1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
KonflikAsia

Landasan PD II Kembali Aktif di Tengah Rivalitas AS-Cina

3 April 2026

AS memperbaiki landasan pacu berusia 80 tahun di pulau Tinian dan Peleliu, seiring meningkatnya rivalitas strategis di Indo-Pasifik.

Sebuah pesawat militer di landasan pacu Tinian beserta 4 orang berseragam militer
Pesawat Angkatan Udara AS di landasan pacu TinianFoto: U.S. Air Force/ZUMA/IMAGO

Landasan pacu yang dibangun di pulau-pulau terpencil di Pasifik untuk menyerang Jepang pada akhir Perang Dunia II kini diam-diam diperbaiki dan dipulihkan. Revitalisasi ini dikerjakan seiring niat Amerika Serikat (AS) memperkuat posisi pertahanannya di tengah meningkatnya tantangan dari Cina di kawasan tersebut.

Kapal-kapal Cina kerap menerobos perairan yang diklaim olehKorea Selatan dan Jepang di Pasifik utara. Di wilayah selatan, Beijing rutin menggelar latihan militer skala besar di sekitar Taiwan, yang mereka sebut suatu hari nanti akan "dipersatukan kembali" dengan Cina daratan.

Cina juga mengeklaim sebagian besar Laut Cina Selatan (LCS) sebagai wilayahnya, meski putusan tribunal internasional pada 2016 menolak klaim tersebut.

"Cina, tentu saja, menjadi kekhawatiran utama di kawasan ini dan itu tampaknya merupakan respons terhadap upaya Cina memperkuat kapasitasnya sendiri," kata Dan Pinkston, seorang profesor hubungan internasional di kampus Seoul Universitas Troy dan mantan perwira Angkatan Udara AS, kepada DW.

"Mereka bertekad untuk menerobos rantai pulau pertama dan kedua guna mendapatkan akses tak terbatas ke Samudra Pasifik dan AS mengembalikan pangkalan udara ini ke status operasional adalah langkah persiapan untuk eskalasi lebih lanjut," kata Pinkston.

Pangkalan udara bersejarah

Rincian mengenai pekerjaan yang sedang berlangsung di pangkalan-pangkalan masa perang di Tinian dan Peleliu masih terbatas.

Para pengamat menilai tujuan utamanya adalah menyediakan alternatif bagi Angkatan Udara AS, selain pangkalan utama seperti Andersen Air Force Base di Guam utara atau Kadena Air Base di Okinawa, Jepang.

Sejak 2023, insinyur AS mulai memperbarui empat landasan pacu sepanjang 2.400 meter di North Field, Pulau Tinian, yang pertama kali dibangun 80 tahun lalu. Dari lokasi ini, pesawat pengebom B-29 Superfortress Enola Gay lepas landas untuk menjatuhkan bom atom pertama di Hiroshima pada 6 Agustus 1945.

Tiga hari kemudian, pesawat B-29 lainnya lepas landas dari pangkalan yang kini menjadi bagian Kepulauan Mariana Utara, untuk menjatuhkan bom kedua di Nagasaki dan memaksa Jepang menyerah.

Pesawat “Enola Gay” di Tinian usai menjatuhkan bom atom di Hiroshima, Agustus 1945Foto: akg-images/picture alliance

Fasilitas yang dulunya terkenal sebagai pangkalan udara tersibuk di dunia ini ditinggalkan pada 1947 dan sebagian besar ditumbuhi hutan hingga 2003, saat satu landasan pacu dibersihkan untuk latihan. Pekerjaan pembersihan pangkalan secara ekstensif dimulai pada 2023.

Para insinyur juga berada di Peleliu, salah satu pulau paling selatan di kepulauan Palau dan lokasi pertempuran sengit selama perang. Landasan pacu sepanjang 1.800 meter selesai dibangun sebelum pertempuran untuk merebut pulau dari Jepang berakhir dan landasan tersebut mendukung operasi Amerika Serikat di kawasan Pasifik hingga akhir perang.

Landasan tersebut berfungsi sebagai bandara lokal bagi penduduk pulau, tetapi hanya dapat digunakan oleh pesawat ringan hingga unit AS tiba pada tahun 2024 untuk membersihkan fasilitas tersebut. Pada Juni 2024, pesawat tanker KC-130 menjadi yang pertama mendarat di landasan yang telah diperbaiki.

AS perkuat kesiapan militer

"Sepuluh tahun lalu, AS sangat sibuk mengevaluasi kembali pangkalan-pangkalan militernya di Timur Tengah," kata Garren Mulloy, seorang profesor hubungan internasional di Universitas Daito Bunka dan pakar militer.

"Mereka telah menyadari betapa rentannya landasan pacu dan infrastruktur terkait terhadap potensi serangan," katanya kepada DW.

"Kita juga tahu bahwa Cina telah meningkatkan aktivitasnya di kawasan Indo-Pasifik pada masa itu, yang menurut saya awalnya mengejutkan Washington karena pemerintahan sebelumnya mengira tidak ada yang berani menantang mereka di sana," katanya.

Fasilitas dasar yang dibutuhkan di pangkalan yang diperbarui mencakup permukaan landasan baru, taxiing areas atau jalur penghubung antarlandasan, serta area parkir pesawat agar tidak tenggelam di tanah berlumpur di pulau yang lembap dan sering dilanda badai tropis.

Akses ke sumber listrik dan air merupakan kebutuhan dasar lainnya, sementara tangki bahan bakar bawah tanah dan tempat perlindungan yang kokoh untuk pesawat terbang, senjata, serta persediaan lainnya juga akan sangat dibutuhkan.

Instalasi untuk sistem radar dan pertahanan juga kemungkinan akan dibangun. Militer AS mengatakan kepada DW pada 2024 bahwa survei sedang dilakukan untuk penempatan sistem pertahanan rudal Patriot.

Radar maupun sistem senjata kemungkinan belum dipasang saat ini, tetapi infrastruktur dasar tengah disiapkan untuk itu, kata Mulloy.

"Ancaman utama bagi AS di kawasan ini adalah Cina, meskipun kita tidak pernah bisa yakin apa yang mungkin dilakukan Korea Utara dan masuk akal untuk memiliki rencana cadangan bagi pasukan Anda," kata Mulloy, sambil menyoroti bahwa Pyongyang mengumumkan pada 2017 sebuah "rencana matang" untuk menggunakan rudal balistik jarak menengah Hwasong-12 yang mampu membawa hulu ledak nuklir untuk menyerang "sekitar" Guam.

Senjata tersebut diketahui memiliki jangkauan 4.500 km, yang membuat Pangkalan Angkatan Udara Andersen masuk dalam jangkauannya.

"Jika konflik besar pecah di kawasan ini, di Semenanjung Korea atau di Selat Taiwan, maka Andersen akan menjadi sasaran yang jelas, sehingga memiliki sejumlah fasilitas alternatif di seluruh kawasan merupakan strategi yang baik," kata Mulloy.

"Selain itu, dalam keadaan darurat di mana AS perlu mengerahkan pasukan dan perlengkapan ke suatu wilayah operasi, lokasi-lokasi ini secara strategis ditempatkan untuk memungkinkan mereka melakukannya dengan cepat dan efektif," pungkasnya.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Fika Ramadhani

Editor: Muhammad Hanafi

Julian Ryall Jurnalis di Tokyo, dengan fokus pada isu-isu politik, ekonomi, dan sosial di Jepang dan Korea.
Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait