1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Lessan dan petani jamu di Jawa Tengah

Koesoemawiria, Edith26 Mei 2008

Harga obat kimiawi dari apotik tak selalu terjangkau. Kini dengan semakin mahalnya harga, mungkinkah masyarakat akan berpaling kembali ke obat tradisional? Seperti jamu misalnya?

BdT Indonesien Vulkan Merapi
Petani panen dibayangi ancaman Gunung MerapiFoto: AP

Sejak 15 tahun, sebuah LSM di Yogyakarta berusaha mendorong gerakan kembali ke jamu. Pekan lalu Heny Yudea, salah seorang pendiri LSM itu yang termasuk diantara 1000 Perempuan Perdamaian Dunia, hadir di Kongres Planet Diversity di Bonn. Ia menceritakan pentingnya memelihara kearifan lokal dan menjaga akses masyarakat terhadap tanaman dan tumbuhan lokal.

Film yang disediakan Heny Yudea untuk peserta Kongres Planet Diversity diawali dengan adegan masyarakat di kawasan Gunung Merapi yang menghadapi ancaman gunung meletus. Terlihat perempuan, lelaki dan anak-anak, juga orang-orang tua berlarian simpang siur diiringi bunyi kentongan. Ada perempuan yang berlari sambil menggendong bayi, ada yang juga berkain sarung, berkebaya dan bercelana jeans. Ada yang bertopi pet dan sepatu olah raga, dan banyak juga yang bersendal jepit dan bertopi caping. Semua mencari tempat yang aman, tempat berlindung.

Alam memang bisa mengancam, tetapi juga alam bisa memberi berkah. Begitu keterangan dalam bahasa Inggris di bagian bawah film yang terbaca peserta Planet Diversity. Sementara bagi yang mengerti bahasa Indonesia, dalam film “Belajar ke Alam Raya” ini Lessan menawarkan konsep, seperti yang terdengar di pengantar film: “Sehat itu bukan hanya persoalan tubuh, bukan hanya persoalan individu, tetapi sehat itu juga bisa menyangkut persoalan sosial, ekonomi, politik dan sebagainya.”

Seperti kita ketahui, meski gumpalan asap dan debu berhamburan keluar dari kawah, gunung Merapi tidak jadi meletus. Itu juga alasanya Lembaga Studi Kesehatan atau Lessan bisa dengan cepat melanjutkan kerjasamanya dengan para petani di kawasan gunung Merapi, serta di wilayah gunung Kidul dan Yogyakarta.

Menurut Heny Yudea, jamu merupakan alternatif yang bagus karena sifatnya konstruktif dan mengurangi efek samping. Ia menuturkan, "kalau obat kimia itu lebih bersifat destruktif, artinya menyembuhkan satu bagian, tapi membuat bagian lainnya sakit, ada efek samping dan bekerjanya cepat. Kalau jamu itu konstruktif, bekerjanya lambat, tetapi efek sampingnya bisa diminimalisir."

Lebih lanjut Heny menjelaskan: “kalau buat petani dosisnya kelebihan, takarannya kan hanya memakai satu genggam atau satu jari… tapi kan jari orang bisa beda-beda. Seandainya kelebihan ya paling2 mereka hanya diarrhea sedikit. Dan itu tidak membawa kematian. Tapi kalau dengan obat, efeknya bisa lebih fatal daripada efek samping jamu.”

Lessan mengembangkan pertanian tumbuhan bahan jamu dengan hampir 450 orang petani, yang mayoritasnya perempuan. Kelompok-kelompok petani itu melakukan pekerjaan yang berbeda-beda. Ada yang hanya menanam dan memanen rempah-rempah itu, ada yang mengumpulkan tumbuhan berkhasiat di alam sekitarnya, ada yang mencuci dan membersihkannya. Ada juga kelompok yang mengiris-ngiris dan mengeringkannya, seperti juga yang menyiapkan cap dan memasukannya kedalam paket plastik-plastik sebelum dijual.

Pekerjaan yang membutuhkan banyak waktu dan ketelatenan itu biasanya dilakukan dengan lebih baik oleh petani perempuan. Apalagi biasanya sebelum masa panen, para petani lelaki biasanya ke kota besar untuk mencari penghasilan tambahan. Yang tinggal di desa kebanyakan petani perempuan. Bila mereka sehat serta mampu berladang atau mengerjakan kebun lain, maka kadang penghasilan mereka mencapai 150 ribu rupiah sebulan.

Menambah penghasilan itu dengan bertani tumbuhan jamu sangat menolong. Apalagi jamunya bisa menyembuhkan mereka ketika sakit dan tak bisa bekerja. Sebuah kondisi yang amat buruk bagi para petani perempuan itu. Menurut Heny, “seandainya mau, mereka bisa meramu sendiri, gratis. Hanya untuk orang yang hidup di kota agak susah, karena tanamannya sudah semakin tidak ada digantikan dengan hutan beto, jadi mereka sulit sekali menemukan itu. Misalnya mereka harus mencarinya ke desa ya mereka hanya butuh transportasi. Tanamannya sampai sekarang masih gratis kan”

Heny Yudea menyayangkan kurangnya dukungan pemerintah untuk mengembangkan jamu sebagai alternatif bagi rakyat yang disebutnya semakin miskin. Dalam film disebutkan: "Negara malah justru menjadi perpanjangan tangan para pengusaha yang mengembangkan obat, maupun mengembangkan alat-alat kedokteran yang tentunya menuntut harga yang cukup mahal."

Meski begitu, bagi Heny dan teman-temannya di Lessan upaya mengembalikan kepercayaan masyarakat petani kepada obat-obatan tradisional, juga merupakan jalan yang panjang. Awalnya para petani menyangka bahwa mereka itu dukun tiban, yaitu dukun palsu yang mengaku mendadak menerima wahyu untuk mengobati.

Tapi setelah beberapa lama melihat anggota Lessan menginvetarisasi berbagai tumbuhan dan resep jamu dan memberikan pelatihan. Kemudian menerbitkan buku yang dibagikan gratis kepada para petani dan siapa saja yang membutuhkannya, maka terbangunlah pertukaran informasi yang luwes dan kaya antara Lessan dan para petani, maupun dengan sejumlah institusi penelitian medis di kota-kota lain.

Terkait Kongres Planet Diversity, menurut Heny apabila data genetika berbagai tumbuhan dihak paten oleh industri pangan maupun industri farmasi, maka para petani akan menghadapi masalah besar. Heny Yudea mewanti-wanti: “belajar dari India, dari Filipina ya, beberapa tanaman dipatenkan oleh perusahaan di Amerika dan dari Jepang, ada pare, ada pegagan, terus kunyit, kenanga…” Ia menunjuk ke berbagai negara lain di mana petaninya harus membayar royalti kepada pemilik paten, bila menggunakan benih-benih atau tanaman yang sebenarnya berada di alam terbuka untuk semua seorang.(ek)