1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
PendidikanIndonesia

Mapel AI Mau Masuk Kurikulum SD, Orang Tua Gerak Lebih Dulu

Cinta Zanidya
9 Februari 2026

Saat pemerintah ingin mata pelajaran AI dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan di sekolah dasar, ada orang tua yang justru sudah mendaftarkan anaknya untuk kursus AI secara mandiri. Apa motifnya?

Seorang anak belajar AI di ruangan kelas di Lembaga Artificial Intelligence Center Indonesia (AiCI)
Suasana belajar AI oleh anak-anak di Lembaga Artificial Intelligence Center Indonesia (AiCI)Foto: DW

Di sebuah kelas kursus Artificial Intelligence (AI), Zain yang baru berusia tujuh tahun tampak mengerutkan dahinya, berkonsentrasi merakit kincir angin mini menggunakan building block. Hasil yang diinginkan adalah kincir itu dapat berputar dan memainkan lagu setelah dirakit dan diprogram melalui tablet yang dikendalikan Zain.

Ada empat anak lain seusia Zain yang juga belajar di kelas itu. 

Suasana kelas yang semula hening, perlahan dipecah oleh nada elektronik sederhana dari tiga kincir mini yang berputar satu per satu, disusul dengan tawa puas tiga orang anak (termasuk Zain) atas keberhasilan mereka.

Dua anak lainnya masih terlihat kesusahan, menatapi kincir dan tablet mereka masing-masing dengan wajah serius. Namun, setelah dihampiri guru, suara musik dari dua kincir milik mereka akhirnya berhasil terdengar.

Orang tua dari Zain memilih mendaftarkan anaknya untuk kursus AI agar tidak terlalu ketinggalanFoto: DW

Di kelas tersebut, Zain didampingi oleh ibunya, Hanoum. Menurutnya, minat belajar Zain terkait AI cukup tinggi.

"Dia (Zain) sudah kepikiran mau membuat kompor yang ada pendinginannya. Jadi masakan tidak terlalu panas saat dihidangkan,” ujarnya saat diwawancara DW Indonesia.

Hanoum dan suami memutuskan untuk mendaftarkan Zain mengikuti kursus AI dan koding sejak dini agar anaknya tidak hanya menjadi pengguna pasif dari teknologi yang terus berkembang.

"Kebanyakan tempat kursus AI yang ada itu dimulai untuk anak-anak SMP, sementara anak kami sudah ada ada minat. Jadi kami daftarkan kursus di sini sejak dini agar dia tahu dasarnya. Jadi enggak terlalu ketinggalan juga,” ujar Hanoum.

Kursus AI jadi pilihan di tengah banyaknya kekhawatiran

Lembaga Artificial Intelligence Center Indonesia (AiCI) yang terletak di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Universitas Indonesia, jadi pilihan Hanoum untuk anaknya mengenyam ilmu soal AI. Lembaga ini menawarkan kursus AI dan koding untuk anak-anak, mulai dari jenjang kelas satu SD. 

"Mereka (orang tua) ingin agar anaknya menggunakan perangkat digital itu dengan bijaksana. Jadi misalnya mereka punya handphone (HP), ya (harapannya) HP itu dipakai untuk hal-hal yang bagus,” kata Direktur AiCI, Baiq Hana Susanti, saat diwawancara DW Indonesia.

Santi menambahkan, banyak orang tua mengkhawatirkan maraknya konten AI yang bersifat simplistik, atau sering disebut sebagai brainrot, serta kemudahan akses anak-anak terhadap perangkat AI seperti ChatGPT, yang berpotensi dapat meningkatkan ketergantungan anak terhadap kecerdasan buatan.

Oleh karenanya, kurikulum AI di AiCI menurut Santi dirancang dengan pendekatan pembelajaran yang menyenangkan. Anak-anak dikenalkan pada konsep dasar AI melalui kegiatan seperti koding, pemrograman, dan pengenalan data, tanpa diarahkan untuk langsung menjadi pengembang AI. 

Meski tidak menjawab kekhawatiran soal brainrot dan ketergantungan anak terhadap AI secara langsung, kurikulum tersebut diharapkan bisa jadi modal awal guna meningkatkan minat belajar anak terhadap AI. 

"Banyak hal yang bisa kita kembangkan di anak-anak, tapi tidak bisa instan. Kadang-kadang dengan adanya AI ini, orang merasa semua bisa instan. Padahal, tidak seperti itu. Di balik itu, mereka harus mengerti dulu konsep-konsep dasarnya, etiknya, seberapa jauh, apa yang boleh mereka pakai, apa yang enggak,” jelas Santi.

Perlukah mata pelajaran AI di kurikulum sekolah dasar?

Mulai tahun ajaran 2025/2026, AI sejatinya telah ditetapkan sebagai mata pelajaran pilihan di jenjang sekolah dasar, mulai dari jenjang kelas 4 SD, sesuai Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 13 Tahun 2025, demikian seperti dikutip dari Kompas. Namun, penerapannya dilakukan secara bertahap, menyesuaikan kesiapan masing-masing sekolah. 

Pemerintah menempuh langkah ini salah satunya karena literasi AI di Indonesia masih tergolong rendah. Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2025 mencatat skor literasi AI Indonesia berada di angka 49,96 atau belum mencapai separuh pemahaman yang dianggap memadai. 

Skor ini mengukur sejauh mana seseorang memahami cara kerja AI, mampu menggunakannya secara sadar, bersikap kritis terhadap hasilnya, serta memahami risiko dan dampak sosial yang ditimbulkannya. 

Meski begitu, rencana implementasi kebijakan masih dihadapkan tantangan besar, terutama terkait kesenjangan fasilitas dan kompetensi tenaga pengajar. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025 menunjukkan 5.783 sekolah di daerah 3T belum memiliki listrik, dan 10.692 sekolah tidak memiliki akses internet.

"Saya khawatir guru dan murid yang tidak memiliki kompetensi membedakan antara yang AI dan yang nyata, ini akan bahaya. Sesuatu konten AI, disangka orisinal. Yang lebih repot, sesuatu yang asli, yang orisinal, disangka AI,” kata Satriwan Salim, Koordinator Nasional Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) saat diwawancara DW Indonesia.

Itulah mengapa menurut Satriwan, pembelajaran AI atau koding untuk anak-anak harus diawasi secara ketat oleh guru yang mempunyai kompetensi dan literasi AI yang tinggi agar dapat menuntun anak-anak pada penggunaan AI yang efektif dan etis.

"Guru harus diberikan pembekalan yang memadai. Jangan sampai terbalik. Jangan nanti murid generasi alfa atau generasi beta malah lebih canggih, lebih artikulatif ketimbang gurunya di dalam menggunakan AI, pendidikan kita tentu akan jadi kontraproduktif,” jelas Satriwan. 

"AI bukan pengganti otak dalam berpikir kritis"

Lebih jauh, tanpa fasilitas yang memadai, pembelajaran AI pada anak di usia yang sangat muda menurut Satriawan justru dapat mengingatkan risiko pada kemampuan kognitif anak.

"Berbagai macam penelitian mengatakan, anak-anak di bawah 13 tahun yang menggunakan gawai atau HP, itu justru akan merasakan dampak negatif terhadap fungsi kognitif mereka, kesehatan mental mereka,” jelas Satriwan.

Menurutnya, pembelajaran AI harus menekankan pada penggunaan AI sebagai alat bantu yang efektif, bukan pengganti otak dalam berpikir kritis.

"Kalau tidak didukung oleh guru yang qualified dan daya dukung seperti sarana-prasarana yang menunjang, belajar tentang komponen-komponen dasar mengenai AI tentu dampak negatifnya kemampuan berpikirnya anak itu tidak akan berkembang, fungsi kognitifnya. Anak (akan) bergantung kepada isi kepalanya AI, bukan bergantung kepada kemampuan berfikirnya,” ujar Satriwan.

Karena itu, ia menilai dilema pembelajaran AI pada anak dapat diminimalisir melalui perubahan pola pikir dalam sistem pendidikan Indonesia, dari orientasi pada hasil menuju orientasi pada proses. Dengan pendekatan ini, siswa tidak melihat AI sebagai jalan pintas, melainkan sebagai alat yang dapat dikembangkan menjadi inovasi yang bermakna.

Editor: Prihardani Purba

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait