mengakui 'sebelum menjadi 'comandante', ia adalah fotografer'. Ia pernah bekerja sebagai fotografer keliling di taman Mexico City. Saat bergerilya untuk revolusi Kuba, ia kerap tenteng kamera, juga ketika dalam perjalanan mewakili pemerintah Kuba. Gambar ini adalah 'potret diri' saat ia berkunjung ke Thailand (1964). Ibarat buku harian, Che senang mengabadikan momen lewat bidikan kamera.
Foto: Studienzentrum Che Guevara, Kuba
Bergerilya Seorang Diri
Tahun 1965 ia berpisah dengan Fidel Castro. Guevara meninggalkan Kuba menuju Kongo dan membangun tentara gerilya untuk melawan imperialisme pasca-kolonial. Pendapat lain menyebutkan, Guevara yang memiliki semangat revolusioner yang tinggi telah dideportasi ke Kongo. Terlepas dari fakta mana yang benar, upaya gerilya Guevara di Kongo gagal.
Foto: Getty Images/AFP
Akhir Perjalanan Che
Setelah Kongo, Che bergerilya di Bolivia. Bersama 15 pengikutnya, ia menciptakan revolusi merah di Amerika Selatan. Tidak mendapat dukungan, ia terisolasi di hutan. Foto perwira militer Bolivia di dekat jenazah Che ini disebarkan untuk membuktikan Guevara benar-benar telah meninggal. Tentara Bolivia bahkan memotong tangan Che, agar sidik jarinya bisa digunakan untuk membuktikan kematiannya.
Foto: Getty Images
Ziarah untuk Santo
Di ruang binatu rumah sakit di kota Vallegrande inilah, jenazah Guevara terbaring 50 tahun lalu. Beberapa saat setelah pemotretan, Che yang tewas pada usia 39 tahun dimakamkan di kuburan masal. Di dinding tertulis: "Bahkan jika mereka menyembunyikanmu di bawah bumi, mereka tak menghalangi kami untuk menemukanmu." 30 tahun kemudian, tulang belulang Guevara diidentifikasi, lalu dipindahkan ke Kuba.
Foto: picture-alliance/dpa/G. Ismar
Tetap Abadi
Ribuan orang menghadiri peringatan ulang tahun ke-80 tokoh revolusioner itu, ketika patung Che Guevara diresmikan di kota kelahirannya, Rosario, Argentina. Penulis biografinya, Matthias Rüb menyebutkan gerakan sosial di Amerika Latin saat ini merupakan kelanjutan perjuangan revolusi Kuba dulu kala. Rüb merujuk Paus Fransiskus - yang juga berasal dari Argentina - sebagai penerus legasi Che Guevara.
Foto: AP
Pencipta Ikon Che
Foto Che Guevara dengan topi baret adalah karya tersohor Alberto Diaz Gutierrez atau Alberto Korda. Foto ini diambil tahun 1960, pada saat upacara berkabung atas meninggalnya 136 pekerja pelabuhan dalam sebuah ledakan. Foto ini memecahkan rekor sebagai foto yang paling banyak dicetak ulang dan diadaptasi ke berbagai tampilan visual lainnya. Tokoh revolusioner itu bahkan menjadi legenda budaya pop.
Foto: AP
Atas Nama Che
Ikon Che pernah diadaptasi saat kampanye Kanselir Jerman, Angela Merkel tahun 2005. Di Jerman, penulis lagu asal Jerman Timur, Wolf Biermann bahkan sebut Guevara "Kristus dengan sebuah pistol." Pada saat demonstrasi, khususnya buruh, poster Che kerap diusung. Bahkan terkadang kegiatan yang membawa Che sudah tidak terkait sama sekali dengan perjuangannya. Penulis: U. Steinwehr/T. Siregar (Ed. ml)
Foto: AP
12 foto1 | 12
Namun, baru-baru ini, pemerintah AS mengumumkan akan kembali mengizinkan penjualan minyak Venezuela kepada penduduk Kuba dan sektor swasta. Menurut Departemen Keuangan AS, ekspor akan diizinkan untuk tujuan komersial dan kemanusiaan, sementara beberapa sanksi akan tetap berlaku.
Pada saat yang sama, Rubio menuntut "reformasi" kepemimpinan di Havana. "Kuba harus berubah. Negara ini harus berubah secara mendasar karena itulah satu-satunya kesempatan yang dimilikinya untuk meningkatkan kualitas hidup rakyat," tegas Menlu AS tersebut.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris