Lipstick Effect: Pelarian di Tengah Ketidakpastian Ekonomi
29 Juli 2026
Antrean panjang masih mengular di sebuah gerai camilan kekinian di area perbelanjaan Blok M, Jakarta Selatan. Tidak hanya itu, gerai lain yang menjual pernak-pernik macam anting dan gelang imitasi juga terlihat diserbu oleh anak-anak muda kisaran 18-35 tahun.
Beberapa dari mereka mengaku FOMO (fear of missing out). Sebagian lagi menyebut aktivitas belanja mereka sebagai "healing" untuk menghilangkan stres.
Pemandangan ini terasa bertolak belakang dengan kondisi ekonomi. Saat ini Indonesia sedang menghadapi pelemahan rupiah, kenaikan harga energi akibat perang di Timur Tengah, dan biaya hidup yang terus merangkak naik. Sementara, upah nyaris stagnan. Namun, gerai-gerai belanja tetap ramai.
Menikmati "kemewahan kecil" sebagai pelarian?
Dilla dan Diky juga merasakan hal yang sama. Pasangan muda yang berdomisili di Jakarta Barat ini lebih memilih untuk menyewa sebuah kos, ketimbang mencicil rumah. Mereka menilai hitungannya terasa tak masuk akal.
“Dalam situasi ekonomi saat ini tidak memungkinkan kami untuk membeli rumah. Dolar yang menguat, suku bunga naik, otomatis KPR (Kredit Pemilikan Rumah) juga terus naik, bila kami mencicil rumah akan merepotkan,” ujar Diky.
Sementara istrinya, Dilla, mengalokasikan sebagian besar pendapatan keluarga untuk kebutuhan sehari-hari. Tak lupa juga mengalokasikan sisanya untuk sekadar menjaganya tetap "waras" dan menghilangkan penat lewat belanja kosmetik atau menikmati kopi di kafe.
“Kita sekarang YOLO (you only live once) saja," kata Dilla. "Belum memikirkan untuk kebutuhan yang lebih besar. Kondisinya lebih ke mode bertahan hidup.”
Apa yang dilakukan Dilla tak jauh berbeda dengan Besse, seorang pekerja gen Z yang baru memulai kariernya di sebuah instansi pemerintahan.
Ia mengaku pendapatannya yang masih relatif belum besar. Namun, Besse rela menabung, bukan untuk dana darurat atau investasi, melainkan untuk menonton konser idola K-pop favoritnya yang akan tampil di Indonesia di akhir tahun nanti.
“Aku khusus menabung dari tahun lalu untuk membeli tiket konser BTS. Entah kapan lagi soalnya mereka datang ke Indonesia,” katanya.
Lipstick Effect: Ketika punya rumah mustahil, skincare bisa jadi pelarian
Ekonom dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (UI), Teuku Riefky, menjelaskan bahwa fenomena ini bisa mengarah pada fenomena lipstick effect yang berujung dapat menyebabkan doom spending.
Menurutnya, lipstick effect terjadi saat daya beli terhadap kebutuhan besar, seperti rumah atau kendaraan, menurun. Sehingga, masyarakat mengalihkan belanja untuk memenuhi hasrat dan lebih memilih menghilangkan penat secara instan, misalnya dengan membeli kosmetik, kopi, dan aksesoris.
“Sedangkan doom spending adalah perilaku berbelanja tanpa memikirkan kondisi mendatang dan lebih mengutamakan kepuasan batin,“ ungkap Riefky.
Gejala ini, menurut Riefky, terjadi pada kelompok masyarakat yang sudah tidak punya harapan untuk menabung. Sehingga mereka lebih memilih menggunakan pendapatannya untuk menghilangkan stres.
Kerentanan ekonomi Indonesia jadi penyebabnya?
Tren melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih bertahan sejak awal tahun 2026. Ditambah, konflik global berkepanjangan yang juga membuat harga energi semakin tinggi. Implikasinya, biaya hidup merangkak naik. Di sisi lain, pendapatan masyarakat juga relatif stagnan.
Riefky merujuk pada data BPS (Badan Pusat Statistik), "Walaupun pertumbuhan ekonomi Indonesia masih di kisaran 5%, tapi upah riil masyarakat hanya tumbuh tidak sampai 1%.” Artinya, meski kue ekonomi tumbuh, tapi irisan yang sampai ke tangan pekerja hampir tak berubah.
Faktor utamanya, menurut Ekonomi UI itu, adalah kesulitan pemerintah menciptakan lapangan kerja berkualitas.
“Banyak masyarakat yang tadinya bekerja di sektor manufaktur, pengolahan atau pertanian yang beralih ke sektor informal menjadi pengemudi angkutan daring atau berdagang. Ini yang menyebabkan daya beli terus menurun karena penghasilan mereka yang stagnan,” ungkapnya kepada DW Indonesia.
Bukan sekadar uang, ada emosi dan dampak media sosial
Selain tekanan ekonomi, perencana keuangan Safir Sanduk menilai, ada faktor lain yang membuat generasi muda rentan terhadap doom spending, yaitu cara mereka mengelola emosi dan tekanan.
“Pengendalian emosi dan stres anak muda berbeda dengan generasi yang lebih tua. Kurangnya pengalaman dalam mengelola keuangan membuat mereka kadang tidak tahu batasan," katanya.
Selain itu, media sosial juga menjadi mendorong pola konsumsi anak muda.
“Media sosial kadang menjadi racun, bila tidak hati-hati kita mudah membandingkan hidup kita dengan orang lain, sementara kita memiliki kemampuan finansial dan kebutuhan yang berbeda-beda.” pungkas Safir.
Sementara, perencana keuangan Ligwina Hananto, menganggap berbelanja untuk kepuasan batin itu wajar dan manusiawi.
"Semua orang punya kebebasan dalam mengeluarkan uangnya sendiri. Tidak ada larangan apa pun," ujarnya. "Tapi konsekuensinya yang perlu diwaspadai. Bila tren ini berlanjut, harus tahu akan dibawa ke mana."
Menikmati hidup, lalu apa?
Dalam ketidakpastian situasi ekonomi, Safir menyarankan untuk berhenti atau kurangi pengeluaran konsumtif, terutama yang melibatkan cicilan. "Hindari pembelian barang dengan angsuran yang bisa menyebabkan gagal bayar di tengah keadaan ekonomi yang tidak pasti," tegasnya.
Sementara, Ligwina menambahkan dua hal yang sering terlupa saat orang sibuk healing, dana darurat dan asuransi kesehatan.
”Dana darurat itu minimal jumlahnya empat kali dari total pengeluaran bulanan kita. Sementara, asuransi kesehatan yang memadai dapat mengantisipasi kita dalam mengeluarkan uang untuk keperluan kesehatan yang besar seperti operasi dan terpaksa mengambilnya dari tabungan.”
Meski demikian Ligwina tahu bahwa lipstick effect tidak bisa dihilangkan begitu saja. Karena orang butuh bernapas. Sarannya, sediakan rekening khusus untuk gaya hidup.
"Sehingga kita tidak langsung mengeluarkan pendapatan, tapi menyisihkan dulu dalam rekening tersebut untuk kegiatan melepas penat. Pelan-pelan akan terlatih untuk menabung demi keperluan yang lebih besar di masa mendatang,” katanya.
Meski masih menikmati "kemewahan-kemewahan kecil", tapi Dilla dan Diky juga tak lupa menyiasati pengelolaan keuangannya.
Misalnya, "kalau ada konser tapi harga tiketnya terlalu mahal, lebih baik menunda. Sama halnya dengan jajan. Walaupun bisa membeli kopi Rp50.000, sekarang tidak masalah beli yang Rp5.000 atau Rp10.000," ungkapnya.
Sementara, Dilla juga sudah menyisihkan 10% pendapatan keluarga untuk membeli logam mulia. "Karena kami cukup konservatif, sepertinya emas akan stabil untuk jadi simpanan. Tidak hanya sekadar menabung," katanya.
Di sisi lain, Besse juga sebenarnya punya kegelisahannya sendiri. Sebagai pekerja baru, ia sadar pengeluaran terbesarnya saat ini hanya untuk hiburan, seperti skincare dan konser. "Sadar akan ada tanggungan lain di kemudian hari, ditambah harga kebutuhan pokok terus naik, sepertinya akan lebih banyak menabung dan mulai berinvestasi," ujarnya.
Pentingnya meningkatkan lapangan kerja berkualitas
Lalu apa yang perlu dilakukan pemerintah dalam menyikapi fenomena ini? Riefky menekankan kuncinya adalah penyediaan lapangan kerja yang berkualitas.
“Pemerintah seharusnya membuat iklim investasi menjadi lebih kondusif agar pelaku usaha dapat melakukan ekspansi sehingga terciptalah lapangan kerja dengan jenjang karir yang berkualitas," jelas ekonom LPEM UI itu.
Menurut Riefky, bila masyarakat sudah merasa mendapatkan pekerjaan yang berkualitas dengan pendapatan yang lebih baik maka akan terjadi pergeseran pola konsumsi.
"Kalau masyarakat sudah merasa upahnya meningkat, ada kesempatan promosi di kantor hingga taraf hidupnya meningkat maka pola spending seperti lipstick effect ini akan bergeser sehingga mereka akan mulai menabung dan berinvestasi."
Editor: Tezar Aditya dan Prihardani Purba