1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Kunjungan Paus Benediktus XVI ke Jerman

19 Agustus 2005

Harian-harian internasional maupun harian Jerman, sebagian besar mengangkat tema utama kunjungan Paus Benediktus XVI ke Jerman, untuk memberkati pertemuan remaja Katolik sedunia yang dipusatkan di kota Köln.

Paus Benediktus XVI ditengah remaja dari seluruh dunia
Paus Benediktus XVI ditengah remaja dari seluruh duniaFoto: AP

Hampir semua koran menulis, tidak mudah menjadi penerus Paus Yohannes Paulus kedua yang amat populer di seluruh dunia. Harian Inggris The Independent menulis, Paus Benediktus XVI tidak memiliki karisma seperti pendahulunya. Lebih lanjut harian ini menulis :

"Pertemuan remaja Katolik sedunia, menjadi tantangan khusus bagi Paus Benediktus XVI. Ketika ia menjejakan kakinya di tanah Jerman, diberikan pertanda tegas, ia memiliki gaya sendiri. Paus Benediktus XVI tidak mencium bumi seperti pendahulunya, melainkan langsung menghampiri komite penyambutan. Ketika Paus baru berkhotbah, terutama menyangkut kehidupan bersama dengan umat Yahudi dan Muslim, ia mengungkapkan tema yang amat tepat. Kunjungannya ke Sinagoga di Köln, langsung pada hari pertama keberadaannya di Jerman, memberikan pertanda khusus. Paus Benediktus XVI memiliki peluang unik, untuk menunjukan kebalikan dari kritik yang dilontarkan kepadanya."

Harian Spanyol El Pais menulis, Paus Benediktus XVI seperti orang asing di negaranya sendiri.

"Paus Benediktus XVI belum terkenal. Memang, hampir semua mengenal pakar teologi Joseph Ratzinger dengan haluan konservatifnya. Akan tetapi, sebagai Paus, ia belum mengajukan rencana bagi masa jabatannya sebagai Pontifikus. Di sisi lainnya, gereja Katolik di Jerman, jauh lebih maju ketimbang gereja yang ditinggalkan Paus Yohannes Paulus kedua. Keuskupan Jerman, sedikit sekali persamaannya dengan keuskupan di negara Eropa lainnya. Karenanya, Paus Benediktus XVI harus merasakan, bagaikan orang asing di negaranya sendiri. Amat menarik, menyaksikan bagaimana ia datang ke sebuah negara, dengan disambut tangan terbuka, akan tetapi sekaligus juga dengan semangat kritis. Sesuatu yang tidak lazim baginya."

Harian Italia La Repubblica menilai, kunjungan ke luar negeri pertama Paus Benediktus XVI ke Köln amat tepat.

"Köln sebagai tempat penyelenggara pertemuan remaja Katolik sedunia memang amat tepat. Kota Karnaval dengan suasana riang gembira, bekas jajahan Romawi dengan fantasi sungai Rhein, yang amat cocok untuk menyambut kehadiran Paus baru, dengan kemeriahan paling spektakuler selama pertemuan tersebut. Sungai Rhein ibaratnya menjadi sungai Gangga, dengan ratusan ribu remaja yang memenuhi tepiannya. Ribuan lainnya, mencebur ke sungai, berdiri di air sampai ke pinggang, untuk dapat mengelu-elukan Paus Benediktus XVI, yang membagikan berkatnya dari atas sebuah kapal, yang berlayar di sungai Rhein menuju Katedral Köln."

Sementara harian Perancis La Republique du Centre masih membandingkan Paus Benediktus XVI dengan pendahulunya, Paus Yohannes Paulus Kedua.

"Bagi umatnya, tindakan Paus Yohannes Paulus Kedua, jauh lebih penting ketimbang kata-katanya. Sementara, Paus Benediktus XVI mengutamakan pesan-pesan kritis, yang mengimbau para remaja, untuk mengabdi sepenuhnya kepada ajaran Kristiani. Dengan jelas, terlihat semangat baru dari Paus Benediktus XVI, yang menghendaki dalam gereja Katolik ditanamkan keyakinan teguh, dan menolak kompromi yang meragukan. Tentu saja, dalam waktu bersamaan Paus Benediktus XVI harus tegar dan sekaligus terbuka. Sebab, tidak ada artinya semua sikap tegas itu, jika akhirnya gereja menjadi kosong, sementara stadion-stadion semakin penuh penonton."

Dan akhirnya suara dari Jerman. Harian Süddeutsche Zeitung menulis, pertemuan remaja Katolik sedunia menunjukan semangat kehidupan gereja.

"Dalam khotbah pertamanya di Jerman, Paus memuji sekitar 400 ribu remaja yang menyambutnya, memiliki keimanan seperti tiga orang Majus, yang menggariskan jalan hidupnya mencari kebenaran, keadilan dan kasih. Pertemuan ratusan ribu remaja, dengan Paus baru, merupakan pertanda dari semangat kehidupan gereja. Sambutan generasi muda ini, disebutkannya, memberikan semangat dan keberanian baru untuk melanjutkan tugas-tugas kepausannya."