Kunjungan Presiden Bush di Cina
22 November 2005
Harian Jerman Frankfurter Rundschau berkomentar:
"Di Washington, Cina dilihat sebagai saingan masa depan, dan juga kemungkinan dipandang sebagai musuh. Disamping itu rasa tidak percaya terhadap Amerika Serikat sangat mendalam di Cina. Adalah sebuah keberhasilan, bila dalam pembicaraan antara Presiden Bush dan Presiden Hu Jintao di Beijing, paling tidak ditemukan sebuah basis pembicaraan. Tapi dalam pernyataan terakhir masing-masing menampilkan pandangannya sendiri. Bush memfokuskan masalah kebebasan. Hu Jintao memperingatkan usaha Taiwan untuk memerdekakan diri. Kunjungan Presiden Bush dengan jelas memperlihatkan betapa dalamnya keretakan hubungan antara kedua negara adi daya tersebut."
Harian Inggris Financial Times yang terbit di London, menurunkan komentar berjudul "Cina Harus Menghormati Hak Asasi Manusia“:
"Sementara Amerika Serikat dibayangi kekacauan di Irak, dan mendapat citra yang buruk di luar negeri, Cina menunjukkan peningkatan kepercayaan dirinya di panggung politik dunia. Presiden Bush punya masalah lain. Antara lain menyangkut defisit perdagangan. Tapi sebagai pimpinan negara demokrasi yang kuat, Amerika Serikat juga punya tanggung jawab untuk mengemukakan masalah politik . Dengan demikian adalah tepat, bila Presiden Bush menandaskan, pemerintah Cina harus memperluas kebebasan politik dan agama di negaranya. Imbauannya bagi kebebasan menjalankan kegiatan keagamaan, setelah mengunjungi sebuah gereja setempat, sebagian besar ditujukan kepada pemilihnya sendiri. Meskipun demikian ia juga menyampaikan pesan yang penting. Cina harus memahami dan menerima keinginan negara lain, bahwa kemajuan ekonomi yang dicapai harus dibarengi dengan peningkatan kondisi hak asasi."
Sementara itu harian Italia Il Messaggero yang terbit di Roma menilai kunjungan Presiden Bush di Cina tidak memberikan hasil yang penting.
"Terdapat banyak tema yang dapat dijadikan pokok pembiacraan dalam kunjungan Presiden Bush. Kesemuanya mempunyai arti yang besar. Misalnya menyangkut masalah demokrasi, hak asasi, kebebasan beragama dan ekonomi. Tapi selain kepuasan ritual yang ditekankan kedua belah pihak, terlihat tidak diperoleh hasil yang penting. Disamping itu pertemuannya juga tidak berhasil mengendorkan ketegangan, yang sejak beberapa waktu mewarnai hubungan kedua negara tersebut."
Selanjutnya harian Austria Salzburger Nachrichten dalam mengomentari kunjungan Presiden Bush di Cina, menurunkan komentar dengan judul “Bagi Pimpinan di Beijing, Bush Tidak Dipercaya“.
"Masa di mana pimpinan Partai Komunis Cina menunjukkan kemarahannya secara terbuka, bila politisi dari negara-negara barat menuntut agar warganya diberikan kebebasan dan hak yang lebih luas, telah berlalu. Sebagai gantinya, pimpinan di Beijing telah terbiasa menghadapi tuntutan itu dengan reaksi yang tenang. Tapi berusaha agar media di dalam negeri tidak menyampaikan laporan yang kritis secara rinci. Presiden Bush dapat dengan bebas berbicara sebanyak mungkin mengenai hak asasi dan kebebasan. Hal ini diketahui pimpinan Cina. Dalam masalah ini, pemerintahan Presiden Bush sejak kasus di penjara Abu Ghraib dan Guantanamo, di mata warga di kawasan Asia tidak lagi dipercaya. Juga bagi warga Cina sendiri, yang kritis terhadap pemerintahnya, bukan sesuatu yang mengenakkan, bila kritik itu disampaikan politisi Amerika Serikat."