1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Lenacapavir: Efektif Cegah HIV, Akses Masih Terbatas

24 Juli 2026

Lewat satu suntikan lenacapavir setiap enam bulan, risiko infeksi HIV dapat ditekan. Namun penurunan kasus HIV dalam jangka panjang hanya dapat dicapai jika obat ini menjangkau mereka yang membutuhkan.

Cape Town, Afrika Selatan 2024 | Pencegahan HIV dengan lenacapavir di lokasi Desmond Tutu Health Foundation
“Orang-orang yang paling berisiko tertular HIV perlu mengonsumsi lenacapavir. Namun, sering kali mereka yang paling berisiko justru tidak menyadari bahwa mereka berada dalam kelompok berisiko,” ujar Salim Abddol Karim, spesialis HIVFoto: Nardus Engelbrecht/AP Photo/picture alliance

Bagi seorang perempuan muda yang sehat di Afrika Selatan, risiko terbesar tertular HIV bisa saja datang dari seseorang yang awalnya begitu ia percayai.

Ia tidak mengetahui status HIV pasangannya, ia tidak selalu bisa memaksa pasangannya untuk menggunakan kondom, dan bahkan tidak bisa mengontrol kemungkinan jika pasangannya memiliki pasangan lain.

Perempuan muda itu hanya punya satu pilihan: Menenggak pil harian Profilaksis Pra-Paparan (PrEP) untuk menjaga kadar obat antiretroviral dalam tubuh pada tingkat yang cukup tinggi untuk menghentikan HIV sebelum virus tersebut menyebabkan infeksi.

Namun, PrEP hanya efektif jika dikonsumsi secara kontinu.

Jika sering lupa mengonsumsinya, kadar obat bisa turun terlalu rendah sehingga tidak memberikan perlindungan yang memadai.

Ia bisa saja lupa, merasa terganggu harus minum pil setiap hari, atau bahkan takut pasangan atau kerabatnya menemukan obat tersebut lalu berpikiran negatif. Bisa jadi ia juga merasakan efek samping dari PrEP atau kesulitan mendapatkan pasokan obat baru.

Bagaimana lenacapavir menekan infeksi?

Patuh mengonsumsi obat secara konsisten merupakan tantangan bagi orang-orang yang memiliki hipertensi dan diabetes. Namun rutin menenggak PrEP, lebih sulit.

"Anda meminta orang-orang yang sehat, yang tidak menderita penyakit apa pun, untuk minum satu tablet setiap hari,” kata Salim Abdool Karim, direktur dan salah satu pendiri Centre for the AIDS Programme of Research di Afrika Selatan. "Ini meletakkan standar yang sangat tinggi.”

"Berbagai penelitian, termasuk penelitian kami sendiri, menunjukkan bahwa dari pasien yang mulai mengonsumsi PrEP, sekitar setengah dari pasien berhenti pada bulan ketiga. "Pada akhir tahun, hanya tersisa segelintir orang yang masih mengonsumsi PrEP,” kata Abdool Karim kepada DW.

Lenacapavir secara drastis mengurangi beban harian tersebut. Obat ini diberikan lewat satu suntikan setiap enam bulan.

"Itu jauh lebih mudah daripada harus mengonsumsi tablet setiap hari,” ujarnya. "Bagi mereka yang menerima suntikan setiap enam bulan tanpa terlewat, obat ini bekerja dengan sangat baik karena kepatuhan pengobatan nyaris sempurna.”

Namun, lenacapavir masih terlalu mahal di beberapa wilayah dan aksesnya masih terbatas.

Bagaimana lenacapavir dapat bertahan lama di dalam tubuh?

Sebagian besar obat PrEP yang sudah ada menghambat enzim yang memungkinkan virus bereplikasi dan menyebar. Virus menggunakan enzim tersebut untuk menyalin materi genetiknya sendiri dan menyisipkannya ke dalam DNA sel manusia.

Lenacapavir bekerja dengancara yang berbeda. Ini adalah obat PrEP pertama yang menargetkan kapsid, selubung berbentuk kerucut yang mengelilingi materi genetik virus. Kapsid juga sangat penting bagi proses replikasi virus dan karenanya jadi target yang menjanjikan bagi lenacapvir.

"(Lenacapavir) adalah molekul paling kuat yang kita ketahui untuk melawan HIV,” kata Wesley Sundquist, seorang ahli biokimia dari Universitas Utah dan pakar terkemuka mengenai kapsid HIV, kepada DW.

Lenacapavir menyerang kapsid HIV (yang pada foto berwarna hijau). Kapsid adalah komponen penting bagi virus untuk dapat bereplikasi dan menyebar di dalam tubuh.Foto: Cavallini James/BSIP/picture alliance

Sundquist mengatakan lenacapavir tetap efektif dalam jangka waktu yang lama dan tetap kuat bahkan saat kadar obat dalam tubuh tergolong rendah.

"Obat ini membentuk semacam depot kecil yang larut secara perlahan,” kata Sundquist.

Siapa saja yang akan memperoleh manfaat lenacapavir?

Abdool Karim menyoroti tiga kelompok di mana angka kejadian HIV tetap tinggi dan peningkatan penggunaan PrEP sangat dibutuhkan:

  • Remaja putri dan perempuan muda di beberapa wilayah Afrika
  • Pria gay muda di Barat
  • Komunitas gay yang rentan di Eropa Timur dan Asia Tengah

Di Afrika Selatan, peluncuran program untuk kelompok berisiko dimulai pada Juni 2026, didukung dengan perjanjian yang diteken pada Juli 2025 antara pengembang obat tersebut, Gilead, dan organisasi pendanaan publik-swasta: Global Fund. 

Gilead setuju untuk memasok lenacapavir tanpa mengambil keuntungan kepada hingga 2 juta orang selama tiga tahun.

Sebelumnya, pada Oktober 2024, Gilead juga setuju untuk mengizinkan produksi versi generik yang lebih murah dari obat tersebut di 120 negara dengan anggaran kesehatan yang terbatas namun  tingkat infeksi HIV tinggi.

Belum semua negara punya akses ke lenacapavir

Negara-negara Amerika Latin tidak masuk dalam kesepakatan lenacapavir.

Melissa Scharwey dari Doctors Without Borders (MSF) mengatakan bahwa beberapa negara Amerika Latin, termasuk Brasil, Meksiko, Peru, dan Argentina, telah dikecualikan dari peluncuran lenacapavir baru-baru ini, meskipun mereka telah berpartisipasi dalam uji klinisnya.

Bahkan di negara-negara yang memenuhi syarat, kelompok rentan mungkin masih terlewatkan, kata Scharwey kepada DW. 

"Jumlahnya masih jauh dari cukup,” kata Scharwey, seraya mendesak Gilead untuk meningkatkan pasokan dan menjualnya langsung kepada MSF dengan harga terjangkau sekitar $40 (Rp718 ribu) per suntikan.

Pertanyaan krusial dalam menekan angka HIV, menurut ahli epidemiologi Universitas Washington Monisha Sharma, adalah apakah obat tersebut menjangkau orang-orang dan wilayah di mana HIV menyebar dengan sangat cepat.

"Dalam pemodelan kami di Afrika Selatan, Zimbabwe, dan Kenya Barat, pemberian lenacapavir kepada sekitar 2-4% populasi dewasa, dengan penargetan pada kelompok berisiko tertinggi, berhasil mencegah sekitar 12-18% infeksi baru selama sepuluh tahun,” kata Sharma kepada DW.

Lenacapavir "tidak mungkin mengeliminasi HIV sendirian"

"Lenacapavir dapat secara substansial mempercepat proses untuk menekan angka kejadian, tetapi tidak mungkin mengeliminasi penularan HIV sendirian,” kata Sharma.

"Dampak ini sangat bergantung pada harga obat lenacapavir yang terjangkau, saluran distribusi yang efisien, dan cakupan penggunaan yang ditargetkan pada orang-orang dengan risiko HIV tertinggi,” tambahnya. 

Prajurit TNI, AIDS, dan Stigma: Keberanian Menjadi Diri Sendiri 

02:09

This browser does not support the video element.

Syarat terakhir itulah yang menjadi kekhawatiran terbesar Abdool Karim. Lenacapavir dapat mencegah HIV lebih mudah bagi penerimanya. Namun, obat ini tidak dapat mengatasi kesulitan pelik yang dihadapi para spesialis HIV: mengidentifikasi dan menjangkau mereka yang paling berisiko.

"Masalahnya adalah mereka yang berisiko paling tinggi perlu mengonsumsi obat tersebut dan seringkali mereka yang berisiko paling tinggi tidak menyadari bahwa mereka berisiko. Itulah mengapa mereka berisiko,” kata Abdool Karim.

"Jika kita tidak dapat menjangkau mereka yang berisiko paling tinggi, maka kita tidak akan mampu mengurangi epidemi ini sebagaimana yang kita harapkan,” tegasnya.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Sorta Caroline

Editor: Rizki Nugraha

Tanda Seseorang Mengidap HIV

01:06

This browser does not support the video element.

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait