Kunjungan Sarkozy kepada Bush
8 November 2007
Kunjungan presiden Perancis Nicolas Sarkozy ke Amerika Serikat dikomentari dalam tajuk harian-harian internasional. Penyambutan hangat dari presiden AS George W.Bush, hendak mendemonstrasikan perubahan hubungan kedua negara, yang sebelumnya tidak harmonis. Sarkozy berhasil menaklukan Amerika Serikat. Demikian komentar harian konservativ Perancis Le Figaro dengan nada memuji. Lebih lanjut harian yang terbit di Paris itu dalam tajuknya menulis : Pidatonya di Kongres berhasil menaklukan hati warga Amerika. Pendekatan kembali yang dilakukannya, membuat Sarkozy dapat menunjukan kepada AS, tanggung jawab yang harus diembannya. Imbauannya untuk perlindungan lingkungan serta peringatannya terhadap kekacauan di pasar moneter, mendapat perhatian dari parlemen AS. Juga janji Perancis untuk tetap bertugas di Afghanistan sepanjang diperlukan, untuk mendampingi AS dalam perang melawan terorisme, mendapat tepuk tangan meriah dari Kongres.
Sebaliknya harian liberal kiri Perancis Liberation yang juga terbit di Paris menulis komentar dengan nada kritis. Tahukah Sarkozy kepada siapa ia berbicara, ketika di Washington menyatakan simpati Perancis kepada AS? Bush sendiri sudah menyesali, ia tidak mengenali lagi negaranya, setelah melancarkan perang yang mengerikan di Irak. Amerika sudah berjanji tidak akan melancarkan lagi perang atas nama kebebasan universal. Akan tetapi, terdapat paradox karena kelompok neo-konservativ melegalisir hak untuk melakukan penyiksaan, serta memberikan kekebalan hukum kepada tentara bayaran. Namun berbagai film yang menggugat kebohongan dan manipulasi dari pemerintahan AS, menunjukkan bahwa era setelah Bush sudah dimulai sekarang.
Sementara harian Italia La Repubblica yang terbit di Roma dalam tajuknya berkomentar : Sarkozy menampilkan diri sebagai simbol dari perubahan hubungan antara kedua negara. Tapi untuk merebut kembali hati warga AS, Sarkozy juga tidak bersedia menjadi anjing pudelnya Bush, seperti julukan yang diberikan kepada mantan PM Inggris, Tony Blair. Tapi julukan inilah yang banyak diberikan warga di Perancis kepada Sarkozy, yang hendak menunjukan, jika seorang presiden pro-Amerika terpilih, maka Perancis tidak lagi anti-Amerika. Populisme semacam ini tidak akan bertahan lama, dan biasanya berumur pendek, seperti singkatnya popularitas seorang presiden.
Dan terakhir harian Austria Die Presse yang terbit di Wina berkomentar : Demonstrasi persahabatan Perancis - AS harus dipandang secara skeptis. Jika tiba-tiba presiden Perancis Nicolas Sarkozy dalam kunjungannya ke Washington menyebutkan, adanya hubungan cukup bergairah antara negaranya dengan AS, hal itu sama menggelikannya dengan sikap anti-Amerika dari pendahulunya, Jacques Chirac. Hubungan Perancis – AS selama ini tidak pernah berubah, yakni ibarat panas-dingin atau hitam-putih. Sejauh ini tidak mungkin adanya hubungan normal diantara kedua negara.