Lagu Anak Indonesia: Bagaimana Nasibnya Saat Ini?
14 Desember 2025
Saat ini, orang tua mungkin merasa semakin sulit menemukan lagu anak-anak yang benar-benar sesuai usia dan memiliki nilai pendidikan. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang tumbuh dengan lagu-lagu ramah anak asli Indonesia seperti Bang Bing Bung Menabung yang dinyanyikan oleh artis cilik Saskia dan Geofanny, atau Kapal Terbang dari Josua Suherman yang bercerita tentang sebuah cita-cita.
Lagu-lagu anak saat ini tidak cukup populer dan pilihan yang aman serta mendidik terasa semakin terbatas.
Hal ini juga dirasakan oleh Azelia Trifiana, ibu dari dua anak yang tinggal di Malang, Jawa Timur. Ia mengungkapkan, “Sekarang rasanya cukup sulit menemukan lagu anak-anak yang benar-benar bagus dan sesuai dengan usia mereka.” Kekurangan pilihan tersebut membuat Azelia akhirnya mencari alternatif dari luar negeri.
“Sayangnya, aku lebih banyak mengambil lagu-lagu edukatif dari akun atau kanal YouTube luar negeri. Di Indonesia pilihannya sangat sedikit. Kalau pun ada, biasanya berupa tayangan kartun seperti Nusa Rara, bukan lagu anak baru yang benar-benar edukatif,” tuturnya.
Azel menambahkan bahwa ia sering menggunakan lagu-lagu luar negeri yang telah diterjemahkan atau diberi subtitle dalam bahasa Indonesia agar anak-anak tetap mudah memahami isi lagunya. “Akhirnya, aku memilih lagu-lagu luar yang sudah diterjemahkan atau di-subtitle supaya anak-anak bisa memahaminya,” jelasnya.
Tantangan lagu anak di era digital
Perkembangan era digital menghadirkan tantangan baru. Anak-anak kini mudah mengakses platform seperti TikTok dan media sosial lainnya, di mana arus konten musik bergerak sangat cepat. Sayangnya, banyak lagu yang beredar di platform digital memiliki lirik yang kurang mendidik dan melodi yang tidak ramah anak.
“Padahal, lagu bukan sekadar hiburan. Anak-anak akan menyerap isi lagu, mempelajarinya, dan menjadikannya bagian dari proses tumbuh kembang mereka. Karena itu, pemilihan lagu untuk anak harus sangat selektif. Sayangnya, sekarang sulit menemukan lagu yang benar-benar sesuai usia dan memberikan nilai pendidikan yang baik,” jelas Azelia.
Paparan konten yang tidak sesuai usia sering kali membuat orang tua cemas. “Kadang ada kata-kata yang kurang etis tiba-tiba diucapkan anak-anak, dan kita bingung mereka dapat dari mana. Ternyata setelah ditelusuri, mereka mendengarnya dari teman atau dari lagu-lagu orang dewasa di TikTok,” tambahnya.
Kekhawatiran Azelia bukan tanpa dasar. Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada 2024 menunjukkan bahwa penetrasi internet di kelompok anak di bawah 12 tahun sudah mencapai sekitar 48%. Artinya, hampir setengah dari anak-anak usia sangat muda di Indonesia sudah mulai terpapar internet. Angka ini menegaskan pentingnya pengawasan orang tua dan pemilihan konten digital yang sesuai, agar anak-anak tetap teredukasi dan aman dalam mengakses dunia maya.
Apa penyebab popularitas lagu anak Indonesia meredup?
Meredupnya popularitas lagu anak, menurut jurnalis musik Shindu Alpito, tidak lepas dari transisi konsumsi media yang terjadi saat ini. Tren ini terlihat jelas jika dibandingkan dengan pola konsumsi lagu anak pada generasi 1990-an.
“Generasi 1990-an cenderung mengonsumsi hiburan atau musik secara satu arah, melalui televisi dan radio. Sementara anak-anak sekarang terpapar berbagai platform digital dengan akses yang lebih luas dan kompleks, sehingga peran orang tua dalam mengarahkan pilihan musik menjadi semakin krusial,” jelas Shindu.
Selain itu, tantangan perubahan cara konsumsi media ini tidak selalu diikuti dengan kemampuan adaptasi yang memadai. “Kita sebenarnya sudah kalah duluan dari sisi marketing. Dari sisi pendekatan estetika dan berbagai aspek lainnya, kita memang tertinggal. Akibatnya, anak-anak cenderung memilih konten yang lebih menarik bagi mereka dari sisi audio-visual, meski konten itu berasal dari luar negeri,” lanjutnya.
Meski demikian, Shindu melihat adanya lompatan dan harapan baru dengan hadirnya film Jumbo. Film ini membuktikan bahwa lagu anak sebenarnya bisa bertahan dan hidup dalam konteks lokal, asalkan didukung oleh kekuatan Hak Kekayaan Intelektual yang holistik. “Artinya, kombinasi cerita yang kuat, animasi menarik, presentasi yang baik, dan kualitas karya yang mumpuni menjadi faktor penting,” ungkap Shindu.
Butuhnya lagu anak yang sesuai konteks zaman
Psikolog anak Mira Amir menilai bahwa Indonesia saat ini membutuhkan lagu‑anak yang lebih relevan dengan konteks zaman. Ia mencontohkan lagu Si Kancil, yang menceritakan kancil nakal yang suka mencuri ketimun, sebagai contoh dari lagu populer di masa lalu yang sudah kurang relevan dengan kondisi masyarakat sekarang. “Saat ini, banyak kasus hewan liar justru masuk ke kawasan hunian warga bukan karena mereka ‘nakal’, tetapi karena ulah manusia yang mengusik habitat mereka. Lagu semacam ini rasanya sudah tidak relevan lagi bagi anak-anak,” ungkap Mira.
Di sisi lain, Mira menekankan bahwa pilihan lagu yang tidak sesuai dengan tahap tumbuh kembang anak dapat memengaruhi bagaimana mereka memahami realitas dunia. “Paparan lagu‑lagu dewasa yang akhirnya dicerna anak melalui internet bisa membuat mereka terdorong untuk bersikap dewasa di luar usia mereka. Mereka jadi terjejali dengan kosakata dan konten yang tidak sesuai dengan usia,” jelasnya.
Mira juga menekankan bahwa minimnya lagu anak yang baik dan sesuai usia, terutama di tengah keterbatasan konten edukatif lokal, dapat mengurangi ruang bagi anak untuk menyalurkan dan mengelola emosi, termasuk stres. “Saat ini banyak anak yang mengalami stres. Padahal keberadaan lagu anak bisa menjadi cara bagi mereka untuk melepas tekanan dan menenangkan diri,” katanya.
Data dari Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2022 menunjukkan bahwa satu dari tiga anak usia 10–17 tahun di Indonesia memiliki masalah kesehatan mental. Kondisi ini diperkirakan akan memburuk pada 2025, seiring meningkatnya kunjungan anak dan remaja ke sejumlah biro psikologi, yang dilaporkan naik sekitar 20–30 persen.
Lagu anak dalam membentuk jati diri bangsa
Psikolog anak Tika Bisono menilai bahwa ketiadaan lagu anak karya Indonesia yang relevan dengan zamannya berpotensi menghilangkan peran penting dalam membentuk jati diri bangsa. Menurut Tika, lagu anak tidak sekadar hiburan, tetapi juga sarana efektif untuk menanamkan nilai-nilai budi pekerti yang mudah diterima dan diingat oleh anak-anak.
“Saat ini, kita banyak melihat lunturnya rasa hormat anak terhadap guru di sekolah, atau karakter sopan santun yang mulai memudar. Padahal, hal-hal ini bisa ditanamkan sejak dini melalui lagu anak,” jelas Tika.
Ia juga menyoroti dampak lagu anak dari luar negeri yang tidak semuanya cocok diperdengarkan kepada anak-anak. “Beberapa lagu luar negeri sering kali menggerus karakter dan jati diri bangsa, karena nilai-nilai yang disampaikan tidak selalu sesuai dengan budaya dan konteks lokal,” tambahnya.
Dengan kata lain, keberadaan lagu anak lokal yang edukatif dan relevan tidak hanya penting untuk hiburan, tetapi juga berperan sebagai media pembentukan karakter, identitas budaya, dan nilai-nilai moral bagi generasi muda.
Bagaimana agar lagu anak Indonesia kembali populer?
Tika Bisono menilai bahwa peran pemerintah sangat penting untuk mendorong kembalinya popularitas lagu anak. “Saat ini belum ada aturan yang mengatur bagaimana sekolah bisa berperan dalam menghadirkan lagu-lagu anak ke dalam kurikulum belajar. Pendidikan saat ini lebih banyak berfokus pada pengembangan otak kiri dan pengetahuan akademik. Padahal, sekolah bisa menjadi sarana strategis untuk mendistribusikan lagu-lagu anak dengan tujuan pendidikan,” jelasnya.
Menurut Tika, antusiasme untuk menciptakan lagu-lagu anak sebenarnya masih terus ada, namun tantangannya terletak pada distribusi dan keberlanjutan karya. “Banyak karya yang sudah dibuat hanya berhenti pada kompetisi cipta lagu anak, tanpa didistribusikan dengan baik. Akhirnya, kegiatan ini hanya menjadi seremoni tahunan, tanpa dampak nyata,” ungkapnya.
Sementara sebagau Jurnalis music, Shindu menilai bahwa kesuksesan industri lagu dan film anak di luar negeri tidak lepas dari ekosistem yang mendukung perkembangan industri secara berkelanjutan. “Konten anak di luar negeri bisa menjangkau pasar yang luas karena didukung konsep yang matang dan terpadu, sehingga tidak sekadar merilis lagu sesaat,” kata Shindu.
Sebagai contoh, sebuah lagu anak di luar negeri biasanya tidak hanya hadir sebagai lagu, tetapi juga dilengkapi video klip yang menampilkan karakter-karakter khas, cerita konsisten, dan elemen branding yang mudah diingat.
“Di Indonesia, pendekatan seperti ini masih jarang dilakukan. Seringkali, lagu anak dibuat secara sederhana, misalnya tentang ‘ayo bangun pagi, kita ke sekolah’, tanpa konsep visual atau narasi yang kuat. Padahal, pendekatan terpadu seperti ini penting agar lagu anak dan konten pendukungnya bisa bertahan lama, membangun popularitas, dan berpotensi menembus pasar yang lebih luas,” jelas Shindu.
Editor: Yuniman Farid