1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Kuba Kehabisan Minyak, Trump Utus Direktur CIA ke Havana

Rizki Nugraha dari: AFP, AP, Reuters
15 Mei 2026

Kuba semakin terdesak usai kehabisan persediaan bahan bakar menyusul blokade laut AS. Di tengah krisis, Presiden Donald Trump mengutus kepala dinas rahasia untuk berdialog ke Havana.

Direktur CIA John Ratcliffe saat bertemu pejabat Kuba di Havana, Kamis (14/5)
Direktur CIA John Ratcliffe (ki.) saat bertemu pejabat Kuba di Havana, Kamis (14/5)Foto: CIA via X/Handout/REUTERS

Adalah Kepala Central Intelligence Agency (CIA), John Ratcliffe, yang diutus Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk membawa pesan kepada pemerintah Kuba. Kunjungan itu dilangsungkan ketika Havana mulai kewalahan menyiasati blokade laut Washington, dan bahkan mengakui persediaan minyaknya telah habis.

CIA—lembaga yang selama puluhan tahun berada di jantung rivalitas Washington–Havana—mengonfirmasi pernyataan pemerintah Kuba mengenai kunjungan Ratcliffe. Foto yang diunggah lembaga itu di platform X memperlihatkan Ratcliffe bertemu sejumlah pejabat Kuba, termasuk kepala intelijen Kementerian Dalam Negeri Kuba, Ramon Romero Curbelo. Dalam foto tersebut, beberapa wajah peserta pertemuan disamarkan.

Kantor berita Associated Press melaporkan, Ratcliffe juga sempat berdiskusi dengan Raul Guillermo Rodriguez Castro—cucu dari pemimpin revolusi Kuba Raul Castro

Kunjungan ini berlangsung di tengah memburuknya hubungan kedua negara. Kuba saat ini mengalami pemadaman listrik berkepanjangan, yang dipicu oleh blokade bahan bakar yang diberlakukan oleh Presiden Trump.

Hanya satu kapal tanker dari Rusia—sekutu lama pemerintah Kuba—yang berhasil menembus pembatasan tersebut. Namun pasokan minyak itu kini telah habis, kata Menteri Energi Kuba Vicente de la O Levy kepada televisi pemerintah.

"Dampak blokade itu benar-benar menimbulkan kerugian besar bagi kami… karena kami masih belum menerima bahan bakar,” ujarnya.

Pemerintah Kuba mengumumkan telah kehabisan persediaan bahan bakar. Akibatnya, pemadaman listrik menjadi hal regulerFoto: Norlys Perez/REUTERS

'Kuba bukan ancaman'

Donald Trump berulang kali memberi sinyal ingin menggulingkan pemerintahan komunis di Kuba. Laporan CBS News yang mengutip pejabat AS anonim menyebut pemerintahan Trump juga tengah berupaya mendakwa Raul Castro, saudara pemimpin revolusi Kuba almarhum Fidel Castro, yang kini berusia 94 tahun.

Namun pemerintah Kuba menggambarkan kunjungan Ratcliffe sebagai peluang untuk meredakan ketegangan.

Pertemuan itu berlangsung "dalam konteks hubungan bilateral yang kompleks, dengan tujuan berkontribusi pada dialog politik antara kedua negara,” demikian pernyataan resmi pemerintah Kuba.

Pemerintah Havana juga menegaskan bahwa Kuba tidak pernah menjadi ancaman bagi keamanan nasional Amerika Serikat dan tidak memiliki alasan sah untuk dimasukkan dalam daftar negara yang dituduh mendukung terorisme.

"Kuba tidak pernah mendukung aktivitas bermusuhan terhadap Amerika Serikat, dan tidak akan mengizinkan tindakan terhadap negara mana pun dilakukan dari wilayah Kuba,” menurut pernyataan resmi tersebut, yang dipahami sebagai rujukan terhadap tuduhan adanya kehadiran intelijen Cina di pulau itu.

Krisis bermula ketika Amerika Serikat menggulingkan pemimpin kuat Venezuela yang kaya minyak, Nicolas Maduro, sekaligus menerapkan blokade bahan bakar terhadap sekutu terbesarnya. (Gambar) Warga Havana memprotes pemadaman listrikFoto: Norlys Perez/REUTERS

Blokade energi

Salah satu nadi ekonomi Kuba terputus pada Januari, ketika pasukan Amerika Serikat menggulingkan pemimpin kuat Venezuela yang kaya minyak, Nicolas Maduro, sekaligus menerapkan blokade bahan bakar terhadap sekutu terbesarnya di Havana.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menawarkan bantuan kemanusiaan senilai 100 juta dolar AS, dengan syarat penyalurannya dilakukan melalui Gereja Katolik, bukan pemerintah Kuba.

Dalam wawancara dengan NBC News, Rubio menyalahkan pemerintah Kuba atas penderitaan yang kini dialami rakyatnya.

"Rakyat Kuba harus tahu bahwa ada bantuan makanan dan obat-obatan senilai 100 juta dolar yang tersedia bagi mereka saat ini,” ujar Rubio. "Kepentingan nasional kami adalah melihat Kuba yang makmur, bukan negara gagal hanya 90 mil dari pantai kami.”

Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel menanggapi melalui unggahan di X dengan menyerukan agar Washington mencabut blokade tersebut.

"Kerusakan ini sebenarnya dapat dikurangi dengan cara yang jauh lebih sederhana dan cepat: mencabut atau melonggarkan blokade, karena jelas situasi kemanusiaan ini dihitung dan diciptakan secara sengaja,” katanya.

Meski ketegangan meningkat, dialog antar pemerintah masih berlangsung. Pertemuan diplomatik tingkat tinggi bahkan digelar di Havana pada 10 April—pertama kalinya sejak 2016 pesawat pemerintah Amerika Serikat mendarat di ibu kota Kuba.

Krisis listrik dan protes

Pada Kamis (14/5), wilayah timur Kuba kembali dilanda pemadaman listrik besar yang memengaruhi hampir seluruh negeri, meski sebagian wilayah kemudian kembali mendapat pasokan listrik pada sore hari.

Krisis ini memicu protes warga. Seorang penduduk distrik San Miguel del Padron di pinggiran Havana mengatakan kepada AFP bahwa warga memukul-mukul panci dan wajan pada Rabu malam sebagai bentuk protes.

Aksi serupa juga terjadi di sejumlah lingkungan lain di ibu kota. Di kawasan Playa, warga berteriak: "Nyalakan listrik!”

Data yang dihimpun AFP menunjukkan pemadaman berkepanjangan dan kekurangan produksi listrik dalam beberapa hari terakhir. Pada Selasa (12/5), sekitar 65 persen wilayah Kuba mengalami pemadaman secara bersamaan.

Dalam wawancara dengan Fox News, Rubio menilai perekonomian Kuba berada dalam kondisi lumpuh.

"Ekonomi sudah rusak dan tidak berfungsi, dan mustahil diubah. Saya berharap situasinya berbeda,” ujarnya. "Saya tidak melihat arah Kuba akan berubah selama orang-orang ini masih berkuasa.”

Editor: Yuniman Farid

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait

Topik terkait

Tampilkan liputan lainnya