Lima tahun lalu, Jerman menerapkan langkah-langkah ketat untuk menekan penyebaran COVID-19. Hampir semua toko, bisnis, dan sekolah ditutup. Hingga kini, masyarakat masih terpecah dalam menilai cara penanganan tersebut.
Penerapan lockdown COVID-19 membuat toko-toko di mal terbesar di Berlin tutupFoto: Odd Andersen/AFP/Getty Images
Iklan
Langkah-langkah karantina untuk menangani COVID-19 pertama kali diberlakukan di Jerman pada Minggu, 22 Maret 2020. Selama sekitar tiga tahun, berbagai tingkat pembatasan sosial diterapkan di seluruh dunia. Meski begitu, hampir tujuh juta orang meninggal akibat virus ini.
Di Jerman, ada 187.000 kasus kematian yang terkait dengan virus corona, baik secara langsung maupun tidak langsung. Salah satu pembatasan yang diberlakukan untuk menangani COVID-19 adalah kewajiban memakai masker di beberapa tempat. Aturan ini berakhir pada April 2023.
Namun, penyakit ini kini belum sepenuhnya lenyap. Virus terus bermutasi dan menginfeksi orang, meski sekarang dampaknya bagi kebanyakan orang tidak lagi sebesar dulu.
Banyak orang masih mengalami dampak jangka panjang yang dikenal sebagai post-COVID-19 atau long COVID-19. Selain itu, belum ada evaluasi menyeluruh terhadap pandemi, baik di masyarakat maupun dalam dunia politik. Salah satu tokoh yang telah lama mengkritisi hal ini adalah Presiden Jerman, Frank-Walter Steinmeier.
"Rakyat Jerman mengharapkan kita untuk menelaah secara mendalam masa-masa tersebut," ujar Presiden dalam diskusi meja bundar yang ia prakarsai mengenai dampak dan pelajaran yang bisa dipetik dari pandemi COVID-19.
"Saya rasa sangat penting untuk menciptakan transparansi agar kita bisa merangkul kembali sebanyak mungkin orang yang selama pandemi meragukan demokrasi dan institusi kita," tegas Steinmeier.
Lima Tahun Sejak Pandemi, COVID-19 Masih Jadi Momok
Organisasi Kesehatan Dunia melaporkan lebih 7 juta orang meninggal akibat COVID-19. Lima tahun setelah pecahnya pandemi, pemimpin dunia dan masyarakat masih harus menghadapi dampaknya.
Foto: LUIS TATO/AFP/Getty Images
Situasi darurat global
Desember 2019, penyakit paru-paru baru didiagnosis di Wuhan, Cina dan menimbulkan kematian. Dalam beberapa minggu, virus corona baru memicu tantangan global: Tanggal 11 Maret 2020, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan COVID-19 sebagai pandemi. Otoritas kesehatan dengan cepat mengembangkan tes usap untuk mendiagnosis penyakit ini, dalam foto sedang dilakukan oleh tenaga medis di Beijing
Foto: NOEL CELIS/AFP/Getty Images
Petugas medis bekerja hingga lewat batas
Dengan cepat menjadi jelas bahwa COVID-19 sering kali berakibat fatal, terutama bagi warga lanjut usia atau mereka yang sebelumnya memiliki catatan kondisi medis. Tenaga medis seperti perawat ini di Brussels ini bekerja hingga kelelahan. Fakta bahwa virus ini terus bermutasi selama pandemi, menambah tantangan dunia medis.
Foto: ARIS OIKONOMOU/AFP/Getty Images
Sistem kesehatan nyaris ambruk
Jumlah pasien yang sangat banyak membuat banyak rumah sakit mencapai batasnya. Di rumah sakit di kota Chongqing, Cina, Desember 2022 tempat tidur dijejali di lobi rumah sakit. Di India, sistem kesehatan nyaris ambruk, dengan orang-orang yang putus asa menunggu di luar fasilitas kesehatan yang penuh sesak. Saat itu India mencatatkan 2.000 kematian per hari akibat COVID-19.
Foto: NOEL CELIS/AFP/Getty Images
Italia kewalahan
Di Eropa, Italia terdampak sangat berat. Akhir Maret 2020, truk militer mulai mengangkut korban meninggal COVID-19 di Bergamo ke krematorium di sekitar area, karena fasilitas di kota tersebut sudah kelebihan beban. Lombardy pernah mencatatkan 300 kasus kematian hanya dalam satu hari.
Foto: MIGUEL MEDINA/AFP/Getty Images
Masker: Repot tapi perlu
Kala itu, sulit membayangkan kehidupan sehari-hari tanpa masker wajah, yang sangat penting untuk membantu membatasi penyebaran virus. Di awal pandemi, masker dijahit dari kain, tetapi masker N95 segera menjadi standar. Di banyak tempat, memakai masker di tempat umum menjadi kewajiban selama dua tahun lebih. Peneliti menegaskan, masker yang dipakai dengan baik, membantu mengurangi sebaran infeksi
Foto: MAHMUD HAMS/AFP/Getty Images
Sepinya jalanan bagai dikota hantu
Jalanan New York sepi sejak tahap awal pandemi. Hampir semua negara menerapkan pembatasan kontak dan lockdown (penguncian) panjang untuk melindungi orang dari virus. Tempat penitipan anak dan sekolah sebagian besar tetap tutup, begitu juga kafe, restoran, pub, kolam renang, dan salon rambut. Di mana-mana orang berusaha bekerja dari rumah.
Foto: TIMOTHY A. CLARY/AFP/Getty Images
"Bye, bye" kehidupan sosial
Pandemi memaksa banyak bisnis terhenti. Perdagangan dan perekonomian runtuh, dan kehidupan sosial terputus di mana-mana, sehingga menyebabkan krisis keuangan global. Bahkan setelah pembatasan dilonggarkan, langkah-langkah perlindungan tetap diberlakukan, misalnya pemakaian layar pembatas plastik di toko dan restoran, seperti yang terlihat di ibu kota Thailand, Bangkok
Foto: MLADEN ANTONOV/AFP/Getty Images
Atur jarak, jangan derkat-dekat, ah!
Di Mission Dolores Park, San Francisco, lingkaran di rumput menunjukkan seberapa dekat orang diperbolehkan duduk, jarak tersebut dimaksudkan untuk meminimalkan risiko infeksi. Meskipun infeksi menurun selama bulan-bulan musim panas, langkah-langkahhigiene, dengan jaga jarak sering kali tetap ketat. Di beberapa negara, orang bahkan tidak diperbolehkan meninggalkan rumah mereka.
Foto: JOSH EDELSON/AFP/Getty Images
Antre vaksinasi
Agustus 2021, para warga India akhirnya bisa divaksinasi dengan vaksin Covishield. Di Uni Eropa, vaksin COVID-19 pertama dari BioNTech/Pfizer tersedia akhir 2020. Lalu, vaksin dari Moderna dan AstraZeneca disetujui melalui prosedur percepatan. Orang lanjut usia dan sakit, dan tenaga kesehatan, menjadi yang pertama divaksin. Banyak negara miskin harus menunggu lebih lama untuk mendapatkan vaksin.
Foto: DIPTENDU DUTTA/AFP/Getty Images
Dilarang biar aman, malah protes
Langkah-langkah ketat untuk memperlambat sebaran COVID-19 mendapat penolakan dari beberapa kalangan di seluruh dunia, seperti yang terlihat di Paris pada September 2021. Di banyak negara, termasuk Jerman, ekstremis sayap kanan menyusup ke dalam protes tersebut. Teori konspirasi jadi bagian tak terpisahkan dari oposisi menentang kebjiakan resmi dan vaksin. Virus corona diklaim 'senjata biologis.'
Foto: BENOIT TESSIER/REUTERS
Balik lagi ke sekolah
Di Jerman, anak-anak kembali ke sekolah setelah liburan musim panas 2020, setelah berbulan-bulan belajar di rumah akibat lockdown (penguncian). Homeschooling menjadi ujian berat bagi orang tua dan siswa, dan menurut studi, bahkan lima tahun setelah pandemi dimulai, banyak anak dan remaja masih menderita kesepian dan masalah kesehatan mental.
Foto: INA FASSBENDER/AFP/Getty Images
Kompetisi tanpa sorak sorai
Pada Juli 2021, para pesepeda ini menunjukkan keterampilan mereka di Olimpiade Tokyo, namun hampir tidak ada yang bisa mendukung mereka. Setelah pecahnya pandemi, acara olahraga yang awalnya direncanakan pada 2020 ditunda setahun — namun virus corona masih menguasai dunia setahun kemudian. Akibatnya, Olimpiade Musim Panas digelar di depan tribun yang sebagian besar kosong.
Foto: LIONEL BONAVENTURE/AFP/Getty Images
Berakhir dengan kewaspadaan
Organisasi Kesehatan Dunia WHO mengakhiri keadaan darurat kesehatan internasional 5 Mei 2023, namun menyatakan virus corona tetap berbahaya. Menurut WHO, sekitar 7 juta orang dipastikan meninggal akibat COVID-19, namun perkiraan lain menyebutkan jumlah totalnya mencapai 20 juta. Di London, simbol hati merah digunakan untuk memperingati orang-orang yang meninggal akibat COVID-19.
Foto: JUSTIN TALLIS/AFP/Getty Images
13 foto1 | 13
Masih banyak pertanyaan
"Apa peran politik, apa peran saran ilmiah? Apakah penutupan sekolah secara luas diperlukan? Apakah pembatasan hak-hak dasar seperti kebebasan berkumpul tidak dapat dihindari? Apakah diskusi yang kami lakukan di Jerman tentang vaksinasi wajib lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya? Peran apa yang dimainkan oleh politik, peran apa yang dimainkan oleh saran ilmiah, dan peran apa yang harus mereka mainkan dalam situasi serupa di masa depan?”
Ayo berlangganan newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!
Steinmeier menerima jawaban dari para tamu yang berasal dari berbagai bidang: Kedokteran, pendidikan, penelitian, olahraga, budaya, dan politik. Maxi Brautmeier-Ulrich adalah kepala sekolah dasar di Paderborn, negara bagian Nordrhein-Westfalen. Seperti banyak peserta lain dalam panel, ia berbicara tentang kreativitas yang memudahkan pelajaran digital pada masa-masa awal. Namun pada titik tertentu, ia menemui kesulitan.
"Anak-anak dan remaja sangat menderita,” kata guru tersebut. Dia masih melihat dampaknya hingga saat ini. Kepercayaan terhadap sekolah dan sistem pendidikan rusak secara permanen. Ini karena keluarga tiba-tiba harus melakukan banyak hal secara mandiri, selain bekerja.
Siswa bermasker menuju kelas di SD Petri, Dortmund, saat sekolah di Nordrhein-Westfalen dibuka kembali dengan protokol ketat usai liburanFoto: INA FASSBENDER/AFP/Getty Images
Mayoritas yang meninggal berusia 80 tahun ke atas
Astrid Thiele-Jerome mengelola sebuah panti jompo di distrik Warendorf, Nordrhein-Westfalen. Dia melihat banyak orang meninggal selama fase terburuk pandemi. Hampir sebagian besar dari 187.000 orang yang meninggal di Jerman berusia 80 tahun atau lebih. Dalam beberapa kasus, anggota keluarga tidak diizinkan masuk ke rumah. Ini adalah sesuatu yang masih dirasakan oleh Thiele-Jerome hingga saat ini. Bahkan para pegawainya pun tidak dapat memahami hal ini.
"Jika saya diizinkan masuk ke kamar dengan pakaian pelindung, masker, pelindung wajah saya, lalu mengapa keluarga saya tidak bisa?” tanya staf perawat.
"Akhirnya kami membuka jendela dan membiarkan mereka masuk ke dalam untuk mengucapkan selamat jalan,” tambahnya.
Namun, hal ini hanya mungkin dilakukan karena jendela besar di lantai pertama panti jompo tersebut lsampai ke lantai.
Iklan
Brandenburg membentuk komisi penyelidikan
Masih dalam pertemuan dengan Steinmeier, satu kata yang sangat sering dilontarkan adalah "solidaritas”. "Sungguh luar biasa,” kata Thiele-Jerome, mengenang solidaritas timnya, yang bekerja selama 12 jam dalam satu shift untuk merawat para lansia. Steinmeier juga berulang kali memuji betapa luasnya solidaritas di Jerman.
Seorang perawat merawat pasien COVID-19 di ICU rumah sakit universitas di Essen, Jerman, pada 22 Maret 2021Foto: Ina Fassbender/AFP/Getty Images
Pada saat yang sama, ia berulang kali menegaskan betapa pentingnya baginya untuk melihat kembali ke belakang secara kritis. Dia mengatakan bahwa dia percaya bahwa sangat penting untuk memeriksa apa yang berjalan dengan baik dan apa yang kurang baik.
Namun, perlu diingat bahwa banyak keputusan saat itu diambil berdasarkan informasi yang tersedia pada waktu itu.
"Tujuan utamanya selalu satu: menyelamatkan sebanyak mungkin nyawa. Secara keseluruhan, kita berhasil melakukannya," pungkasnya.
Negara bagian Brandenburg telah membentuk komisi penyelidikan untuk meninjau penanganan pandemi. Komisi ini terdiri dari anggota parlemen, perwakilan pemerintah daerah, serta para ahli dari komunitas ilmiah.
"Jika kita tidak berdamai dengan situasi ini, maka akan terlalu banyak hal yang ditekan dan diabaikan," kata Steinmeier memperingatkan. Menurutnya, apa yang tidak dibahas secara terbuka justru memberi ruang bagi teori konspirasi dan memperbesar ketidakpercayaan, yakni dua hal yang berbahaya bagi demokrasi.
"Keduanya menguntungkan para populis, dan kita tidak boleh membiarkan itu terjadi," tegasnya.