1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Kunjungan Robert Gates ke Indonesia

Zaki Amrullah26 Februari 2008

Menteri Pertahanan AS Robert Gates mengunjungi Indonesia sebagai bagian rangkaian kunjungan 9 hari ke sejumlah negara. Salah satu tema utama adalah rencana Indonesia membeli sejumlah pesawat tempur F 16 dari Amerika.

Der US-amerikanische Verteidigungsminister Robert Gates spricht am Sonntag, 11. Februar 2007, in Muenchen zu den Gaesten und Teilnehmern der Sicherheitskonferenz. (AP Photo/Diether Endlicher) U.S. Secretary of Defense Robert Gates adresses the Conference on Security Policy in Munich, southern Germany,Sunday, Feb. 11, 2007 . NATO nations must work in partnership with Russia on security matters, U.S. Defense Secretary Robert Gates said on Sunday, a day after President Vladimir Putin blasted Washington's foreign policy and accused it of fomenting a series of wars. (AP Photo/Diether Endlicher)
Menhan AS Robert Gates

Pemerintah Amerika Serikat melangkah lebih jauh dalam mencairkan sepenuhnya kerjasama militer dengan Indonesia. Menteri pertahanan Amerika Robert Gates mengungkapkan hal itu dalam pertemuan dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Jakarta, hari Senin kemarin.

“Secara khusus kami membahas langkah yang bisa dilakukan Amerika dalam membantu upaya yang sedang dilakukan pemerintah Indonesia untuk mereformasi militer. Kami juga akan membantu meningkatkan kemampuan militer Indonesia, terutama Angkatan Udara dan Angkatan Lautnya. Baik melalui program pelatihan maupun penyediaan peralatan. Amerika siap membantu Indonesia dengan berbagai cara yang bisa kami lakukan.“

Indonesia tak membuang waktu. Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono mengatakan, Indonesia akan segera belanja suku cadang untuk pesawat angkut hercules dan empat pesawat tempur F-16 lama milik Indonesia, serta memesan enam buah pesawat tempur F 16 tambahan. Transaksinya diharap bisa dilakukan selambartnya tahun depan. Kendati pemerintah belum menetukan mekanisme pembelian pesawat yang harga per unitnya mencapai 30 juta Dollar Amerika itu, karena terbatasmnya anggaran. Menteri pertahanan Juwono Sudarsono:

Ada yang disebut FMS (Foreign Military Sale) itu pinjaman dari mereka dan ada juga FMF ( Foreign Military Financing) kalau bisa FMF itu kalau kita punya uang, tergantung juga dari Depkeu, apakah Kredit Ekspor itu bisa dialokasikan untuk sesuatu yang menurut keadaan sekarang belum terlalau mendesak.”

Juwono menjelaskan, pesawat tempur yang dipesan akan merupakan produksi tahun 1990an. Dan tidak dari generasi yang baru. Karena akan terlalu mahal.

Sebetulnya Amerika telah mencabut sebagian ketentuan embargo militer pada tahun 2005. Namun baru kali ini kebijakan itu diterjemahkan dalam tawaran nyata. Amerika Serikat memberlakukan embargo militer kepada Indonesia menyusul kerusuhan dalam jajak pendapat di Timor Timor pada 1999.

Menteri Pertahanan AS Robert Gates menjelaskan, mengapa hubungan militer dengan Indonesia bisa sepenuhnya dipulihkan:

“Saya berpendapat, Indonesia telah mengalami kemajuan besar, dan sungguh-sungguh dalam melaksanakan reformasi di tubuh militer, sebagaimana reformasi di bidang lain. Karenanya saya yakin Indonesia bias menjadi contoh bagi Negara-negara lain mengenai penarikan mundur militer dari kehidupan politik dan persoalan sipil. Dan seterusnya berfokus pada urusan pertahanan Negara. Suatu tatanan supremasi sipil atas militer“.

Lebih jauh, Gates memuji peran aktif TNI sebagai pasukan penjaga perdamaian PBB di sejumlah wilayah konflik. Disebutkan, Indonesia merupakan negara yang memeiliki penting penting khususnya di Asia.

Pernyataan Robert Gates disambut baik pemerintah dan militer Indonesia. Namun banyak yang menganggap langkah Amerika masih setengah-setengah. Karena pemulihan dan penyediaan peralatan militer itu titik beratnya pada Angkatan Laut dan udara. Sementara Angkatan Darat yang banyak masuk dalam berbagai kehidupan politik sipil, masih agak dikecualikan.

Embargo militer Amerika sejak tahun 1999 membuat Indonesia mengalami kesulitan besar dalam merawat mesin-mesin militernya yang hampir seluruhnya buatan Amerika. Banyak pesawat tempur Indonesia Indonesia yang teronggok bagai besi tua. Peralatannya dicomot untuk pesawat lain. Indonesia sempat beralih ke Rusia, untuk belanja peralatan militernya. Antara lain pesawat tempur Sukhoi.