1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
EkonomiKuba

Apakah Kuba di Ambang Kejatuhan?

Andreas Knobloch
6 Februari 2026

Menghadapi embargo minyak AS, kehidupan di Havana nampaknya berjalan seperti normal dengan pemadaman listrik dan antrean berjam-jam di stasiun pengisian bahan bakar. Namun, hal ini bisa berbalik sewaktu-waktu.

Kuba Havanna 2026 | Antrean panjang di pom bensin di Havana, Kuba, bahan bakar kian langka
Bensin semakin langka setiap hariFoto: Ramon Espinosa/AP Photo/picture alliance

Matahari kembali tampak bersinar di atas Havana. Selama beberapa hari, gelombang cuaca dingin dari wilayah Arktik tiba di Karibia. Hal ini menyebabkan, untuk pertama kalinya dalam sejarah Kuba, di beberapa wilayah suhu mendekati titik beku (0 derajat). Namun bukan udara dingin yang menimbulkan suasana negeri itu terasa muram.

Setelah serangan AS terhadap sekutu terdekat Kuba, Venezuela, serta penculikan kepala negara Nicolás Maduro, Caracas menghentikan pengiriman minyak ke pulau tersebut.

Pada akhir Januari lalu, Presiden AS Donald Trump mengklasifikasikan Kuba sebagai "ancaman luar biasa bagi keamanan nasional Amerika Serikat” dan mengancam semua negara yang terus memasok Kuba dengan minyak atau produk minyak dengan tarif hukuman.

Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel sebelumnya mengecam langkah-langkah tersebut sebagai tindakan "fasis, kriminal, dan genosida”. Namun kini ia menyatakan bahwa Kuba siap melakukan pembicaraan "tanpa prasyarat” dengan AS. Pada saat yang sama, Díaz-Canel bersikukuh bahwa rezimnya tidak "dekat dengan kehancuran” dan telah merinci langkah-langkah untuk memperkuat sektor energi.

"Trump itu gila”

"Trump itu gila, dia benar-benar ingin mencekik kami sampai tak bisa bernapas. Ada satu lagi yang bahkan lebih fanatik soal Kuba,” kata Aleida, pengelola penginapan di Havana, merujuk pada Menteri Luar Negeri AS yang berdarah Kuba, Marco Rubio.

Rubio dianggap sebagai ‘aktor utama' di balik kebijakan "tekanan maksimum” terhadap Venezuela dan Kuba. "Kami hanya bisa menunggu apa yang akan terjadi,” ujar Aleida, penuh kekhawatiran.

"Kadang saya pikir dia (red. Trump) akan menyerang dan kadang saya pikir dia tidak akan membiarkan kami tenggelam, supaya kemudian bisa tampil sebagai orang baik,” kata Rachel, pegawai negeri berusia 21 tahun, yang memperkirakan ke depannya, kehidupan sehari-harinya akan menjadi semakin sulit.

"Trump merugikan kami orang-orang biasa, bukan pemerintah,” kata Ramón, pria berusia sekitar 60 tahun yang bekerja sebagai sopir taksi dan hidup dari sektor pariwisata yang telah mengalami penurunan. Bensin saat ini hanya tersedia dengan mata uang asing dan setelah berjam-jam mengantre di "SPBU dolar”. Pemadaman listrik selama 10 hingga 15 jam kini juga menjadi hal biasa di Havana.

Kuba hanya memproduksi sekitar 40 persen dari kebutuhan listriknya.

Sejauh ini kehidupan di Havana tetap berjalan seperti biasa meskipun ada ancaman tarif dari Trump.

Peneliti di Institut GIGA untuk Studi Amerika Latin, yang saat ini berada di Havana, Bert Hoffmann, mengatakan "Ada semacam normalisasi krisis, kehidupan terus berjalan seperti biasa. Pemadaman listrik meningkat, bensin makin langka, tapi semuanya relatif bertahap. Lalu lintas di jalan-jalan masih ada,” ujar Hoffmann.

Namun menurut Hoffmann normalitas ini menipu, karena negara tersebut "tidak memiliki prospek untuk mendapatkan minyak”.

Titik balik di Caracas setelah 'gugurnya' Venezuela

Sejak 3 Januari, segalanya berubah, kata Hoffmann. Sejak saat itu, Venezuela sebagai pemasok minyak terpenting Kuba telah 'gugur'. Pemasok terpenting kedua, Meksiko, menangguhkan pengiriman minyak ke Kuba yang sebelumnya direncanakan pada bulan Januari. Sejak 9 Desember, tidak ada satu pun kapal tanker bermuatan minyak yang berlabuh di Kuba.

Pada Januari, Kuba membeli satu muatan tanker di pasar spot. Namun kapal dari Togo yang seharusnya tiba di Kuba pada 4 Februari mengubah haluannya di tengah laut menuju Republik Dominika.

Hoffmann berasumsi hal ini terjadi akibat tekanan AS, "Artinya, bahkan jika Kuba bisa membeli minyak, minyak itu tidak sampai,” katanya. Hal ini juga berlaku untuk kemungkinan pengiriman dari Aljazair, Angola, Cina, atau Vietnam. "Saya berasumsi bahwa saat ini AS mengerahkan banyak upaya untuk mencegah hal tersebut,” ujar Hoffmann. "Yang lebih mungkin adalah Kuba tidak akan menerima minyak dalam waktu dekat. Dan ini brutal.”

Para ahli memperkirakan kebutuhan minyak Kuba saat ini sekitar 100.000 barel minyak mentah per hari. Seperempat hingga sepertiga dari jumlah tersebut sebelumnya bergantung pada Venezuela. Meksiko pada 2025 diperkirakan memasok 6.000 hingga 12.000 barel per hari, sementara Rusia dan Aljazair memasok dalam jumlah yang lebih kecil.

"Ada rumor pada Februari minyak sudah habis,” kata Rachel. "Sekarang sudah Februari.” Ia hanya dapat berharap konsumsi menurun sehingga minyak masih bisa bertahan sedikit lebih lama.

Meskipun dalam dua tahun terakhir Kuba telah berinvestasi besar-besaran dalam pembangunan taman surya dengan dukungan Cina, fasilitas tersebut jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan listrik. Pasokan listrik negara ini masih bergantung pada pembangkit listrik tenaga panas peninggalan era Soviet yang sudah rentan.

Hal ini membuat Kuba sangat bergantung pada impor energi. Minyak berat domestik, yang mencakup sekitar 40 persen kebutuhan, tidak dapat diolah menjadi bensin dan hanya digunakan untuk pembangkit listrik.

Hoffmann menambahkan, tidak ada yang tahu berapa lama sisa minyak Kuba akan bertahan. Financial Times pada akhir Januari menyebutkan 15 hingga 20 hari. Konsekuensi ini cukup fatal. "Ini adalah soal hitungan beberapa minggu sampai bensin benar-benar habis. Dan jika bensin habis, bukan hanya turis yang tidak bisa pergi dari pantai ke bandara, tetapi juga suplai bahan makanan dari pedesaan tidak bisa sampai ke kota,” tegas pakar GIGA tersebut.

Hoffmann menyebut sebuah perusahaan Jerman yang memproduksi oksigen medis untuk rumah sakit di Kuba, "Jika truknya tidak punya bensin, oksigen tidak sampai ke rumah sakit dan menyebabkan orang tewas dan jika makanan tidak lagi dapat lagi diangkut, maka akan terjadi kelaparan."

Meksiko mengumumkan akan mengirim bantuan kemanusiaan pada pekan ini dan sedang menjajaki kemungkinan pengiriman minyak secara diplomatik. Namun Meksiko yang sangat bergantung secara ekonomi pada AS memiliki ruang gerak yang terbatas. Ditambah lagi, dengan negosiasi ulang perjanjian perdagangan bebas Amerika Utara (NAFTA) Trump memiliki pengaruh tambahan atas Meksiko.

Presiden Claudia Sheinbaum dalam pertemuan sebelumnya dengan Menteri Luar Negeri AS Marco RubioFoto: Jacquelyn Martin/REUTERS

Kontak, tapi tidak ada dialog

Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum menawarkan diri sebagai mediator pembicaraan antara Washington dan Havana, meskipun tidak jelas apa yang sebenarnya akan dinegosiasikan. Dalam sidang Senat pada Januari, Menteri Luar Negeri AS Rubio secara terbuka menyatakan bahwa ia menginginkan perubahan rezim.

Berbeda dengan Venezuela, Kuba lebih memiliki nilai simbolis dalam perlawanan terhadap Monroe‑Doktrin dan dominasi AS, sesuatu yang disebut Hoffmann sebut sebagai "sesuatu yang belum selesai dengan AS”. Lebih lanjut Hoffmann menjelaskan, bahwa bagi Washington merasa kini adalah "saatnya Kuba untuk menyerah”, sehingga sulit membayangkan "poin‑poin apa yang bisa disepakati kepemimpinan Kuba dengan Trump dan Rubio”.

Dalam beberapa hari terakhir Trump mengatakan pemerintahannya sedang melakukan pembicaraan dengan pimpinan Kuba, namun pihak Kuba menegaskan bahwa memang ada kontak, tetapi tidak ada dialog.

Wakil Menteri Luar Negeri Carlos Fernández de Cossio menyatakan bahwa "pesan‑pesan telah dipertukarkan”, tetapi menegaskan "keliru jika dikatakan bahwa negosiasi bilateral sedang dipersiapkan”, meskipun Havana siap berbicara "secara setara.”

Menghadapi embargo minyak, Wamelu Cossio mengatakan negaranya memiliki "opsi yang terbatas” dan akan mengumumkan rencana darurat yang akan "sulit bagi pemerintah dan sangat sulit bagi seluruh rakyat.”

Sementara itu, duta besar Rusia untuk Kuba, Viktor Koronelli, menegaskan bahwa Moskow berencana terus memasok minyak ke Kuba, mengatakan bahwa minyak Rusia telah beberapa kali dikirim ke Kuba dan "kami berasumsi bahwa praktik ini akan terus berlanjut.”

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman

Diadaptasi oleh Sorta Caroline

Editor: Yuniman Farid