1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Laporan Situasi Kebebasan Beragama di Dunia

14 September 2011

Pemerintah AS Selasa (13/09) dalam laporan mengenai kebebasan beragama di dunia menyampaikan, persekusi beragama semakin buruk di Cina dan Afghanistan. Di Asia, yang juga mendapat kritik adalah Vietnam dan Laos.

Uskup Gereja ortodoks Suriah (ki.) dan ketua Tendai Budha Jepang pada Pertemuan Perdamaian di MünchenFoto: DW

Studi mengenai kebebasan beragama yang ditugaskan Kongres Amerika Serikat dilakukan semester kedua tahun 2010. Laporan itu mengkritik Pakistan yang gagal melakukan reformasi undang-undang penistaan agama yang menindas kelompok minoritas beragama dan dalam sejumlah kasus bahkan mengintimidasi warga muslim yang mendorong toleransi beragama. Sementara Myanmar yang dipimpin militer masih menahan ratusan biksu Budha di penjara setelah demonstrasi pro demokrasi tahun 2007.

Persekusi di Cina dan Afghanistan

 

Laporan itu menyebutkan di Cina kegiatan agama di tempat umum atau di tempat ibadah yang tidak terdaftar dilarang, dan sejumlah kelompok agama dan spiritual dianggap ilegal. Anggota Partai Komunis Cina bahkan dihalangi untuk melakukan kegiatan beragama.

Sementara di kawasan barat laut Cina kelompok muslim Uighur dihalangi untuk naik haji dan untuk menggunakan sorban di sejumlah kawasan. Terhadap kelompok beragama Budha di Tibet juga dilaporkan meningkatnya diskriminasi. Mereka tidak bebas menghormati pimpinan tertinggi spiritual Tibet Dalai Lama dan menghadapi pengaruh besar pemerintah dalam menjalankan praktek agamanya.

 

Disebutkan dalam laporan tersebut Mei 2010 di Afghanistan rekaman video tentang pembaptisan umat  Kristen ditayangkan berulang kali oleh televisi Afghanistan dan memicu pernyataan publik yang sangat keras dari dua anggota parlemen. Insiden ini menjadikan kelompok dan warga Kristen sebagai sasaran kebencian.

 

Situasi Kebebasan Beragama di Indonesia dan Asia Tenggara

 

Studi Amerika Serikat mengenai kebebasan beragama itu menyebutkan pemerintah Indonesia, secara umum menghormati kebebasan beragama, namun sejumlah institusi gagal melindungi orang dari diskriminasi agama dan penyerangan. Berdasarkan keterangan dari organisasi non pemerintah terjadi lebih dari 50 serangan terhadap anggota Ahmadiyah selama tahun 2010, dan lebih dari 75 serangan terhadap warga Kristen.

 

Di Vietnam situasi kebebasan beragama tidak seragam. Pemerintah mengijinkan dibangunnya ratusan tempat ibadah baru, tapi pemerintah lokal lamban atau menolak memasukkan sejumlah kelompok minoritas beragama ke dalam daftar. Termasuk diantaranya Budha Hoa hao dan Protestan di utara dan barat laut Vietnam.

 

Sementara di negara tetangganya Laos, beberapa pihak otoritas provinsi mencurigai komunitas non budhis. Menurut laporan itu pejabat lokal menekan kelompok Protestan untuk keluar dari kepercayaannya dengan ancaman dipenjara atau diusir dengan paksa dari desanya. Demikian laporan studi Amerika Serikat mengenai kebebasan beragama.

DK/AP

Editor: Hendra Pasuhuk

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor: Hendra Pasuhuk

 

Studi mengenai kebebasan beragama yang ditugaskan Kongres Amerika Serikat dilakukan semester kedua tahun 2010. Laporan itu mengkritik Pakistan yang gagal melakukan reformasi undang-undang penistaan agama yang menindas kelompok minoritas beragama dan dalam sejumlah kasus bahkan mengintimidasi warga muslim yang mendorong toleransi beragama. Sementara Myanmar yang dipimpin militer masih menahan ratusan biksu Budha di penjara setelah demonstrasi pro demokrasi tahun 2007.

 

 

Persekusi di Cina dan Afghanistan

 

Laporan itu menyebutkan di Cina kegiatan agama di tempat umum atau di tempat ibadah yang tidak terdaftar dilarang, dan sejumlah kelompok agama dan spiritual dianggap ilegal. Anggota Partai Komunis Cina bahkan dihalangi untuk melakukan kegiatan beragama.

Sementara di kawasan barat laut Cina kelompok muslim Uighur dihalangi untuk naik haji dan untuk menggunakan sorban di sejumlah kawasan. Terhadap kelompok beragama Budha di Tibet juga dilaporkan meningkatnya diskriminasi. Mereka tidak bebas menghormati pimpinan tertinggi spiritual Tibet Dalai Lama dan menghadapi pengaruh besar pemerintah dalam menjalankan praktek agamanya.

 

Disebutkan dalam laporan tersebut Mei 2010 di Afghanistan rekaman video tentang pembaptisan umat  Kristen ditayangkan berulang kali oleh televisi Afghanistan dan memicu pernyataan publik yang sangat keras dari dua anggota parlemen. Insiden ini menjadikan kelompok dan warga Kristen sebagai sasaran kebencian.

 

Situasi Kebebasan Beragama di Indonesia dan Asia Tenggara

 

Studi Amerika Serikat mengenai kebebasan beragama itu menyebutkan pemerintah Indonesia, secara umum menghormati kebebasan beragama, namun sejumlah institusi gagal melindungi orang dari diskriminasi agama dan penyerangan. Berdasarkan keterangan dari organisasi non pemerintah terjadi lebih dari 50 serangan terhadap anggota Ahmadiyah selama tahun 2010, dan lebih dari 75 serangan terhadap warga Kristen.

 

Di Vietnam situasi kebebasan beragama tidak seragam. Pemerintah mengijinkan dibangunnya ratusan tempat ibadah baru, tapi pemerintah lokal lamban atau menolak memasukkan sejumlah kelompok minoritas beragama ke dalam daftar. Termasuk diantaranya Budha Hoa hao dan Protestan di utara dan barat laut Vietnam.

 

 

Sementara di negara tetangganya Laos, beberapa pihak otoritas provinsi mencurigai komunitas non budhis. Menurut laporan itu pejabat lokal menekan kelompok Protestan untuk keluar dari kepercayaannya dengan ancaman dipenjara atau diusir dengan paksa dari desanya. Demikian laporan studi Amerika Serikat mengenai kebebasan beragama.