Bincang Novel Sejarah Indonesia Bersama Penulis Akmal Basral
A. Kurniawan Ulung
18 Agustus 2021
Tokoh yang memikirkan bangsa tidak hanya soal mengembangkan ekonomi, tetapi juga menegakkan keadilan, memberantas kesewenangan, korupsi, dan penyakit sosial lain, kata Akmal Nasery Basral.
Foto arsip pengibaran Bendera Merah Putih pada 17 Agustus 1945Foto: public domain
Iklan
Di tengah perayaan HUT Kemerdekaan Ke-76 Republik Indonesia, penulis Akmal Nasery Basral, 53, berharap agar bangsa ini lebih menghargai para pahlawan, termasuk Mr. Assaat dan Sjafruddin Prawiranegara, yang keduanya sempat menjadi presiden sementara pada saat Indonesia mengalami kekosongan kekuasaan.
Ketika Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta diasingkan di Pulau Bangka pada 1948, Sjafruddin Prawiranegara menggantikan peran mereka dalam menjaga eksistensi dan kedaulatan negeri ini. Namun dalam perjalanannya, Prawiranegara justru pernah dicap sebagai pemberontak pada masa Orde Lama, dan hak-hak perdatanya dicabut saat Orde Baru.
Perjuangan Prawiranegara ditulis oleh Akmal di dalam novel sejarah yang berjudul Presiden Prawiranegara. Akrab disapa Uda Akmal, mantan wartawan Majalah Tempo ini termasuk salah satu penulis yang berjuang memulihkan nama baik Prawiranegara hingga negara akhirnya mengakui gubernur pertama Bank Indonesia ini sebagai pahlawan nasional pada tahun 2012.
Dalam wawancara dengan DW Indonesia, Uda Akmal yang tahun ini menerima Penghargaan National Writer's Award 2021 dari Perkumpulan Penulis Satupena bercerita banyak hal, mulai dari motivasinya menulis novel sejarah, kekagumannya pada sosok Sjafruddin Prawiranegara, hingga keinginannya untuk menulis novel sejarah tentang tokoh perempuan Indonesia untuk pertama kalinya.
DW Indonesia: Mengapa Uda Akmal begitu suka menulis novel tentang tokoh-tokoh sosial dan politik?
Akmal Nasery Basral: Ketika dulu kuliah di FISIP Universitas Indonesia, saya terbiasa membaca referensi-referensi sosial dan politik Indonesia. Jurusan saya sosiologi, tetapi saya juga belajar ilmu politik. Ketika menjadi jurnalis dan bekerja di dua majalah berita, yakni Tempo dan Gatra, saya menulis banyak hal, mulai dari isu sosial, isu politik, hingga hal-hal remeh-temeh, tetapi politik tetap menjadi fokus terbesarnya. Karena lingkungan pendidikan dan kerja saya seperti itu, novel-novel saya juga bercirikan itu.
Akmal Nasery BasralFoto: Privat
Menurut Uda Akmal, apa saja kriteria tokoh yang ceritanya menarik untuk dijadikan novel sejarah?
Kriterianya ialah rekam jejaknya. Tokoh tersebut sudah mendedikasikan sebagian besar waktunya untuk memikirkan bangsa dan membangun negerinya. Entah dia seorang arsitek seperti Soekarno, ekonom seperti Moh. Hatta, dokter seperti Tjipto Mangoenkoesoemo atau profesi-profesi lainnya.
Memikirkan bangsanya ini tidak hanya berarti mengembangkan perekonomian semata, tetapi juga menegakkan keadilan dan memberantas kesewenang-wenangan, korupsi, dan penyakit-penyakit sosial lain.
Ketika seorang tokoh memenuhi kriteria tersebut, kisah hidupnya layak ditulis karena bisa memotivasi dan menginspirasi pembaca, terutama pembaca-pembaca muda yang tidak kenal langsung dengan sosok tersebut.
Apakah mungkin penulis bisa menghindari bias personal ketika menulis novel sejarah?
Bias personal tidak bisa dihindari 100 persen. Semua penulis pasti akan memasukkan opini personalnya, banyak atau sedikit.
Buat penulis, godaannya ialah: sejauh mana ia bisa mengontrol agar pandangan subjektifnya tidak mendominasi ceritanya. Saya pribadi berusaha mengontrol agar pandangan subjektif saya sesedikit mungkin ada di dalam karya-karya saya.
Seberapa jauh unsur fiksi bisa dimasukkan ke dalam novel sejarah?
Novel sejarah terdiri dari dua kata, yakni historical dan novel. Kata historical mensyaratkan bahwa nama tokoh, kejadian, dan tempat dan tanggal peristiwa harus ditulis dengan benar. Jadi, aspek sejarah dalam novel sejarah itu tetap harus akurat. Akan tetapi, kata novel memberi ruang kepada penulis untuk memberi dramatisasi sepanjang tidak menyimpang dari peristiwa sejarahnya. Jika tidak ada dramatisasi, itu karya dokumenter.
Apakah Uda Akmal mengonsultasikan unsur-unsur fiksi ke anggota keluarga dari tokoh yang kisah hidupnya akan ditulis untuk mendapatkan persetujuan mereka?
Pada saat akan menulis novel Presiden Prawiranegara, misalnya, saya bertemu terlebih dahulu dengan anak-anak Prawiranegara dan mereka memberi izin. Mereka tidak campur tangan dan tidak bilang mana yang boleh dan mana yang tidak boleh, karena mereka sudah tahu niat saya bahwa saya ingin menceritakan ulang kisah ayah mereka yang dizalimi oleh Orde Lama dan Orde Baru.
Di buku Presiden Prawiranegara, Akmal Nasery Basral menggambarkan istri sang tokoh berjualan sukun goreng untuk bertahan hidup bersama anak-anaknya. Kala itu Prawiranegara bertugas di Bukittinggi dan tidak pulang selama 207 hari.Foto: Privat
Pernah diprotes oleh anggota keluarga dari tokoh yang ceritanya jadikan novel?
Karena saya sudah kulo nuwun ke anggota keluarganya, Alhamdulillah tidak ada satu pun protes, baik dari anak maupun cucu mereka. Saya sebelumnya mewawancara mereka, melakukan riset, dan terus menjalin komunikasi yang baik dengan mereka.
Dari sekian banyak tokoh di Indonesia, apa yang membuat Uda Akmal mengagumi Prawiranegara dan menuliskan ceritanya dalam novel?
Semasa hidupnya, Sjafruddin Prawiranegara pernah menjadi menteri kemakmuran, menteri keuangan, gubernur Bank Indonesia, hingga wakil perdana menteri. Akan tetapi, ia diperlakukan secara tidak adil dan zalim oleh Orde Lama dan Orde Baru. Pada masa Orde Lama, ia dianggap pemberontak karena keterlibatannya dalam PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia), dan pada masa Orde Baru, hak sipilnya dimatikan karena menandatangani Petisi 50.
Selain itu, negara juga melupakan perannya pada waktu PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia). Pada saat ibu kota di Yogyakarta dibom oleh tentara sekutu dan tokoh nasional seperti Soekarno, Hatta, dan Sutan Sjahrir, ditangkap dan kemudian diasingkan ke Bangka, pemerintahan seketika lumpuh. Pada saat itu, negara ini bisa dikatakan tidak lagi eksis karena syarat sebuah negara ialah ada wilayah, penduduk, dan pemerintahan.
Sebelum ditangkap, Soekarno dan Hatta mengirimkan radiogram bahwa pemerintahan dilanjutkan oleh Prawiranegara yang pada saat itu berusia 37 tahun.
Lalu, Prawiranegara memproklamasikan PDRI di Sumatra Barat. Ia berpindah-pindah tempat, dan dari dalam hutan, bersama anggota TNI AU yang memegang radio, ia mengabarkan ke dunia internasional bahwa Indonesia masih ada.
Bagaimana mungkin, dengan jasa seperti itu, orang seperti Prawiranegara dianggap sebagai pengkhianat oleh Orde Lama dan hak perdatanya diberangus oleh Orde Baru? Di mana logikanya? Novel ini merupakan sebuah ikhtiar untuk mengembalikan martabat Sjafruddin Prawiranegara agar negara memperlakukannya secara patut dan proporsional.
Perang Diplomasi demi Kemerdekaan Indonesia
Tanpa diplomasi Sjahrir dan tekanan internasional, Belanda masih akan bercokol di Indonesia, kendati proklamasi 45. Inilah empat tahun bersejarah yang dipenuhi intrik politik, pengkhianatan dan agresi milliter Belanda
Foto: picture-alliance/ANP
Kapitulasi Jepang, September 1945
12 Agustus 45, tiga hari setelah bom atom menghancurkan Nagasaki, Panglima Militer Jepang, Jendral Terauchi Hisaichi mengundang Soekarno dan Radjiman Wedyodiningrat ke Da Lat, Vietnam. Kepada keduanya Hisaichi mengindikasikan Jepang akan menyerah kepada sekutu dan membiarkan proklamasi kemerdekaan RI. Baru pada 2 September Jepang secara resmi menyatakan kapitulasi di atas kapal USS Missouri.
Foto: picture-alliance/dpa/United States Library Of Congres
Proklamasi, Agustus 1945
Setibanya di Jakarta, Soekarno diculik oleh pemuda PETA ke Rengasdengklok. Di sana ia dipaksa mengumumkan kemerdekaan tanpa Jepang. Malam harinya Soekarno menyambangi Mayjen Nishimura Otoshi. Kendati tidak mendukung, Nishimura menawarkan rumahnya untuk dipakai merumuskan naskah proklamasi. Keesokan hari Soekarno dan Hatta mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia di Jl. Pegangsaan Timur No. 56
Foto: picture alliance/CPA Media
Kabinet Sjahrir I, November 1945
Soekarno dan Hatta diangkat sebagai presiden dan wakil presiden Indonesia. Keduanya memerintahkan Sutan Sjahrir, diplomat ulung yang kemudian menjadi perdana menteri pertama, buat mencari pengakuan internasional. Tugas Sjahrir adalah mempersiapkan Indonesia menghadapi pertemuan Linggarjati. Pidatonya yang legendaris di sidang umum PBB 1947 hingga kini masih tercatat sebagai momen paling menentukan
Foto: picture alliance/United Archives/WHA
Perundingan Linggarjati, November 1946
Dalam pertemuan yang dimediasi Inggris, Belanda mengakui kedaulatan Indonesia di Jawa, Madura dan Sumatera. Tapi Belanda nyaris bangkrut dan berniat mengamankan akses ke sumber daya alam Indonesia. Sjahrir yang ingin menghindari perang sempat menyetujui pemerintahan transisi di bawah kepemimpinan Belanda. Idenya ditolak Sukarno, dan Sjahrir harus mundur sebulan setelah penadatanganan perjanjian.
Foto: Public Domain
Agresi Militer I, Juli 1947
Akibatnya Belanda menyerbu Sumatera dan Jawa demi merebut sumber daya alam dan lahan pertanian. Apa yang oleh Indonesia disebut sebagai Agresi Militer, dinamakan Belanda "misi kepolisian" untuk menghindari campur tangan internasional. Parlemen Belanda awalnya menginginkan perluasan agresi buat merebut ibukota Yogyakarta, tapi ancaman sanksi PBB membuat Den Haag menarik pasukannya dari Indonesia.
Foto: picture alliance/Everett Collection
Perjanjian Renville, Desember 1947
Di atas kapal USS Renville, Indonesia berhasil memaksakan gencatan senjata, tapi kehilangan sebagian wilayahnya. Belanda cuma mengakui kedaulatan RI di Jawa tengah, Yogyakarta, dan Sumatera, serta meminta TNI menarik pasukannya dari wilayah pendudukan. Belanda kala itu sedang menunggu pemilu legislatif. Pemerintahan yang baru kemudian mengambil kebijakan yang lebih keras terhadap Indonesia.
Foto: Publilc Domain
Agresi Militer II, Desember 1948
Belanda memanfaatkan masa liburan natal PBB buat menggelar Agresi Militer II. 80.000 pasukan diterjunkan. Soekarno, Hatta dan Sjahrir ditangkap. Akibatnya Sjafruddin Prawiranegara diperintahkan membentuk pemerintahan darurat. Uniknya operasi militer di Indonesia didukung 60% penduduk Belanda. Sembilan hari setelah dimulainya agresi, PBB menelurkan dua resolusi yang menentang serangan Belanda
Foto: Getty Images/Keystone
Konferensi Meja Bundar, Agustus 1949
Setelah menjalin kesepakatan dalam perjanjian Roem Roijen, Indonesia dan Belanda sepakat bertemu di Den Haag atas desakan internasional. Belanda bersedia menarik mundur pasukan dan mengakui kedaulatan RI di semua kepulauan, kecuali Papua barat. Sebagai gantinya Indonesia harus membayar sebagian utang pemerintahan kolonial, termasuk yang dipakai untuk agresi militer selama perang kemerdekaan.
Foto: Getty Images/Keystone
Penyerahan Kedaulatan, Desember 1949
Ratu Juliana menandatangani akta penyerahan kedaulatan kepada RI di Amsterdam pada 27. Dezember 1949. Setelah kemerdekaan, Indonesia tenggelam dalam revolusi buat mengamankan kesatuan republik. Sementara Belanda menghadapi tekanan internasional. Sikap Den Haag soal Indonesia dan Papua bahkan nyaris membatalkan keanggotaan Belanda di NATO, yang kala itu mendukung kemerdekaan Indonesia.
Foto: picture-alliance/ANP
9 foto1 | 9
Mengapa Uda Akmal menyebut Prawiranegara sebagai presiden?
Secara de jure, apakah Sjafruddin Prawiranegara layak disebut presiden merupakan bahasan pakar tata negara. Saya bukan ahli tata negara sehingga tidak berhak berpendapat. Akan tetapi, secara de facto, pada tahun 1948 dan 1949, bagi saya, Pak Sjafruddin itu memang presiden. Karena pada saat itu, seluruh menteri yang tidak ditangkap Belanda, termasuk Panglima Jendral Besar Sudirman, melapor ke beliau.
Kembali ke soal menulis novel, apa tantangan yang Uda Akmal hadapi dalam menulis novel sejarah?
Tantangannya ialah memastikan fakta sejarah tetap akurat. Dalam fakta sejarah, ada tiga elemen yang harus benar, yakni tokoh utama, tempat dan waktu kejadian, dan plot cerita. Pada saat akan menulis novel Presiden Prawiranegara, misalnya, saya mewawancarai beberapa anak dari Prawiranegara untuk mendapatkan fakta-fakta sejarah. Misalnya, pada saat ayah mereka bertugas di Bukittinggi dan tidak pernah pulang selama 207 hari, ibu mereka berjualan sukun goreng untuk bertahan hidup. Kisah ini tidak ada di dalam buku sejarah mana pun, tapi ada di dalam novel saya.
Dari semua karya Uda Akmal, novel apa yang paling sulit ditulis?
Yang paling sulit itu novel yang saya tulis tahun 2020. Judulnya Disorder. Novel fiksi ilmiah ini bercerita tentang pandemi, tetapi mengandung unsur sejarah karena saya mengaitkannya dengan Deklarasi Balfour pada tahun 1917.
Karena saya bukan dokter, saya jungkir balik ketika melakukan riset. Saya lulusan FISIP, tapi harus menulis cerita tentang virus, dunia biologi molekuler, dan virologi. Saya ditantang oleh Salman Faridi, CEO Bentang Pustaka, untuk menyelesaikan novel ini dalam waktu empat bulan. Setelah selesai, saya bed rest. Karena kelamaan duduk, saya mengalami peradangan sendi yang serius di lutut. Saya menulis setiap hari dari jam 9 pagi sampai 12 malam selama tiga bulan nonstop.
Republik di Ujung Bedil Kolonialisme
Negara ini lahir dari perjuangan dan pengorbanan. Menjelang akhir perang pun Indonesia bahkan masih menghadapi serbuan sekutu. Simak perjalanan panjang nusantara hingga merengkuh kedaulatannya.
Foto: public domain
Dari Portugis ke VOC
Awal abad ke 16 Portugis memasuki nusantara, berdagang dan mencoba menguasainya. Rakyat di beberapa wilayah melakukan perlawanan. Awal abad ke-17 giliran perusahaan Belanda, VOC yang mencari peruntungan di nusantara. Nusantarapun jatuh ke tangan Belanda, sempat direbutkan Perancis dan Inggris, lalu kembali dalam genggaman negeri kincir angin itu.
Foto: public domain
Pecah belah dan jajahlah
Untuk menguasai nusantara, Belanda memanfaatkan persaingan di antara kerajaan-kerajaan kecil. Berbagai pertempuran terjadi di bumi nusantara. Di Jawa, Perang Diponegoro (1825-1830) menjadi salah satu pertempuran terbesar yang pernah dialami Belanda selama pendudukannya di bumi Nusantara. Jendral de Kock memanfaatkan suku-suku lain berusaha menaklukan Jawa di bawah pimpinan Pangeran Diponegoro.
Foto: public domain
Pengorbanan darah dan nyawa
Wilayah-wilayah di luar Jawa pun tak ketinggalan mengalami berbagai pertempuran sengit. Salah satunya pertempuran di Bali tahun 1846 yang tergambar dalam lukisan ini, dimana Belanda mengerahkan batalyonnya dalam upaya menaklukan pulau Dewata tersebut.
Foto: public domain
Bersatu melawan penjajahan
Perhimpoenan Peladjar-Peladjar Indonesia didirikan September 1926 oleh para mahasiswa. Organisasi ini bermaksud untuk menyatukan organisasi –organisasi pemuda yang tadinya terpecah-pecah dan dari berbagai perguruan tinggi seperti Stovia dan THS dan RHS. Perhimbunan besar ini memiliki pemikiran bahwa persatuan Indonesia merupakan senjata paling ampuh dalam melawan penjajahan.
Foto: public domain
Dijajah saudara tua
Dalam perang dunia ke-2, Jepang memerangi Tiongkok dan mulai menaklukan Asia Tenggara, termasuk Indonesia tahun 1941. Peperangan juga terjadi di berbagai belahan dunia. Ketika Jepang kalah dalam PD II, tokoh nasional merencanakan kemerdekaan Indonesia.
Foto: Imago
Teks bersejarah bagi bangsa Indonesia
Teks Proklamasi dipersiapkan. Dirumuskan oleh Tadashi Maeda, Mohammad Hatta, Soekarno, dan Achmad Soebardjo, dll. Teks tersebut digubah oleh Mohammad Hatta dan RM. Achmad Soebardjo Djodjodisoerjo dan ditulis tangan oleh Soekarno. Teks Proklamasi yang telah mengalami perubahan, yang dikenal dengan sebutan naskah "Proklamasi Otentik", diketik Sayuti Melik.
Foto: public domain
Proklamasi di Pegangsaan
Dengan didampingi Drs. Mohammad Hatta, Ir. Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945. Pembacaan naskah proklamasi dilakukan di Jalan Pegangsaan Timur no 56. Jakarta, pada pukul 10.00 pagi.
Foto: public domain
Sang Saka Merah Putih berkibar
Sesaat setelah teks proklamasi diumumkan, bendera Sang Saka Merah Putih pun di kibarkan di halaman Pegangsaan Timur 56. Bendera bersejarah ini dijahit oleh istri Bung Karno, Fatmawati Soekarno. Kini tiap tanggal 17 Agustus, bendera Merah Putih berkibar dan menjadi bagian dari peringatan detik-detik kemerdekaanj Indonesia.
Foto: public domain
Dari Sabang sampai Merauke
Perang terus berkobar. 10 November 1945 di Surabaya, rakyat melawan sekutu. Di penghujung tahun yang sama, sekutu menyerbu Medan. Hampir semua wilayah Sumatera, berperang melawan Jepang, sekutu dan Belanda. Mulai dari Sulawesi, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara, hingga Papua, para pejuang mengorbankan nyawa demi mempertahankan kemerdekaan yang telah diproklamirkan.
Foto: picture alliance/Everett Collection
Perjanjian Renville
Peperangan terus berkobar di berbagai wilayah di tanah air. berbagai diplomasi digelar. Perjanjian Renville disepakati Januari 1948, di atas kapal Amerika, USS Renville yang berlabuh di Tanjung Priok. Indonesia diwakili PM. Amir Syarifuddin. Saat itu, dissetujui garis demarkasi yang memisahkan wilayah Indonesia dengan wilayah pendudukan Belanda.
Foto: en.wikipedia.org/Indonesia/Public Domain
Penyerahan kedaulatan
Tak semua mematuhi perjanjian Renville. Perlawanan terhadap Belanda terus berlanjut. Politik Indonesia terus bergejolak. usaha Belanda meredam kemerdekaan Indonesia dikecam masyarakat internasional. Akhirnya penyerahan kedaulatan Indonesia dtandatangani di Belanda, tanggal 27 Desember 1949. Tampak pada gambar, Ratu Belanda, Juliana tengah menandatangani dokumen tersebut.
Foto: public domain
Peta Hindia Belanda dan sekitarnya
Peta Pinkerton untuk Hindia Timur: Mencakup dari Burma selatan ke Jawa, dari Andaman ke Filipina & New Guinea. Peta ini mencatat kota-kota, rawa-rawa, pegunungan, dan sistem sungai. Digambar oleh L. Herbert dan digravir oleh Samuel Neele di bawah arahan John Pinkerton. Sumber gambar: Pinkerton’s Modern Atlas, yang diterbitkan oleh Thomas Dobson & Co di Philadelphia pada tahun 1818.
Foto: public domain
Mencari makna kemerdekaan
Kini lebih dari 70 tahun merdeka, Indonesia memasuki tantangan baru: Memerdekaan diri dari berbagai belenggu penjajahan atas hak asasi manusia,pola pikir dan berekspresi serta memperjuangkan demokrasi.
Foto: picture-alliance/dpa/D. Husni
13 foto1 | 13
Siapa tokoh yang Uda Akmal ingin ceritakan di masa mendatang?
Selama ini saya menulis novel sejarah tentang bapak-bapak bangsa. Saya belum pernah menulis novel tentang ibu-ibu bangsa. Jika punya stamina dan kesempatan lagi, saya ingin menulis novel sejarah tentang tokoh-tokoh perempuan Indonesia yang inspiratif. Tetapi saya belum bisa sebut namanya sekarang.
Pada awal Agustus ini, saya membuat sebuah buku yang judulnya Taman Iman Taman Peradaban. Ini bukan novel, tetapi kumpulan puisi esai tantang 10 tokoh agama di Indonesia, termasuk dua tokoh perempuan, yakni Gedong Bagus Oka, pandita yang mengembangkan ajaran Mahatma Gandhi di Indonesia, dan Syekhah Rahmah El Yunusiyah, pendiri Sekolah Diniyah di Padang Panjang pada masa sebelum kemerdekaan. Syekhah Rahmah sangat luar biasa karena model sekolahnya itu telah diadopsi oleh Universitas Al-Azhar Mesir, dan tidak banyak orang di luar Tanah Minang yang tahu hal ini.
Ada banyak tokoh perempuan yang kontribusinya untuk negeri ini tidak main-main. Ini bagian dari upaya kita dalam mengedukasi publik, terutama generasi muda, bahwa kesempatan berbakti kepada negara bukan hanya dominasi laki-laki. Perempuan juga sama pentingnya, dan mungkin akan lebih penting di masa depan. (ae)
Wawancara untuk DW Indonesia oleh A. Kurniawan Ulung dan telah diedit sesuai konteks.