1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Kunjungan Presiden Sarkozy ke Amerika Serikat

31 Maret 2010

Kunjungan Presiden Perancis Nicolas Sarkozy ke Amerika Serikat dan resolusi Parlemen Serbia untuk kasus Srebrenica menjadi sorotan media cetak Eropa.

Presiden Perancis Sarkozy (kiri) dan President Obama ketika memasuki Ruang Timur di Gedung Putih (30/03)Foto: AP

Harian Jerman Frankfurter Allgemeine berkomentar:

"Sebagai momentum terpenting kunjungan Nicolas Sarkozy ke Gedung Putih, adalah makan malam bersama dengan sang presiden dan para first lady Michelle dan Carla. Ini menunjukkan apa kepentingan sang tamu. Ia ingin memperoleh sedikit imbasan dari kecemerlangan baru Obama. Itu juga penting. Selama ini sang Presiden Amerika Serikat mencoba mengelak dari upaya Sarkozy untuk menampilkan keakraban di antara keduanya. Ini mungkin berkaitan dengan karakter pria Amerika Serikat yang tenang itu. Tapi mungkin juga ada hubungannya dimana Perancis tidak memenuhi permohonan dan harapan mendesak Gedung Putih. Lebih menunjukkan popularitas yang dipinjam, dapat berguna bagi Sarkozy di negaranya."

Sementara komentar harian Perancis La Presse de la Manche tentang pertemuan itu

"Pasangan Amerika-Perancis dapat bermanfaat jika pasangan itu sekokoh pasangan Jerman-Perancis. Itu akan membawa nilai tambah bagi Eropa. Amerika Serikat dapat mengembangkannya dalam bentuk dan cara yang berbeda, untuk mengolah perkembangan dan perdamaian di dunia, dibanding yang dilakukan pasangan Amerika-Inggris selama ini. Pada pasangan ini hanya tampak satu hal, jika yang satu berbicara yang lainnya sudah puas hanya dengan mengangguk. Itu tidak membawa kemajuan. Melalui pertemuannya, Presiden Nicolas Sarkozy dan Barack Obama kini mulai menjadikan pasangan Amerika-Perancis, sebagai hal yang bermanfaat bagi hubungan transatlantik dan kerjasama internasional yang baru."

Lewat resolusi yang disetujui dengan suara mayoritas tipis, Parlemen Serbia meminta maaf untuk pembunuhan massal di Srebrenica. Harian Inggris The Times menulis

"Keputusan parlemen Serbia adalah pengakuan minim suatu kejahatan yang tidak ada bandingannya di Eropa sejak Perang dunia ke-2. Meskipun demikian pengakuan itu mendapat sambutan. Srebrenica adalah pembunuhan massal warga sipil terburuk di Eropa sejak tahun 1945. Pengakuan kasus Srebrenica itu memang datang terlambat, tapi kata-kata saja tidak cukup. Komandan pasukan Serbia Bosnia kala itu, Ratko Mladic masih bebas dan belum tertangkap. Karena pemerintah Serbia kini juga secara resmi mengakui kenyataan tentang Srebrenica, mereka seharusnya menemukan Mladic dan mendakwanya. Hal itu tentu saja menjadi perdebatan di dalam negeri. Untuk membungkam para pengkritik, Serbia sebaiknya bertindak adil dan tanpa takut.“

AFP/dpa/DK/AR