Kunjungan Paus Benediktus XVI di Jerman
13 September 2006
Ucapan Sri Paus dalam penerbangan ke München, yang menyebut dirinya sebagai pria tua dan tidak tahu berapa lama lagi waktu yang diberikan Tuhan bagi dirinya membuat harian-harian Italia khususnya, berspekulasi tentang kesehatan Paus yang berusia 79 tahun itu. Meskipun demikian harian Italia Il Messagero lebih mengomentari khotbah Sri Paus di München sebagai khotbah yang teologis dan bersemangat.
"Tanpa sekali pun menyebut Islam secara langsung, Paus Benediktus ke-16 menyerukan kepada umatnya untuk selalu menerima agama serta budaya lain. Rasa hormat yang dalam terhadap agama sendiri bukan berarti menutup keberadaan agama serta budaya lainnya. Khotbah Ratzinger sangat bersifat teologis dan berdedikasi, juga walaupun khotbah tersebut berbeda daripada khotbah-khotbah sebelumnya. Dan ini terutama bila orang memperhatikan isyarat okumene dan penolakan konsep perang budaya terhadap Islam. Untuk itu, Sri Paus ingin mencarinya dengan sungguh-sungguh dan mendalam pada akar keagamaan dan nilai-nilai agama.“
Sementara harian Jerman Pforzheimer Zeitung berkomentar:
"Ya, Sri Paus memang bisa memberi semangat, ia berbicara dengan kata-kata yang mudah dimengerti tapi penuh arti dari makna kepercayaan. Banyak yang senang mendengarkannya. Meskipun demikian, ia tetap tidak memberi jawaban atas sejumlah pertanyaan penting. Bagaimana dengan gerakan Oikumene dan makan malam bersama terakhir Yesus dengan murid-muridnya? Bagaimana dengan sumpah selibat pendeta Katolik? Bagaimana jika perempuan menjadi pastor? Joseph Ratzinger selalu menunjuk kembali ke tradisi sebuah institusi yang berumur ratusan tahun. Tetapi itu hanya menjelaskan situasi yang kurang menyenangkan dari gereja Katolik. Hal ini tidak dapat menyelesaikan krisis.“
Dan harian Jerman Südwest Presse menulis:
"Paus Benediktus ke-16 kembali ke tanah airnya. Isyarat yang disampaikan sejak awal kunjungannya lemah. Meskipun demikian, jangan sampai orang tidak mendengarnya. Isyarat kedua diformulasikan dengan penuh pertimbangan oleh Sri Paus dalam khotbahnya. Dari umat kristen ia tidak hanya meminta rasa hormat kepada Tuhan, tapi juga sikap hormat bagi apa yang dianggap suci oleh orang lain. Tanpa diucapkan itu juga pesan yang menggembirakan bagi kaum Muslim.“
Sementara harian Jerman lainnya Märkische Allgemeine Rostocker Ostsee-Zeitung mengomentari serangan teror 11 September:
“Serangan 11 September 2001 tetap aktual. Lima tahun setelah itu bulu kuduk kembali berdiri, ketakutan akan teror kembali muncul. Mau tidak mau timbul pertanyaan, apa yang diketahui Barat untuk melawan teror? Kita terus dihadapkan dengan ancaman, melawan sesuatu yang tidak dapat dilawan dengan tentara. Sebab melawan pelaku serangan bunuh diri tidak satu pun perang yang dapat memenangkannya. Dalam serangan di Amerika Serikat, korban tewas berasal dari 83 negara. Mereka bekerja bersama-sama dengan damai, dan saling membutuhkan satu sama lainnya. Sesungguhnya inilah pesan bagi semua.“