1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Kunjungan Kanselir Jerman ke AS

14 Januari 2005

"Pertemuan Jerman dengan AS sukses.", demikian perkataan Kanselir Merkel setelah bertemu dengan Presiden Bush. Kamis kemarin Angela Merkel mengadakan lawatan perdana ke AS. Namun, tugas Angela Merkel cukup berat, mengingat kesan yang ditinggalkan pendahulunya Gerhard Schröder.

Angela Merkel bersama George W. Bush di Washington
Angela Merkel bersama George W. Bush di WashingtonFoto: AP

„Kami juga membicarakan sejumlah hal, dimana kami tidak sepaham. Seperti saat saya menyinggung masalah Guantanamo. Tetapi yang penting kami telah menemukan sebuah kesepakatan, bahwa di masa mendatang masalah apapun akan dibicarakan secara terbuka.“

Demikian perkataan Kanselir Jerman Angela Merkel setelah bertemu dengan Presiden George W. Bush. Menanggapi pertanyaan seorang wartawan mengenai kelanjutan program atom Iran, Angela Merkel melanjutkan:

„Jerman tidak dapat menerima sikap Iran yang melanjutkan program atomnya. Namun, kenyataan bahwa EU3 yakni Jerman, Perancis, Inggris bersama AS bersatu menghadapi Iran sangat memotivasi.“

Di sebuah negara, dimana pencalonan dua perempuan untuk jabatan presiden sudah menjadi sensasi, kunjungan Merkel yakni kanselir perempuan pertama Jerman, merupakan atraksi bonus untuk AS. Namun, maksud kepergian Merkel ke Amerika tentu tidak sebatas sensasi itu saja. Duta Besar Jerman untuk Amerika Serikat Wolfgang Ischinger mengatakan:

„Pemerintah Amerika Serikat sangat berminat untuk memperat kemitraanya dengan Eropa, agar rasa saling percaya dan konsultasi secara rutin dapat diselenggarakan lagi. Harapan Amerika Serikat sangat besar. Maka dari itu, menurut saya, lawatan Merkel ke Amerika merupakan pertanda baik untuk peningkatan hubungan Jerman - Amerika Serikat pada tahun 2006.“

Pada era Kanselir Gerhard Schröder, hubungan Jerman-AS sempat terganggu, disebabkan sikap Schröder yang menolak mendukung AS dalam perang Irak. Selain itu, Presiden AS George W. Bush memang tidak cocok dengan Schröder. Namun, dimana sebenarnya letak kebersamaan mereka sekarang? Direktur Institut Amerika untuk studi Jerman Jackson Janes mengatakan:

„Garis politik kedua negara menyangkut perdamaian di Timur Tengah sah saja. Begitu juga politik kami dan bagamaimana menghadapi perkembangan ekonomi di Cina atau penyediaan energi kami atau politik kami menangani Rusia. Seperti Eropa, kamipun memiliki minat yang sama menghadapi perkembangan global. Tidak mungkin menghadapinya sendiri. Mengingat apa yang terjadi di Irak belakangan ini, saya kira, mayoritas masyarakat Amerika pun mengetahuinya.“

Amerika Serikat tidak mengharapkan, kesediaan Angela Merkel mengirimkan tentaranya ke Irak, melainkan mengharapkan kesediaan Jerman membantu AS membangun kembali Irak. Seperti meneruskan program pendidikan polisi Irak maupun di bidang kemanusiaan.

Duta Besar AS untuk Jerman Richard Burt mengatakan, bagi AS Merkel merupakan mitra bicara paling tepat, mewakili rekan-rekan Eropanya. Ia mengatakan:

„Pertanyaan bagi pemerintahan Bush terutama adalah, bila Jerman hendak menunjukkan pengaruhnya di politik AS, sejauh mana Jerman juga siap, mengambilalih peran pimpinan di Eropa dan dalam kemitraan Transatlantik?”

Bila Jerman siap, AS pun bersedia berdiskusi dengan Jerman menanggapi kritikan yang dilontarkannya menyangkut Guantanamo atau pelanggaran HAM lainnya secara konstruktif.