Bagaimana Integrasi Pengungsi di Jerman setelah Satu Dekade?
29 Agustus 2025
"Kita bisa melakukannya.” Kalimat tersebut jadi simbol global keterbukaan Jerman terhadap para pengungsi. Kalimat tersebut diucapkan Kanselir Jerman, Angela Merkel (CDU), di puncak krisis pengungsi di Eropa saat musim panas, tahun 2015. Saat itu, ratusan ribu orang sedang dalam perjalanan menuju Jerman dari Suriah, Afghanistan, dan Irak.
Mereka disambut dengan gelombang solidaritas dan bantuan. Namun, 10 tahun kemudian, suasana di Jerman telah berubah - sarat skeptisisme dan penolakan. Imigrasi jadi topik yang menyulut emosi.
Sebuah penelusuruan berbasis data terangkum dalam 10 pertanyaan dan jawaban - memberi gambaran seberapa berhasilkah integrasi para pengungsi di Jerman dan bagaimana mereka mengubah Jerman.
1) Berapa banyak orang yang datang ke Jerman mencari suaka?
Pada tahun 2015 dan 2016, total 1,2 juta orang datang ke Jerman dan mengajukan permohonan suaka. Pada tahun-tahun berikutnya, jumlah pemohon suaka menurun secara signifikan.
Dibandingkan negara Uni Eropa (UE) lainnya, Jerman menerima pencari suaka paling banyak.
Namun, permohonan suaka tidak secara otomatis diterima dan berbuah izin tinggal. Rata-rata, dalam 10 tahun terakhir, Jerman menyetujui 56% permohonan suaka tingkat pertama - 1,5 juta orang mendapat hak untuk tinggal di negara tersebut.
Undang-undang Jerman menjamin pemberian suaka secara hukum bagi orang-orang yang mengalami penindasan politis dan orang-orang dengan status "perlindungan subsidiari” (dikarenakan perang di negara asal). Secara keseluruhan, sekitar 3,5 juta orang yang mencari perlindungan tinggal di Jerman saat ini.
2. Dari mana asal orang-orang yang mencari suaka di Jerman?
Pada tahun 2015 dan 2016, sebagian besar orang yang mencari suaka di Jerman berasal dari Suriah, Afganistan, dan Irak; negara-negara yang selama bertahun-tahun dilanda perang dan konflik.
Setengah dari semua warga Suriah yang tinggal di Jerman, datang antara tahun 2014 - 2016 akibat perang sipil. Seperlimanya telah menjadi warga negara Jerman dan satu dari sepuluh pengungsi tersebut lahir di Jerman.
Sejak invasi Rusia ke Ukraina di tahun 2022, banyak orang Ukraina mengungsi ke Jerman. Saat ini, sekitar 1,3 juta orang yang mencari suaka di Jerman berasal dari Ukraina.
3. Pria, perempuan, anak-anak: siapa saja yang mencari perlindungan di Jerman?
Dari 1,2 juta orang yang mencari perlindungan di Jerman pada tahun 2015 dan 2016, sekitar setengahnya (564.400 orang) berusia antara 18 dan 34 tahun, tiga perempat dari jumlah tersebut adalah pria.
Jika seseorang diakui untuk mendapat perlindungan dan dianggap sebagai pengungsi, hak perlindungan ini juga berlaku bagi pasangan dan anak-anaknya yang masih di bawah umur. Oleh karena itu, jika permohonan disetujui, pasangan atau anak mereka dapat tinggal di Jerman melalui program reunifikasi keluarga.
Antara tahun 2015 dan pertengahan 2017, 230.000 permohonan reunifikasi keluarga disetujui, menurut laporan Asosiasi Kota dan Daerah Jerman (DStGB). Namun mulai Juli 2025 reunifikasi keluarga ditangguhkan selama dua tahun bagi pengungsi dengan status perlindungan terbatas.
4. Seberapa baik integrasi pengungsi saat ini?
Salah satu indikator terpenting keberhasilan integrasi adalah partisipasi mereka di pasar tenaga kerja. Angka-angka menunjukkan tren positif. Mei 2025, tingkat pengangguran di kalangan pengungsi mencapai titik terendah dan jumlah pekerja capai titik tertinggi jika dibandingkan dengan data pada Januari 2015.
Data tersebut dikumpukan dari orang-orang yang berasal dari delapan negara yang umumnya mencari suaka di Jerman (Afghanistan, Pakistan, Iran, Irak, Suriah, Somalia, Eritrea, dan Nigeria).
Pendapatan bruto bulanan per Mei 2025 untuk seseorang yang mengungsi ke Jerman pada tahun 2015 dan bekerja penuh (40 jam seminggu) adalah €1.600 (Rp 30 juta) sedangkan untuk pekerja paruh waktu adalah €800 (Rp 15 juta).
Sebagai perbandingan, pendapatan bruto bulanan warga Jerman yang bekerja penuh pada tahun 2015 adalah €3.771 (Rp 71 juta).
5. Seberapa baik pengungsi belajar bahasa Jerman?
Indikator lain keberhasilan atau kegagalan integrasi adalah penguasaan bahasa Jerman.
Terdapat perbedaan signifikan berdasarkan gender dalam mempelajari bahasa baru. Menurut survei pengungsi pada tahun 2020, 34% perempuan memiliki pengetahuan bahasa Jerman yang solid (tingkat sertifikat B1). Pada laki-laki, angkanya mencapai 54%. Hal ini tercermin dalam angka pasar tenaga kerja. Meskipun seringkali juga memiliki kualifikasi yang baik, perempuan lebih jarang mendapatkan pekerjaan.
6. Berapa banyak pengungsi yang telah menjadi warga negara Jerman?
Sejak 2016, sekitar 414.000 orang dari 8 negara yang umum mengajukan suaka telah menjadi warga negara Jerman. Dari jumlah tersebut, 244.000 berasal dari Suriah.
"Beberapa pengungsi Suriah mempertimbangkan untuk kembali ke Suriah karena rezim Assad telah digulingkan, meskipun mereka mungkin sudah menjadi warga negara Jerman. Seringkali mereka memutuskan untuk tetap tinggal karena telah membuka bisnis, sudah menetap, atau karena anak-anak yang bersekolah di Jerman," kata peneliti imigrasi, Hannes Schammann, dari Universitas Hildesheim.
7. Berapa biaya yang dikeluarkan Jerman untuk menampung begitu banyak pengungsi?
Perkiraan biaya yang dikeluarkan Jerman untuk menampung pengungsi bervariasi—tergantung pada metode perhitungan yang digunakan. Biaya berkisar antara €5800 miliar (Rp 110 kuadriliun). Namun pengungsi juga dapat membuat penghematan anggaran tersebut hingga €95 miliar (Rp 1,8 kuadriliun), lewat pemasukan yang mereka berikan.
Jerman mengeluarkan €30 miliar (Rp 570 triliun) untuk pengungsi pada 2023, terutama untuk bantuan sosial. Lonjakan terjadi sejak 2022 karena pengungsi Ukraina turut mendapat tunjangan dasar.
Meskipun jumlah warga Jerman yang menerima bantuan sosial berkurang, warga Jerman tetap menjadi kelompok terbesar (52%) yang menerima bantuan dasar ini.
8. Bagaimana perubahan suasana di Jerman?
Meskipun pada Januari 2015 sebagian besar warga Jerman cukup terbuka untuk menerima pengungsi, 10 tahun kemudian survei menunjukkan bahwa 68% responden berpendapat bahwa Jerman seharusnya menerima lebih sedikit pengungsi.
Pada tahun 2023, sebuah studi yang dilakukan Bertelsmann Stiftung menemukan bahwa imigrasi mulai dipandang secara negatif. Menurut laporan tersebut, 78% responden menyebutkan beban tambahan pada sistem kesejahteraan negara dan 73% menyebutkan konflik antara warga Jerman asli dan imigran. Hanya 63% responden yang setuju bahwa imigrasi penting bagi perekonomian.
9. Apakah ada risiko kejahatan yang lebih tinggi di kalangan pengungsi dan pencari suaka?
Beberapa kasus kejahatan dengan kekerasan yang dilakukan oleh mereka yang mengungsi ke Jerman telah berkontribusi pada perubahan suasana sosial, ketakutan yang lebih luas terhadap terorisme pun meningkat.
Ketakutan inilah yang digunakan partai sayap kanan anti-imigrasi Alternative für Deutschland (AfD) untuk mendulang dukungan politik. Meskipun intelijen dalam negeri Jerman telah mengklasifikasikan sebagian dari partai tersebut sebagai kelompok ekstremis, AfD secara keseluruhan kini menjadi partai terbesar kedua di Bundestag, parlemen Jerman.
Statistik kriminal kepolisian menunjukkan bahwa orang non-Jerman menjadi tersangka dalam sekitar 35% dari semua kasus, meskipun mereka hanya mewakili sekitar 15% dari total populasi. Namun, menurut para ahli, statistik tersebut tidak secara definitif menunjukkan apakah pengungsi, secara umum, lebih sering melakukan kejahatan daripada warga Jerman.
Gina Wollinger, kriminolog HSPV NRW di Köln, mencatat bahwa orang non-Jerman, atau orang yang dianggap asing lebih sering dilaporkan ke pihak berwenang. "Orang-orang yang mengungsi ke Jerman juga bukan representasi yang akurat dari komunitas asal mereka. Sebagian besar dari adalah pria muda. Dan kita tahu bahwa kedua karakteristik tersebut, muda dan laki-laki kerap diasosiasikan dengan kejahatan dan kekerasan,” kata Wollinger kepada DW.
10. Bagaimana kebijakan imigrasi telah berubah sejak 2015?
Kebijakan imigrasi "Kita bisa melakukannya" Era Merkel telah mengalami perubahan signifikan. Tren ini juga merefleksikan suasana hati para pengungsi: 57% merasa sangat diterima pada tahun kedatangan mereka, tetapi tujuh tahun kemudian hanya 28% yang masih merasakan hal tersebut, menurut laporan dari lembaga penelitian Badan Tenaga Kerja Federal Jerman (BA).
Perubahan politik dimulai dengan cepat, kata Daniel Thym, peneliti migrasi di Universitas Konstanz. "Sejak musim gugur 2015, undang-undang diperketat secara signifikan, manfaat bagi pencari suaka dikurangi, penetapan baru negara asal yang aman, dan reunifikasi keluarga dibatasi.”
Sejak pemerintahan koalisi baru — Partai CDU, CSU, dan Partai Sosial Demokrat — memimpin di tahun 2025, para pembuat undang-undang fokus pada pembatasan dan repatriasi migran, pengetatan kontrol perbatasan dan peningkatan deportasi.
Mengenang seruan Angela Merkel pada 2015, Kanselir saat ini, Friedrich Merz, menyatakan bahwa Jerman " belum berhasil" dalam menangani integrasi pengungsi.
Namun, peneliti migrasi Hannes Schammann berpendapat sebaliknya — "Saya yakin bahwa kita telah sebagian besar mencapai tujuan yang kita harapkan di tahun 2015.” Kini, lebih penting mencari solusi politik yang cerdas dan "tidak terus-menerus melihat ke belakang, melainkan melihat ke depan dan bertanya: bagaimana kita menghadapinya?”
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman
Diadaptasi oleh Sorta Caroline
Editor: Yuniman Farid