1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Lima Perusahaan Jerman Lirik Indonesia

Ayu Purwaningsih2 September 2008

Lima perusahaan Jerman tertarik menanamkan modal di Indonesia. Ini buah dari temu bisnis bertajuk Recent Development, Prospect and Business Opportunities in Indonesia yang berlangsung di Frankfurt, Jerman, Jumat lalu.

Siemens berminat untuk perluas bisnis di Indonesia
Siemens berminat untuk perluas bisnis di IndonesiaFoto: DW

„Kami bagian dari perusahaan Siemens AG. Kami tertarik mendengar program teknologi know-how mengingat besarnya populasi di Indonesia. Apakah ada investasi menarik tertentu di Indonesia?“ Pertanyaan ini dilontarkan perusahaan Jerman Siemens AG mengenai investasi apa yang kini cocok untuk iklim bisnis di Indonesia, dalam pertemuan bisnis tersebut. Pertemuan ini dihadiri oleh petinggi Badan Koordinasi Penanaman Modal BKPM, perwakilan Bank Indonesia di London, Indover Bank Hamburg, Deutsche Bank dan puluhan perusahaan Jerman.

Alhasil, Siemens AG tertarik untuk memperluas ekspansi bisnis mereka di sektor kesehatan jantung di Indonesia. Demikian diungkapkan kepala BKPM Muhammad Lutfi : „Bila mendapatkan izin dari pemerintah mereka ingin masuk di sektor kesehatan. Terutama untuk kesehatan jantung. Tahun 2006, negara kita mengeluarkan devisa setidaknya 4 milyar dollar AS untuk mendapatkan pelayanan kesehatan di luar negeri.Nah sekarang mereka membawa dokter, teknologi dan uangnya ke Indonesia. Saya sangatmendukung meski peraturan di Indonesia tak mendukung partisipasi asing dalam bidang kesehatan. Namun daripada larinya devisa 4 milyar dollar AS ke luar negeri untuk sektor kesehatan, kita semestinya merancang ulang kebijakan tentang kesehatan.“

Re-Industrialisasi di Indonesia

Selain Siemens AG, perusahaan lainnya yang juga memiliki minat menanamkan uang mereka di Indonesia adalah Green Technology, Terras AG, Ecocap AG dan Stroer Media International. Rata-rata mereka berniat untuk bergerak di bidang teknologi ramah lingkungan yang saat ini menjadi trend di pasar global.

BKPM menyambut baik rencana ini, sebab BKPM sendiri tengah bergerak agresif untuk lebih mengejar investasi industri hilir. Itu sebabnya BKPM mengejar negara-negara industri untuk berinvestasi. Jerman salah satu sasaran, sebab meski angka investasi meningkat, namun masih belum menggembirakan, ujar Muhammad Lutfi :

"Sebenarnya Jerman mempunyai prospek yang sangat baik. Teknologinya yang tinggi bisa mendorong re-industrialisasi di Indonesia. Jerman yang tahun 1990 masuk ke Indonesia, kita mau agar datang kembali ke Indonesia. Ini perjumpaan saya yang ketiga di Jerman. Angkanya membaik namun tak sebaik dibandingkan di negara-negara lain. Saya beri contoh. Ketika saya di Taiwan, tahun 2005 mereka investasi 100 juta dollar AS, tahun berikutnya 200 juta dollar AS, tambah lagi hingga 400 juta dollar AS, terakhir hingga 600 juta dollar AS, kita sudah masuk 5 besar lagi. Nah jadi kita mau lihat apa kejadian di Jerman kok angkanya belum naik. Ini yang ingin kita coba.”

Sebelumnya, juga di tahun ini perusahaan Jerman Bosch juga telah sepakat untuk menanamkan modalnya di Indonesia: “Spare part mobil Jepang hanya bisa untuk mobil Jepang. Spare part Eropa hanya bisa untuk mobil Eropa. Untuk mendatangkan Bosch ke Indonesia ini penting agar dapat menarik mobil-mobil Eropa ke Indonesia.“

Selama ini China masih menjadi pesaing berat untuk memancing investasi. Namun dengan dikeluarkannya peraturan baru di China tentang upah perburuhan BKPM optimistis Indonesia dapat memanfaatkan situasi ini, agar investor asing dapat lebih melirik Indonesia. “China mengeluarkan undang-undang ketenagakerjaan yang akhirnya membuat undang-undang Indonesia tak terlalu buruk, sehingga kita berhasil mengalihkan investasi dari China di sektor industri sepatu, sebesar 150 juta dollar AS. Hasilnya menyerap setidaknya 40 ribu tenaga kerja baru.”

BKPM Siapkan Aturan Investasi Pelayanan Satu Pintu

Sementara untuk mengatasi kendala birokrasi dan menghindari tumpang tindih kebijakan investasi antara lokal dan pusat, saat ini pemerintah tengah mengusahakan dibuatnya peraturan presiden untuk mengatasi hal tersebut. M. Lutfi mengatakan: “BKPM tengah menyelesaikan perpres pelayanan satu pintu, yang mengatur bagaimana koordinasi antara pusat dan daerah. Kalau dulu tak pernah jelas , syaratnya apa, bagaimana pelaksanaannya, berapa lama pelaksanaannya, berapa ongkosnya dll. Ini yang kita urus. Untuk itu kita buat agar orang tahu berapa lama untuk mendapatkan izin dan berapa ongkosnya. Di beberapa daerah sudah berubah mindsetnya.”

Meski begitu banyak tawaran menggiurkan yang dijajakan pemerintah Indonesia, masalah sosial masih menjadi salah satu hambatan untuk meluaskan pasar. Presiden Direktur PT Echo Luftfarth und Maschinen International yang bergerak di bidang ekspor impor mengungkapkan bahwa kesenjangan sosial ekonomi di Indonesia meski tak menakutkan sewaktu-waktu dapat menjadi potensi berbahaya: "Dulu kesenjangan tak banyak, tapi sekarang sangat jauh. Namun masih di tahun-tahun ke depan, tiga sampai lima tahun lagi, ini seharusnya bisa teratasi. Bila dollar AS naik, maka keadaan lebih baik. Jika nilai dolar turun, maka semua hal juga jatuh. Yang berkuasa yang sudah memiliki banyak uang ingin memiliki lebih banyak lagi. Ada juga rebutan kue porsi, yang biasa disebut metode mafia.”

Untuk itu menurutnya pemerintah Indonesia juga perlu memfokuskan perhatian mengatasi kesenjangan sosial ekonomi, dalam mendorong investasi di Indonesia. (ap)













Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait