Lewat Teater Dorong Perdamaian di Sudan
10 Agustus 2007
Parahnya pertempuran di kawasan itu, mengundang begitu besar perhatian internasional. Terisolasi dari dunia luar, kisah Darfur seolah hanya berisi ketegangan semata. Namun jarang sekali adanya usaha perdamaian yang dilakukan rakyat sipil, dilirik media atau dunia luar, misalnya kelompok budaya yang mendorong upaya perdamaian.
Darfur, yang berarti Rumah Bangsa Fur, tidak lagi menjadi rumah yang nyaman dihuni ataupun disambangi, sejak memuncaknya konflik di Darfur. Pembagian hasil sumber daya alam dan pembangunan yang timpang, menjadi beberapa pencetus konflik berdarah di wilayah bagian barat Sudan itu. Memuncaknya konflik terjadi tahun 2003, ketika pemerintah pusat melaksanakan perundingan damai dengan pemberontak di selatan Sudan. Nampaknya pemberontak di barat, ingin ikut ambil bagian dalam tatanan kekuasaan di Khartum. Pemberontak di barat menganggap pemerintah mengabaikan kondisi di perbatasan. Kehadiran komunitas nomaden kemudian dimanfaatkan oleh pemerintahan di Khartum untuk memperlemah perlawanan pemberontak dan kaum petani. Pemerintahan di Khartum bahkan mempersenjatai milisi berkuda keturunan Arab, yang dikenal sebagai pasukan Janjaweed, untuk menyerang pemberontak. Pembumihangusan terjadi setelah aksi perampokan dan pembakaran desa-desa yang dihuni oleh petani Afrika, oleh milisi Janjaweed. Darah dan air mata membanjiri Rumah Bangsa Fur.
Terisolasi dari dunia luar, kisah Darfur seolah hanya berisi ketegangan semata. Namun jarang sekali adanya usaha perdamaian yang dilakukan rakyat sipil, dilirik media atau dunia luar, misalnya kelompok budaya yang mendorong upaya perdamaian.
Matahari telah tenggelam ketika di Hajar Sultan digelar pertunjukan drama. Remaja -remaja dari dusun di pergunungan Nuba membuat sandiwara dengan adegan tentang situasi kehidupan mereka di Sudan. Sehar- harinya mereka adalah petani. Di padang savana mereka menanam tomat dan terong dengan teknik abad lama yang telah mereka pelajari. Mereka hidup di masyarakat yang besar dan saling membantu satu sama lain. Drama itu menceritakan tentang kehidupan sehari-hari masyarakat. Sudah lama manusia Nuba hidup harmonis dengan tetangga mereka. Namun pada suatu hari orang Badui dari Arab melewati daerah mereka, dan tiba-tiba terjadilah pertikaian. Salah satu dari penduduk itu meninggal. Babak pertama di bagian theater ini membahas konflik para petani Afrika dengan orang Badui keturunan Arab itu. Tetapi penyelesaian perkelahian ini diserahkan kepada penonton. Menurut konsep sandiwara dari Augusto Boal yang berasal dari Brasil, drama ini dapat menjadi prakarsa untuk berdiskusi. Sedangkan Tarek Mohammed, aktor dan pemimpin teater mengatakan bahwa akhir drama tidak harus mengikuti acuan yang ditentukan sutradara. Tarek Mohammed datang ke Hajar Sultan sebagai pelatih teater international di daerah-daerah yang konflik untuk melatih para remaja bermain teater. Ia menceritakan konsep bimbingannya.“Teater tidak akan menyelesaikan suatu perkara, tetapi menggambarkannya. Menurut Augusto Boal, masyarakat dengan sendirinya harus juga memecahkan dan mempertimbangkan persoalan itu.“
Setelah membahas perkara masa lalu, babak drama berikutnya mengandung masa depan. Apa yang akan terjadi, jika penduduk yang telah diusir dari Khartum dan yang telah melarikan diri ke negara-negara lain kembali lagi ke Hajar Sultan? Apakah warga kota akan berlaku arogan dan sinis terhadap rakyat desa? Apakah mereka akan bisa bertani dan berternak kembali? “Para remaja itu juga akhirnya yang mencari jalan keluar untuk memecahkan masalah. Untuk mereka, air bersih tetap menjadi masalah utama. Bagaimana caranya untuk menolong mereka? Dan bagaimana memadu mereka kembali?” Dengan sandiwara ini juga Tarek Mohammed mencoba menolong para rakyat desa untuk mengobati luka dan duka mereka sehingga bersemangat kembali untuk hidup.
Lewat budaya, para penggiat seni berharap masyarakat dapat merenungkan dan mencari jalan keluar dari konflik yang mendera mereka bertahun-tahun. Hingga kini Sudan masih merupakan negara yang panas sengketa. Berbagai upaya memang telah dilakukan untuk mencapai perdamaian. Termasuk yang diusahakan oleh dunia luar. Contohnya lewat pengiriman pasukan perdamaian yang baru-baru ini disahkan Dewan Keamanan PBB. 26 ribu anggota pasukan perdamaian dari 13 negara, delapan diantaranya dari negara-negara di Afrika sudah menyangggupi untuk terjun ke Darfur. Paling lambat akhir tahun ini mereka mulai bertugas. Sementara baru-baru ini digelar sebuah konferensi untuk perdamaian Darfur di Tanzania. Beberapa pemimpin kelompok pemberontak dipertemukan dengan pemerintah Sudan, dengan dimediasi oleh Perserikatan Bangsa-bangsa PBB dan Uni Afrika. Pembicaraan damai akan dimulai dua hingga tiga bulan mendatang. Perkembangan positif ini meniupkan sedikit angin segar bagi perdamaian di Darfur. Jan Eliasson , Utusan Khusus PBB untuk Darfur mengatakan: „Saya mengatakan ini adalah hal penting untuk maju selangkah. Satu dari masalah utama adalah mencapai negosiasi dari pihak-pihak yang bertikai dan pemberontak. Namun kenyataannya banyak tokoh pemberontak yang hadir dan membangun kerangka pembicaraan bersama sudah menjadi langkah yang sangat maju.“ Ahmed Hussein Adam, seorang juru bicara kelompok pemberontak yang berpengaruh menilai paling tidak ada titik terang dicapainya kesepakatan dari pihak-pihak bertikai.“Sebenarnya masalahnya adalah rincian konkrit usulan kami untuk perundingan perdamaian. Tentang pembagian kekuasaan, aparat keamanan dan situasi keamanan secara umum. Sekarang kami membicarakan semua itu dengan mitra kami dari gerakan lainnya.“ Namun tidak semua sepikiran sama. Seorang tokoh penting Gerakan Pembebasan Sudan Abdelwahid el Nuur menolak menandatangani kesepakatan selama pembunuhan di Darfur yang dilakukan milisi Arab yang didukung pemerintah Sudan terus berlanjut. Namun juru bicara gerakan Tentara Pembebasan Sudan, Suleiman Jamous, memberi secercah harapan. Meski dengan catatan khusus „Hal itu tergantung dari kesepakatan itu sendiri. Jika hal itu menurut kami cukup, mengapa tidak. Kami harus berupaya sekuat tenaga untuk meraih perdamaian di Darfur.“
Meski banyak pihak turun tangan, namun perdamaian tampaknya sangat tergantung pada rakyat Sudan sendiri untuk membuat Darfur atau Rumah Bangsa Fur menjadi rumah yang nyaman dihuni atau disambangi.