Kunjungan Joschka Fischer ke Cina
16 Juli 2004Masalah hukuman mati, masalah Tibet dan Taiwan tidak menjadi tema sensitif ketika Kamis kemarin Menlu Jerman Joschka Fischer bersama menlu Cina Li Zhaoxing melakukan jumpa pers di Beijing. Di Cina kritik tajam terhadap situasi HAM di negara itu tidak biasa, apalagi dilakukan oleh tamu dari Jerman. Masalah ini sejak 4 tahun tidak pernah disinggung lagi dalam dialog negara. Selain itu di Jerman, politik Cina merupakan urusan kanselir. Oleh sebab itu Gerhard Schröder setiap tahun berkunjung ke Cina dengan disertai sebuah delegasi ekonomi dalam jumlah besar dan tidak membicarakan masalah HAM. Sebaliknya Joschka Fischer terakhir mengunjungi Cina tiga tahun lalu. Namun di awal tahun ini ia telah melakukan hal yang tidak disukai di Beijing. Ketika itu dalam konvensi HAM PBB di Jenewa Fischer melancarkan kritiknya terhadap situasi HAM di Cina. Oleh sebab itu sekarang pihak Cina juga tidak terlalu kaget dengan kritik Fischer, meski missi menlu Jerman itu datang ke Cina untuk mencari dukungan bagi sebuah kursi permanen bagi Jerman di Dewan Keamanan PBB. Selain itu dalam kunjungan Gerhard Schröder Desember lalu Schröder memberikan harapan untuk pencabutan embargo senjata yang dijatuhkan Uni Eropa kepada Cina tahun 1989 setelah terjadinya penumpasan berdarah gerakan demokrasi. Embargo itu merupakan diskriminasi bagi Beijing. Juga 15 tahun setelah pembantaian di lapangan Tiananmen, masalah ini juga belum tuntas, seperti yang tampak dalam kasus pensiunan dokter militer Jiang Yanyong. Dalam surat terbukanya yang ditujukan kepada Kongres Rakyat Cina Maret lalu, Jiang Yanyong menuntut pembaruan gerakan demokrasi. Jiang berani melakukan tindakan ini karena ia merupakan tokoh masyarakat yang populer, yang membuka adanya kasus wabah penyakit radang paru-paru akut, SARS tahun lalu setelah beberapa bulan di tutup-tutupi oleh pemerintah Cina. Awal Juni Jiang (72 tahun) ditangkap. Sejak itu laki-laki yang hampir selama hidupnya menjadi anggota Partai KP Cina harus ‚merubah pikirannya‘. Berdasarkan kasus seperti itu, berdasarkan vonis hukuman mati yang dijatuhkan dan berdasarkan meningkatnya pemburuan terhadap para pembangkang, adalah baik jika seorang tokoh politik Jerman membuka mulutnya dan memberikan penilaian yang tidak hanya disetujui oleh masyarakat Jerman, namun juga diakui secara universal. Sejak awal tahun ini masalah HAM masuk dalam undang-undang Cina.
Namun patut dipertanyakan, apakah Fischer melakukan kritik ini atas inisiatif sendiri dan untuk memuaskan para pemilih Partai Hijau, atau dalam masalah politik Cina ada pembagian pekerjaan dengan kanselir, bahwa kanselir bertanggung jawab untuk menjaga suasana baik, sedangkan menteri luar negeri harus membicarakan tema-tema yang sensitif.
Jika hubungan Jerman – Cina memang baik seperti tampak dalam data ekonomi dan seperti pendapat kedua pihak, maka kritik antar teman juga diperbolehkan.