Donald Trump serius mengebiri kebijakan Presiden Barack Obama. Ia antara lain memerintahkan agar Amerika Serikat menarik diri dari perjanjian dagang Kemitraan Trans-Pasifik yang hingga kini belum diaktifkan.
Iklan
Presiden terpilih Amerika Serikat, Donald Trump, mengisyaratkan bakal menarik diri dari perjanjian dagang Kemitraan Trans Pasifik (TPP). Langkah tersebut termasuk dalam enam kebijakan Trump di 100 hari pertama pemerintahannya.
"Agenda saya akan merujuk pada prinsip dasar yang sederhana, yakni memprioritaskan kepentingan Amerika Serikat," ujarnya. "Saya akan menerbitkan perintah pengunduran diri dari Trans Pasific Partnership yang berpotensi menjadi bencana buat negara kita," kata Trump yang akan mulai menjabat 20 Januari mendatang.
"Sebagai gantinya kami akan menegosiasikan perjanjian dagang bilateral yang adil dan membawa balik lapangan kerja serta industri ke Amerika."
TPP ditandatangani Februari silam oleh 12 negara setelah melalui proses negosiasi alot selama 10 tahun. Perjanjian tersebut dibuat untuk mengurangi hambatan dagang dan memperkuat posisi investor. Kesepakatan serupa juga sudah diratifikasi antara AS dan Eropa.
Kemitraan Trans-Pasifik juga menjadi manuver politik pemerintahan Barack Obama untuk merajut poros Asia dan mengisolasi Cina. Saat ini anggota TPP adalah Chile, Australia, Kanada, Brunei, Peru, Selandia Baru, Jepang, Malaysia, Meksiko, Peru, Amerika Serikat dan Vietnam. Sementara Indonesia, Korea Selatan, Filipina dan Thailand telah menyatakan niat untuk bergabung.
Perdana Menteri Jepang menyayangkan sikap Trump terkait kesepakatan dagang tersebut. "TPP tanpa Amerika Serikat tidak bernilai banyak," kata Shinzo Abe. Dalam kunjungannya di Buenos Aires, Argentina, Abe mengatakan ke-12 kepala negara anggota TPP akan bertemu di Lima, Peru, Sabtu (26/11), untuk membahas kelanjutan perjanjian tanpa Amerika Serikat.
7 Komoditi Ekspor Andalan Indonesia
Sejumlah hasil bumi menjadi aset vital buat perekonomian nasional. Berikut komoditi ekspor Indonesia yang menjadi primadona di pasar internasional.
Foto: Tengku Bahar/AFP/Getty Images
Kelapa Sawit
Indonesia saat ini mendominasi pasar minyak sawit di dunia dengan produksi mencapai 31 juta ton per tahun. Terlepas dari rencana moratorium perkebunan sawit yang digagas pemerintahan Joko Widodo, Indonesia sempat berniat menggandakan produksi sawit hingga tahun 2030.
Foto: WWF/J. Morgan
Beras
Dari 744 juta ton beras yang diproduksi dunia, hampir 10% diantaranya berasal dari Indonesia. Jumlahnya mencapai 70,7 juta ton. Namun kapasitas produksi saat ini cuma mampu memenuhi kebutuhan di dalam negeri. Pemerintahan Joko Widodo berjanji akan meningkatkan kapasitas produksi dengan membuka lahan baru dan mengembangkan varian padi yang lebih efektif.
Foto: Saeed Khan/AFP/Getty Images
Batu Bara
Kalimantan yang kaya batu bara banyak mendatangkan hujan devisa buat negara. Setiap tahun Indonesia memproduksi batu bara setara 281 juta ton minyak bumi. Jumlah tersebut mencapai 7,2% dari total produksi dunia. Saat ini India telah menggeser Cina sebagai negara importir batu bara Indonesia terbesar.
Foto: picture-alliance/dpa/O. Berg
Kakao
Produk andalan Sulawesi dan Sumatera ini termasuk primadona komoditi yang dimiliki Indonesia. Saat ini produksi kakao mencapai 712.231 ton yang menempatkan Indonesia sebagai produsen terbesar ketiga dunia.
Foto: Fotolia
Energi Geothermal
Terletak di bibir Cincin Api Pasifik, Indonesia berlimpah energi panas bumi. Menurut Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, potensi geothermal di tanah air mencapai 28.000 MW. Saat ini sebagian besar energi panas bumi diproduksi di PLTP Gunung Salak.
Foto: imago/imagebroker
Biji Kopi
Indonesia adalah produsen biji kopi terbesar ketiga di dunia setelah Brazil dan Vietnam. Tapi soal efektifitas produksi kita banyak tertinggal ketimbang kedua negara tersebut. Saat ini produksi biji kopi Indonesia baru sebatas 800 kilogramm per hektar. Bandingkan dengan Brazil yang mencapai 2000kg/hektar atau Vietnam 1500kg/hektar.
Foto: Fotolia
Karet Alam
Produksi tahunan karet alam di Indonesia yang mencapai 3,2 juta ton tercatat yang terbesar kedua di dunia setelah Thailand. Sebagian besar komoditi karet di Indonesia berasal dari Sumatera dan Kalimantan.