1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Kunjungan Prodi di Berlin

16 Juni 2006

Satu tahun setelah penolakan Belanda dan Perancis untuk Undang-Undang Uni Eropa, kembali dilakukan upaya penyelamatan.

Romano Prodi (kiri) dan Angela Merkel
Romano Prodi (kiri) dan Angela MerkelFoto: AP

Dua hari lalu di Berlin, Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden baru Italia Romano Prodi mengumumkan kesediaan mereka, bersama-sama menghidupkan kembali proses undang-undang Eropa tersebut dalam paruh pertama tahun 2007, ketika Jerman akan memimpin Uni Eropa. Dalam pertemuan puncak Uni Eropa di Brussel, pemerintah Jerman mengharap mandat untuk itu. Bulan Juni tahun depan Jerman akan menyerahkan “road map” untuk langkah selanjutnya.

Tentang kunjungan Prodi di Berlin harian Italia La Repubblica berkomentar “Italia kembali ke Eropa”. Selanjutnya harian ini menulis:

“Di Berlin dengan kantor kekanseliran yang post modern dari Angela Merkel, dimulai langkah panjang Romano Prodi untuk mengembalikan Italia ke sasaran besar Eropa. Masa depan Uni Eropa, seperti masalah undang-undang Eropa yang dipersengketakan serta krisis besar internasional, menjadi tema utama pembicaraan dengan Kanselir koalisi besar, yang merupakan sosok pribadi kunci dalam politik baru di Eropa.”

Bagi Prodi Merkel adalah acuan yang tepat. Demikian ditulis harian Italia lainnya La Stampa. Selanjutnya La Stampa menulis:

“Berlin berupaya melakukan dua salto, sekaligus menarik pasukan Italia dari Irak tapi tanpa mengganggu Amerika Serikat akan menjadikan Jerman sebgai titik acuan bagi politik Italia. Dimana saat ini Jerman di bawah Kanselir Angela Merkel tengah mendekat kembali ke Amerika Serikat. Sedangkan Italia berdasarkan berbagai alasan sementara ini menjauhi Amerika Serikat. Jadi kedua negara Jerman dan Italia bersama-sama dapat menduduki posisi tengah. Prodi beranggapan menemukan mitra dalam sosok Merkel, yang diperlukannya untuk menemukan pijakan dalam politik internasional. Jika Silvio Berlusconi menemukannya pada Amerika Serikat, bagi Prodi acuan itu adalah Jerman.”

Hal ini dipandang sebagai kesempatan Jerman untuk menjadi penguasa ekonomi oleh harian Jerman Die Welt. Harian ini berkomentar:

“Di antara penguasa besar ekonomi di benua Eropa, hanya Jerman yang benar-benar memiliki kesempatan mencapai putaran balik. Perancis di lubuk hati yang terdalam tetap berjiwa komunis. Di Italia situasinya lebih menuju jalan buntu. Jika orang tukang paksa dengan kekerasan seperti Berlusconi saja tertahan serat-serat perusahaan negara, juga Prodi yang cenderung berhaluan kiri tidak akan memberi kelonggaran bagi sektor swasta. Jika memandang kawasan sekitarnya, kesempatan Jerman tampaknya benar-benar menjanjikan. Faktanya, ekonomi Jerman tidak menarik keuntungan dari liberalisasi, melainkan dari kemajuan yang merupakan pengaruh globalisasi.”