Seorang jaksa khusus menuduh Yoon Suk Yeol, mantan presiden Korea Selatan yang digulingkan, berusaha memicu ketegangan dengan memerintahkan pengiriman drone ke Korea Utara.
Yoon secara resmi dicopot dari jabatannya pada bulan April (Foto arsip: 5 Juli 2025)Foto: Hwawon Ceci Lee/Anadolu Agency/IMAGO
Iklan
Mantan Presiden Korea Selatan, Yoon Suk Yeol, didakwa dengan tuduhan tambahan pada Senin (10/11) terkait upayanya yang singkat untuk memberlakukan darurat militer tahun lalu.
Setelah Yoon dimakzulkan, penggantinya, Lee Jae Myung, menunjuk tim penasihat khusus untuk melakukan penyelidikan.
Tim tersebut mengatakan bahwa Yoon diduga memerintahkan pengiriman drone mata-mata ke Korea Utara pada Oktober 2024, dengan tujuan sengaja memicu ketegangan dan membenarkan rencananya untuk mendeklarasikan darurat militer.
Yoon dan dua pejabat pertahanan utamanya, mantan Menteri Pertahanan Kim Yong-hyun dan mantan kepala intelijen militer Yeo In-hyung, didakwa dengan tuduhan membantu musuh dan menyalahgunakan kekuasaan.
Park Ji-young, juru bicara kejaksaan, menyebutkan bahwa ditemukan bukti di ponsel seorang pejabat militer yang berisi beberapa kata yang diduga mengarah pada potensi provokasi terhadap Korea Utara, seperti “drone” dan “serangan bedah,” menurut laporan kantor berita Reuters.
Tidak ada komentar langsung dari Yoon, Kim, maupun Yeo.
Korea Utara sebelumnya menuduh Seoul menerbangkan drone di atas Pyongyang untuk menjatuhkan selebaran anti-Korea Utara pada Oktober tahun lalu.
Awalnya, Menteri Pertahanan Korea Selatan Kim dengan samar menyangkal tuduhan tersebut.
Namun kemudian pihak militer negara itu mengatakan bahwa mereka tidak dapat memastikan apakah klaim Pyongyang benar atau tidak.
Masalah ini sempat memicu ketegangan tinggi antara kedua negara yang saling bermusuhan, dengan pihak Utara mengancam akan memberikan “tanggapan dengan tanggapan.”
Namun, tidak ada langkah besar yang diambil oleh kedua negara dan ketegangan secara bertahap mereda.
Sejarah Perang Korea 1950-1953
Ambisi Kim Il Sung menguasai Semenanjung Korea tidak hanya merenggut jutaan nyawa, tetapi juga berakhir pahit untuk aliansi komunis di utara. Perang Korea gagal mengubah garis demarkasi yang masih bertahan hingga kini.
Foto: Public Domain
Korea Terbagi Dua
Selepas Perang Dunia II, Korea yang dijajah Jepang mendapat nasib serupa layaknya Jerman yang dibagi dua antara sekutu Barat dan Uni Soviet. Ketika AS membentuk pemerintahan boneka di bawah Presiden Syngman Rhee untuk kawasan di selatan garis lintang 38°, Uni Soviet membangun rezim komunis di bawah kepemimpinan Kim Il Sung.
Foto: Getty Images/AFP
Siasat Kim Lahirkan Perang Saudara
Awal 1949 Kim Il Sung berusaha meyakinkan Josef Stalin untuk memulai invasi ke selatan. Namun permintaan itu ditolak Stalin karena mengkhawatirkan intervensi AS. Terlebih serdadu Korut saat itu belum terlatih dan tidak mempunyai perlengkapan perang yang memadai. Atas desakan Kim, Soviet akhirnya membantu pelatihan militer Korut. Pada 1950 pasukan Korut sudah lebih mumpuni ketimbang serdadu Korsel
Foto: Bundesarchiv, Bild 183-R80329 / CC-BY-SA
Peluang Emas di Awal 1950
Keraguan Stalin bukan tanpa alasan. Sebelum 1950 Cina masih tenggelam dalam perang saudara antara kaum nasionalis dan komunis, pasukan AS masih bercokol di Korsel dan ilmuwan Soviet belum berhasil mengembangkan bom nuklir layaknya Amerika Serikat. Ketika situasi tersebut mulai berubah, Stalin memberikan lampu hijau bagi invasi pada April 1950.
Foto: picture-alliance/dpa/Bildfunk
Kekuatan Militer Korut
Berkat Soviet, pada pertengahan 1950-an Korut memiliki 200.000 serdadu yang terbagi dalam 10 divisi infanteri, satu divisi kendaraan lapis baja berkekuatan 280 tank dan satu divisi angkatan udara dengan 210 pesawat tempur. Militer Korut juga dipersenjatai 200 senjata artileri, 110 pesawat pembom dan satu divisi pasukan cadangan berkekuatan 30.000 serdadu dengan 114 pesawat tempur dan 105 tank
Foto: AFP/Getty Images
Kekuatan Militer Korsel
Sebaliknya kekuatan militer Korea selatan masih berada jauh di bawah saudaranya di utara. Secara umum Korsel hanya berkekuatan 98.000 pasukan, di antaranya cuma 65.000 yang memiliki kemampuan tempur, dan belasan pesawat, tapi tanpa tank tempur atau artileri berat. Saat itu pasukan AS banyak terkonsentrasi di Jepang dan hanya menempatkan 300 serdadu di Korsel.
Foto: picture-alliance/dpa
Badai Komunis Mengamuk di Selatan
Pada 25 Juni 1950 sekitar 75.000 pasukan Korut menyebrang garis lintang 38° untuk menginvasi Korea Selatan. Hanya dalam tiga hari Korut yang meniru strategi Blitzkrieg ala NAZI Jerman merebut ibu kota Seoul dengan mengandalkan divisi lapis baja dan serangan udara. Pada hari kelima kekuatan Korsel menyusut menjadi hanya 22.000 pasukan
Foto: picture-alliance/dpa
Arus Balik dari Busan
Kendati AS mulai memindahkan pasukan dari Jepang ke Korsel, hingga awal September 1950 pasukan Korut berhasil menguasai 90% wilayah selatan, kecuali secuil garis pertahanan di sekitar kota Busan. Dari kota inilah Amerika Serikat dan pasukan PBB melancarkan serangan balik yang kelak mengubur impian Kim Il Sung menguasai semenanjung Korea.
Foto: Public Domain
September Berdarah
Di bawah komando Jendral Douglas MacArthur, pasukan gabungan antara AS, PBB dan Korea Selatan yang kini berjumlah 180.000 serdadu mulai mematahkan kepungan Korut terhadap Busan. Berbeda dengan pasukan Sekutu, Korut yang tidak diperkuat bantuan laut dan udara mulai kewalahan dan dipaksa mundur semakin ke utara.
Foto: Public Domain
Nasib Buruk Berputar ke Utara
Pada 25 September pasukan sekutu berhasil merebut kembali Seoul. Serangan udara dan artileri militer AS berhasil menghancurkan sebagian besar tank dan senjata artileri milik Korut. Atas saran Cina, Kim menarik mundur pasukannya dari selatan. Jelang Oktober hanya sekitar 30.000 pasukan Korut yang berhasil kembali ke utara.
Foto: Public Domain
Intervensi Mao
Ketika pasukan AS melewati batas demarkasi pada 1 Oktober, Stalin dan Kim mendesak Mao Zedong dan Zhou Enlai agar mengirimkan enam divisi invanteri Cina ke Korea. Soviet sendiri sudah menegaskan tidak akan menurunkan langsung pasukannya. Permintaan tersebut baru dijawab pada 25 Oktober, setelah serangkaian perjalanan diplomasi antara Beijing dan Moskow.
Foto: gemeinfrei
Mundur Teratur
Hingga November 1950 pasukan AS tidak hanya merebut Pyongyang, tetapi juga berhasil merangsek hingga ke dekat perbatasan Cina. Kemenangan AS terhenti setelah pasukan Cina yang berkekuatan 200.000 tentara mulai melakukan serangan balik. Intervensi tersebut menyebabkan kekalahan besar pada pasukan AS yang terpaksa mengundurkan diri dari Korea Utara pada pertengahan Desember.
Foto: Public Domain
Berakhir dengan Kebuntuan
Hingga Juli 1951 pasukan Cina dan AS masih bertempur sengit di sekitar perbatasan garis lintang 38°. Baru pada pertengahan tahun kedua pihak mulai mengendurkan serangan yang menyebabkan situasi buntu. Setelah kematian Josef Stalin, sikap Uni Soviet mulai melunak dan pada 27. Juli 1953 kedua pihak menyepakati gencatan senjata yang masih berlaku hingga kini.
Foto: picture-alliance/dpa
Hilang Nyawa Terbuang
Pada akhir Perang Korea, sebanyak 33.000 pasukan AS dilaporkan tewas dalam pertempuran. Sementara Korsel melaporkan sebanyak 373.000 warga sipil dan 137.000 pasukan tewas. Sebaliknya Cina kehilangan 400.000 serdadu dan Korut 215.000 pasukan, serta 600.000 warga sipil. Secara umum angka kematian yang diderita kedua pihak mencapai 1,2 juta jiwa.
Foto: Public Domain
13 foto1 | 13
Masalah hukum mantan presiden Korea Selatan yang digulingkan
Korea Selatan terjerumus dalam kekacauan politik ketika Yoon mengirim pasukan bersenjata ke parlemen dalam upaya gagal untuk menghentikan para anggota dewan memberikan suara menentang keputusan darurat militernya.
Iklan
Pemimpin konservatif itu ditahan dalam sebuah penggerebekan pada Januari, menandai penangkapan pertama terhadap seorang presiden yang masih menjabat dalam sejarah negara Asia Timur tersebut.
Yoon dicopot dari jabatannya oleh Mahkamah Konstitusi pada April lalu.
Yoon bersikeras bahwa ia tidak pernah berniat memberlakukan pemerintahan militer, melainkan mendeklarasikan darurat militer untuk memperingatkan kesalahan partai oposisi dan melindungi demokrasi dari “elemen anti-negara.”
Tim pembelanya juga mengatakan bahwa Yoon tidak mengetahui adanya penerbangan drone tersebut.
Mantan presiden, yang saat ini berada di penjara, masih diadili atas tuduhan mengarahkan pemberontakan dan pelanggaran lainnya yang terkait dengan deklarasi darurat militernya.
Tuduhan pemberontakan merupakan kejahatan berat di Korea Selatan yang jika terbukti bersalah dapat dijatuhi hukuman mati atau penjara seumur hidup.
Artikel ini pertama kali terbit dalam Bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Rahka Susanto
Editor: Yuniman Farid