1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
PolitikSuriah

Ledakan Guncang Damaskus Saat Kunjungan Macron di Suriah

Ayu Purwaningsih Reuters AFP; dpa, ap
7 Juli 2026

Ledakan mengguncang ibu kota Suriah, Damaskus, ketika Presiden Prancis Emmanuel Macron bertemu dengan Presiden Ahmad al-Sharaa. Macron menjadi kepala negara Barat pertama yang melawat ke Damaskus.

Ledakan di Danmaskus
Sejumlah bom meledak pada hari Selasa (07/07) di Damaskus, ibu kota Suriah, di dekat sebuah hotel tempat Presiden Prancis Emmanuel Macron dijadwalkan menginap, Foto: Yamam Al Shaar/REUTERS

Macron baru saja memasuki istana kepresidenan untuk bertemu dengan Presiden Suriah Ahmad al-Sharaa, Selasa  (07/07), ketika ledakan terjadi di dekat Hotel Four Seasons. Hingga saat ini, pihak berwenang Suriah belum memberikan pernyataan resmi mengenai insiden tersebut.

Media Suriah melaporkan bahwa Macron menginap di Hotel Four Seasons. Kantor Presiden Prancis menyatakan bahwa Macron dalam kondisi aman dan pertemuannya dengan al-Sharaa tetap berlangsung. Dikutip dari Associated Press, Macron memainkan peran penting dalam mendorong negara-negara Eropa dan Amerika Serikat mencabut sebagian besar sanksi terhadap Suriah.

Media pemerintah Suriah, mengutip seorang pejabat keamanan yang tidak disebutkan namanya, melaporkan bahwa dua ledakan di pusat ibu kota disebabkan oleh alat peledak. Kepulan asap tebal terlihat membumbung dari lokasi kejadian. Area tersebut berada di jalan yang ramai di Damaskus dan berdekatan dengan kantor pusat Kementerian Pariwisata serta Museum Nasional Damaskus.

Rekaman video yang beredar luas di media sosial memperlihatkan sebuah mobil van dan sepeda motor terbakar, sementara noda darah terlihat di jalan. Belum ada laporan resmi mengenai korban jiwa maupun korban luka. Hingga kini, belum ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Insiden ini terjadi hanya beberapa hari setelah sebuah alat peledak diledakkan di sebuah kafe dekat Istana Kehakiman di Damaskus, yang menewaskan sedikitnya 10 orang dan melukai lebih dari 20 lainnya. Ledakan ini menjadi pukulan bagi al-Sharaa, yang berkuasa setelah memimpin pemberontakan yang menggulingkan Bashar al-Assad pada tahun 2024.

Tantangan bagi rezim baru

Kunjungan Macron ini menyoroti transformasi geopolitik Suriah di bawah kepemimpinan Ahmad al-Sharaa, mantan komandan al Qaida yang telah menjalin hubungan dekat dengan kekuatan Barat dan Timur Tengah dan berjanji akan berupaya membangun kembali negara yang hancur akibat perang selama 13 tahun.

Presiden Prancis Emmanuel Macron tiba di Suriah pada hari Senin (06/07). Orang nomor satu di Prancis tersebut menjadi pemimpin besar pertama dari negara Barat yang mengunjungi negara yang dilanda perang itu sejak tergulingnya Bashar al-Assad pada tahun 2024. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy sempat berkunjung pada bulan April, tetapi Macron adalah pemimpin pertama dari Eropa Barat atau Amerika Utara yang melakukan kunjungan tersebut.

Kunjungan Presiden Prancis ini berlangsung di tengah periode relatif tenang di Timur Tengah, setelah perang di Iran dan Lebanon. Setelah itu, Macron akan melanjutkan perjalanan ke Ankara, Turki, untuk menghadiri KTT NATO, di mana Presiden Suriah Ahmad al-Sharaa juga diperkirakan hadir dan bertemu dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Sharaa, seorang anggota mayoritas muslim Sunni Suriah, telah berjanji untuk membangun tatanan baru yang inklusif di Suriah sejak mengakhiri lebih dari lima dekade pemerintahan tangan besi oleh keluarga Assad. Namun, janjinya ini diuji oleh serangkaian kekerasan yang mempertentangkan pasukan propemerintah dengan anggota kelompok minoritas agama dan etnis, dengan ratusan orang tewas tahun lalu.

Presiden Prancis Emmanuel Macron (kedua dari kiri) berbincang dengan Menteri Luar Negeri Suriah Asaad al-Shaibani (tengah-kanan) di samping Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot (kiri) dalam sebuah pertemuan bilateral di Bandara Internasional Damaskus, Damaskus, pada tanggal 6 Juli 2026.Foto: Ludovic Marin/AFP

Membuka peluang bisnis

Kantor berita pemerintah Suriah, SANA, melaporkan bahwa Macron datang bersama delegasi pelaku usaha untuk membahas keamanan kawasan serta peluang bisnis dan investasi.

Presiden Prancis itu kemarin disambut di Bandara Damaskus oleh Menteri Luar Negeri Suriah Asaad al-Shibani. "Saya datang untuk menyampaikan komitmen Prancis kepada rakyat Suriah. Demi Suriah yang berdaulat, bersatu dalam keberagamannya, dan hidup damai dengan negara-negara tetangganya," tulis Macron dalam unggahannya di platform X. "Bersama-sama, mari kita membuka babak baru yang penuh stabilitas dan perdamaian."

Kantor Macron menyatakan bahwa Prancis mendukung semua pihak yang dapat "berkontribusi membangun Suriah yang baru" sesuai dengan aspirasi yang disuarakan sejak Musim Semi Arab atau Arab Spring pada tahun 2011, yakni gelombang demonstrasi besar-besaran di Timur Tengah yang menuntut perubahan politik dan reformasi.

Macron bertemu dengan Ahmad al-Sharaa di istana kepresidenan dan "berinteraksi langsung dengan berbagai kalangan masyarakat Suriah, demikian menurut kantornya. Bertemu dengan al-Sharaa, Macron melanjutkan pembicaraan mengenai kerja sama ekonomi, dan menandatangani sejumlah nota kesepahaman (MoU).

Macron sebelumnya menerima kunjungan al-Sharaa di Paris pada bulan Mei 2025. Dalam pertemuan itu, ia mendesak para pemimpin Eropa dan Amerika Serikat untuk mencabut sanksi yang telah lama diberlakukan terhadap Damaskus. Sejak saat itu, sebagian besar sanksi tersebut telah dicabut.

Merz Menargetkan Pemulangan 80% Pengungsi Suriah di Jerman

02:17

This browser does not support the video element.

Mendukung rezim baru

Paris mendukung kepemimpinan baru Suriah bahkan ketika sejumlah pihak masih meragukan pemerintahan al-Sharaa karena latar belakangnya sebagai mantan pemimpin kelompok militan Hayat Tahrir al-Sham, yang sebelumnya memiliki keterkaitan dengan al-Qaida.

Pemerintah negara-negara Barat secara khusus menaruh perhatian pada perlakuan terhadap perempuan dan kelompok minoritas, serta apakah pemerintahan baru Suriah akan bertransisi menuju sistem yang lebih demokratis.

Suriah sejauh ini berhasil menghindari dampak langsung dari konflik-konflik terbaru di kawasan. Namun, negara tersebut masih mengalami kerusakan parah akibat perang selama 13 tahun yang menghancurkan sebagian besar wilayahnya, di mana situasi itu telah mendorong jutaan orang jatuh ke dalam kemiskinan. Diperkirakan butuh ratusan miliar dolar AS untuk membangun kembali negara terseut.  Meskipun Suriah telah menandatangani sejumlah nota kesepahaman dengan berbagai negara dan perusahaan besar terkait proyek-proyek investasi berskala besar, proyek-proyek tersebut hingga kini belum terealisasi.

Setelah pecahnya kekerasan sektarian yang menargetkan wilayah mayoritas Alawi dan Druze tahun lalu, serta pertempuran memperebutkan kendali atas wilayah yang sebagian dihuni oleh warga Kurdi di dekat perbatasan Turki dan Irak, Macron diperkirakan akan mendesak al-Sharaa untuk menepati janjinya dalam melindungi kelompok-kelompok minoritas di Suriah setelah mengambil alih kekuasaan. Isu pemberantasan kelompok Negara Islam (ISIS) serta keberadaan segelintir jihadis asal Prancis yang masih berada di wilayah Suriah juga diperkirakan akan menjadi topik pembahasan. Suriah di bawah kepemimpinan al-Sharaa bergabung dengan koalisi internasional anti-ISIS pada tahun lalu.

Istana Élysée juga menyatakan pada hari Senin (06/07)  bahwa, seiring berakhirnya perang saudara di Suriah, Macron akan mengembalikan 23 artefak arkeologi yang berasal dari peradaban Mesopotamia, Kanaan, Nabatea, Palmyra, Romawi, Bizantium, dan Umayyah. Artefak-artefak tersebut dipinjamkan kepada Institut Dunia Arab (Arab World Institute) di Paris pada tahun 2010, namun "karena alasan yang sudah jelas, tidak dapat dikembalikan ke Suriah" selama bertahun-tahun.

*Editor: Rizki Nugraha

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait

Topik terkait

Tampilkan liputan lainnya